
Beberapa bulan telah berlalu. Akram telah menginjak usia sembilan bulan dan harus melaksanakan imunisasi. Sebuah percekcokan kecil terjadi di antara Ala dan Venna.
"Aku gak mau, Ma," ucap Ala kekeuh dengan apa yang ia yakini.
"Ayo lah, Ala. Kenapa setiap jadwal imunisasi, kamu selalu saja mengajak Ama ribut? Apa yang kamu takutkan dengan imunisasi itu? Imunisasi itu bagus buat Akram, apalagi sekarang masuk imunisasi campak, sangat penting!" ucap Ama, sang mertua, memaksa Ala memberikan Akram imunisasi campak.
"Aku hanya ragu dengan bahan dasarnya, Ma. Aku tidak kuat bila Akram harus demam dan sakit setiap selesai disuntik imunisasi," ucap Ala.
"Alaaah, kamu itu ya? Apa kamu mau melawan penemuan medis yang sudah teruji? Imunisasi itu penting untuk melindungi Akram dari penyakit berbahaya. Kamu harus percaya pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dong," Ama mulai merasa gemas dan kesal karena gaya pikir Ala.
Namun, Ala masih tetap teguh pada pendiriannya. "Aku menghargai penemuan medis dan tujuannya untuk melindungi anak-anak dari penyakit. Tapi aku juga ingin mempertimbangkan risiko dan efek samping yang mungkin terjadi pada anakku. Karena aku yang merawatnya. Tak tega rasanya melihatnya menangis berhari-hari usai diimunisasi. Aku ingin mencari informasi lebih lanjut sebelum memutuskan."
Apa yang selama ini berusaha tetap diam akhirnya ikut berbicara, "Ala, Apa mengerti kekhawatiranmu sebagai seorang ibu. Tapi jangan biarkan ketakutan dan kekhawatiranmu menghalangi kebaikan yang bisa diberikan oleh imunisasi. Konsultasikan dengan dokter dan peroleh penjelasan yang lebih detail tentang imunisasi yang akan diberikan pada Akram."
Ala mengangguk, merasa dihargai dan didukung oleh Apa. Dia menyadari bahwa penting untuk mencari informasi yang akurat dan berkonsultasi dengan ahli sebelum membuat keputusan yang berkaitan dengan kesehatan Akram.
Setelah berdiskusi dengan dokter, Ala merasa lebih yakin dan mengerti pentingnya imunisasi untuk melindungi kesehatan Akram. Dia menyampaikan pemahamannya kepada Apa dan Ama, dan akhirnya mereka semua mencapai kesepakatan untuk memberikan imunisasi pada Akram.
__ADS_1
Pada hari yang ditentukan, mereka pergi ke rumah sakit. Ala memegang tangan Akram dengan penuh kasih sayang, memberikan ketenangan dan kenyamanan pada putranya. Saat suntikan imunisasi diberikan, Ala mulai panik karena Akram selalu rewel setelah mendapat suntikan seperti waktu-waktu sebelumnya.
Akram tak berhenti menangis. Tetapi, Rafatar tak ada di sisinya. Yang menemaninya saat ini hanya lah Ama dan Apa mertuanya.
"Coba kamu bawa keluar dulu, siapa tau setelah melihat orang ramai, Akram sedikit lebih tenang," ucap Apa.
"Eleh, ini gara-gara kamu terlalu berlebihan tu mengkhawatirkan Akram. Jika kamu tidak berlebihan tadi, mungkin saja Akram tidak serewel ini."
Ala yang sibuk menenangkan Akram, tak sempat mengambil hati apa yang baru saja diucapkan iibu mertuanya itu. "Sepertinya, Akram harus aku bawa keluar, Pa, Ma." Ala pamit keluar dan mencoba menenangkannya pada sebuah koridor di depan taman kecil.
"Abi, Abi, ... Dari tadi, Adek yang itu nangis terus. Kasian ya Abi?" ucap seorang anak yang mengenakan seragam putih merah.
"Iya, namanya juga bayi, masih banyak menangis," ucap pria dewasa yang dipanggil Abi.
"Tapi, kata Atuk, Aim dulu jarang nangis?" ucap bocah berseragam SD.
"Ah, Atuh bohong tu. Kamu dulu sangat cengeng." Pria itu pun ikut melihat ke arah bayi yang tampak lucu tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba, ia terpana saat melihat siapa ibu dari bayi tersebut. Ia berjalan menggandeng bocah berseragam tadi.
"Assalamualaikum, Humaira," sapanya kepada Ala.
Kepala Ala langsung berputar kepada orang yang menyapanya barusan. "Walaikum salam ..." Wajah Ala tampak sangat terkejut melihat wajah itu.
"Uda Uqi?" Tangan Ala diayunkan tepat di depan mata Syauqi, sang pria yang baru saja menyapanya.
Tangan Ala ditepis oleh Syauqi. "Kamu pasti bingung kan? Alhamdulillah, sekarang aku sudah bisa melihat kembali," ucapnya.
"Oh, maaf Uda. Alhamdulillah, aku turut bahagia mendengarnya."
Dari tempat lain, kedua mertua Ala tengah sibuk mencari sosok menantu yang sedang menenangkan cucunya. Namun, raut wajah Venna mengerut saat melihat Ala sedang berbicara dengan seorang pria.
"Lagi-lagi, anak itu—" ucapnyq geram. Ia segera mengeluarkan ponselnya.
"Biar Fatar tahu apa yang dilakukan istrinya saat dia tak ada! Awas ya! Akhirnya aku bisa membuat Fatar membencinya!"
__ADS_1