
"Hum-Humaira?" tanya pria yang ditolongnya tadi.
Ala mengerutkan keningnya. Suara pria itu mirip sekali saat Syauqi dulu ketika memanggil namanya. Namun, sebagai wanita muslim, Ala lebih memilih untuk menundukan pandangan terhadap lawan jenis. Ditambah lagi, lawan jenis yang sudah berkeluarga.
"Baik, lah. Saya kembali ke sana dulu." Ala menganggukan kepala meskipun ia tidak meliwat pasti siapa yang baru saja ia tolong.
"Terima kasih, Tante," ucap bocah laki-laki tadi.
"Sama-sama." Ala pun beranjak meninggalkan ayah dan anak itu.
"Humaira ... Humaira ... Apa kamu melupakanku?" Pria itu kembali memanggil nama Humaira.
"Abi kenal Tante itu?" tanya Baim, putranya.
Sang ayah hanya bisa memamerkan raut kesedihannya. Ia teringat akan masa lalu, di mana ia baru saja terbangun dari koma usai kecelakaan.
Ia tidak bisa mendengar, tak bisa melihat, dan tububnya kaku tidak bisa digerakkan. Setelah itu, ia hanya bagai patung yang tidak bisa melakukan apa pun. Setiap saat, ia memanggil nama Humaira ... istri soleha yang diam-diam dikhianatinya. Namun, semenjak ia bangun, ia tak pernah lagi merasakan sentuhan dan pelukan Humaira.
Setelah memasang alat bantu pendengaran, saat itu lah ia baru tahu bahwa Humaira telah menuntut perceraian padanya. Ia yang tidak bisa apa-apa, hanya bisa menerima keputusan sepihak yang sangat terlambat ia ketahui.
Tidak hanya itu, Salma pun pergi. Karena, ia hanya lah patung tak bisa melakukan apa pun selain menangis dan menyesali semua pengkhian4tan yang telah ia lakukan. Tahu-tahunya, Salma menyerahkan bayi yang sudah berusia enam bulan.
"Itu anakmu! Ambil lah! Aku tak bisa merawatnya. Aku akan menikah dengan pria tampan yang bisa memberikan apa pun yang aku minta. Sekarang, cari lah Humaira-mu itu! Tapi, aku ragu. Apakah dia akan menerimamu kembali, atau tidak mengenalmu lagi. Kau sendiri akan terkejut melihat bayanganmu di dalam cermin bila kau tidak buta!" ucapnya dengan volume yang cukup tinggi. Ia sengaja berkata demikian, karena tahu bahwa laki-laki ini mengalami gangguan pendengaran.
Syauqi terlihat gugup menggelengkan kepala. "Salma? Kenapa kau juga meninggalkanku? Bukan kah ini terjadi di saat kita memadu kasih? Di mana rasa cinta yang kamu katakan hanya aku satu-satunya lali-laki yang kamu cinta?"
"Apakah kamu lupa, kamu lah yang membuat aku mengkhian4ti istriku. Kau yang membuatku tergoda, dan kau yang membuatku candu apa itu percintaan yang sebenarnya, hingga tengah malam pun aku rela mengejarmu hingga ke sana."
"Sudah lah, Bang! Jangan menceritakan masa yang paling aku sesali seumur hidupku. Jika kau tidak ke tempatku, mungkin aku tidak akan pincang seperti ini!"
Suasana pun hanya diisi oleh suara tangisan bayi yang berada di tangan Syauqi.
"Kamu jangan meninggalkannya! Dia masih membutuhkanmu untuk ASI mendapatkan!" ucap Syauqi tidak tega mendengar tangisan bayi itu.
Tiba-tiba, suara tangisan bayi itu terhenti, lalu satu tangannya ditarik memegang sebuah botol.
"Dia tak pernah aku berikan ASI, sejak lahir minum susu formula, agar kalian bisa mengasuhnya. Sudah! Aku tidak mau berdebat lagi! Aku minta cerai! Kita hanya nikah siri bukan? Jadi, tak perlu lah aku repot-repot mengurus perceraian denganmu ke pengadilan."
