Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 14


__ADS_3

Lalu membuang mukanya seakan ia tak mengenal Ala. Ia terus berlalu beriringan dengan gadis itu, membiarkan Ala yang terang-terangan berdiri di sana sendirian.


"U-Uda? Kenapa?" rintihnya.


Ala mengikuti langkah suaminya itu. Ternyata mereka menuju sebuah kafe yang ada di sana. Ala merasa aneh mencoba kembali lewat dengan sengaja berharap sang suami terkejut dan menyadari kehadirannya.


Meskipun mereka duduk dalam posisi yang tidak berdekatan, tetapi mereka saling berhadapan. Tetap saja itu artinya ia tengah berselingkuh dengan wanita lain karena pergi tanpa memberitahukan Ala.


Sudah beberapa kali Ala sengaja bolak balik di sekitar meja mereka, tetapi sikap suaminya masih sama seperti sebelumnya. Laki-laki itu hanya memberikan respon datar.


Merasa putus asa, Ala duduk di meja sebelah suaminya. Ia masih sengaja duduk menampakan wajah. Ingin memanggil sang suami, tetapi mulutnya terasa berat.


"Bang, kenapa? Kenapa kamu memutuskan untuk mengakhiri kisah kita? Apa kamu lupa, beberapa malam lalu kamu berjanji untuk mengakhiri kisah dengannya?" Terdengar suara gadis yang duduk bungkam semenjak tadi di hadapan suaminya.


"Salma, jujur di hatiku hanya ada kamu. Namun, kenyataan berkata lain. Aku sudah menikah."


"Tapi, kamu tidak mencintai dia. Kamu lah yang mengatakan bahwa aku yang selalu kamu sebut di dalam doamu. Hanya aku yang ada di dalam hatimu. Tapi kenapa kamu menginginkan akhiri hubungan kita? Aku tidak keberatan jika hanya menjadi kedua bagimu, asalkan aku tetap memilikimu." Tangis adis berhijab itu meletus dan sangat jelas terdengar oleh Ala.


Perasaan Ala menjadi bergemuruh ketika mendengarnya. Wajahnya merah semu dan tubuhnya bergetar.


🎵la la la🎵

__ADS_1


Perasaan Ala yang tidak karuan menjadi semakin kacau karena ditambah lagi karena adanya suara ringtone pada ponselnya. Kedua orang yang sedang berdebat menatap ke arahnya.


Ala mengannguk kepada dua orang itu. Lalu menjawab panggilan. "Assalamualaikum Wa...." Ala meninggalkan lokasi.


Tanpa ia ketahui, seseorang yang mulai hapal dengan suara itu tertegun. Kepalanya berputar melirik kembali pada gadis yang sedari tadi mondar-mandir di dekatnya. "Humaira?" Syauqi bangkit hendak mengejar gadis tadi.


"Mau ke mana?" tanya Salma mencegat pria itu.


"Sekali lagi maafkan aku. Kita akhiri saja semuanya. Maaf, aku tidak bisa mengantarmu pulang." Syauqi beranjak dan mengejar gadis yang menjawab panggilan tadi.


"Dia, Humaira?" Pria itu mengusap keningnya menghela napa berat. Penglihatannya mulai liar mencari keberadaan gadis tadi. Itu adalah kali pertama dia melihat wajah istrinya. Tampak merah dan sangat sedih.


Di sisi lain, Ala sesegukan dalam rangkulan sahabatnya Wawa.


"Kamu kenapa La? Kenapa tiba-tiba nangis begini? Ada yang jahat sama kamu?" Wawa merogoh tas mencari tisue yang selalu ia siapkan.


Ala segera menyambar tisue tersebut mengusap air mata dan air yang keluar dari hidungnya.


"Kamu kenapa La? Jawab dong? Jangan nangis begini?"


"Wa, ayo kita pulang aja," ajak Ala bangkit menarik tangan sahabatnya.

__ADS_1


Wawa menatap Ala pasrah. Dia paham akan sesuatu yang disembunyikan oleh sahabatnya ini.


'Aku harus pulang ke mana? Ke rumah Umi atau rumah ....' batin Ala yang masih kebingungan dengan apa yang ia lihat dan dengar.


Setelah sampai di depan rumah Ala bersama suaminya, Wawa berpamitan. "Kamu istirahat aja. Siapa tau jadi lebih tenang."


Ala mengangguk melambaikan tangannya pada sahabatnya itu. Setelah memastikan Wawa pergi, ia memandangi ponselnya yang sedang melantunkan nada dering yang cukup nyaring.


Di dalam layar ponsel tersebut, tertulis sebuah nama kontak "Imamku."


*


*


*


Syauqi telah berada di halaman rumahnya, turun dari mobil bergegas menuju pintu. Namun, ternyata pintu rumah itu dalam keadaan terkunci.


Ia mengeluarkan kunci serep yang selalu disiapkan dan segera membukanya.


"Assalamualaikum ..." Dengan suara lantang mengucap salam, ia hanya memdapati rumah yang sepi.

__ADS_1


__ADS_2