Lalu, suasana pun hening hanya ada bayi yang mulai tenang terlelap dalam pangkuan Syauqi. Ia menyadari bahwa Salma telah pergi, tetapi meninggalkan rasa penyesalan yang sudah teramat dalam.
"Abi?" Sang putra mengguncang tubuh Syauqi membuat ia tersadar akan lamunan dan penyesalan seumur hidupny.
'Karena Allah, telah memberiku karma yang teramat pedih. Humaira, sebelum kamu memaafkanku, aku tak akan bisa merasakan ketenangan. Apakah aku masih boleh mengharapkanmu untuk mengukir kisah kembali?'
*
*
__ADS_1
*
drrrrtt
drrrrt
Ala yang sedang mengerjakan tugas Pondok Pesantrennya di dalam kamar, dikejutkan oleh getaran ponsel dari kontak yang tidak dikenal. Keningnya mengerut dan kepalanya sedikit meneleng mencoba menebak itu kontak siapa.
"Kita bukan remaja lagi kan? Jika ini bukan panggilan main-main, dia akan menghubungiku kembali." Kali ini Ala memilih mengabaikan panggilan tersebut melanjutkan pekerjaannya.
drrrrttt
drrrrttt
Ponselnya kembali bergetar dan Ala menarik tombol hijau pada layar datar benda pipih tersebut.
"Assalamulaikum ...."
📲 "Walaikum salam warrahmatullahi wabarrakatuh."
Ala menjauhkan ponsel tadi dari telinganya karena itu suara laki-laki. Ia kembali memperhatikan urutan nomor kontak yang tertera.
📲 "Halo? Kok diem?"
Ala menempelkan kembali ponsel ke telinganya. "Maaf, saya tidak menyimpan nomor ini dalam kontak ponsel saya. Jadi, ini siapa?"
Ala menggaruk keningnya merasa canggung dan bingung. Tiba-tiba, mulutnya terbuka teringat di akan kasus yang banyak terjadi dan persis seperti ini. Nanti dia pura-pura menjadi kenalan kita, menyuruh kita menebak, dan siapa pun nama yang kita tebak itu dibenarkannya.
Tanpa mengatakan apa-apa, Ala menekan tanda merah, dan panggilan pun selesai. "Huuuff, beruntung kemarin sempat menonton kasus kayak gini. Ternyata, kali ini aku lah yang menjadi sasaran target mereka. Astaghfirullah al'azim ..." ucapnya mengusap dada beberapa kali.
Setelah merasa sedikit tenang, Ala melanjutkan pekerjaannya sebagai pengurus Yayasan Pondok Pesantren rintisan Abi. Ia tengah mengecek daftar gizi dan nutri untuk makanan santriwan dan santriwati untuk sebulan ke depan.
Drrrrtt
Drrrttt
Ala melihat kontak itu masih sama dengan yang sebelumnya. Namun, kali ini ia memilih untuk tidak mengubrisnya dan melempar ponsel tersebut ke atas kasur biar tidak mengganggu lagi. Ala melanjutkan pekerjaannya kembali.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamarnya diketuk dan tanpa ada perintah, dari arah luar gagang pintu kamar ditarik. Muncul wajah Alya, adik yang tengah membuka pintu tidak terlalu besar.
"Uni, apa Alya mengganggu?" intipnya.
__ADS_1
"Kenapa Lya?" tanya Ala memutar kursi kerjanya tak keberatan menerima kehadiran saudaranya ini.
"Uni ... Uni ... Apa sudah ada lagi yang deket sama Uni?" tanya sang adik duduk di atas kasur. Lalu, ia melihat lampu ponsel kakaknya menyala menyadari ada panggilan masuk, karena benda itu bergetar. Ia segera menyerahkan ponsel tersebut.
"Biarkan aja!" ucap Ala mengibaskan tangan.
"Emang siapa?" tanya Alya.
Ala hanya mengedikan bahu dan menatap saudarinya itu. "Katakan saja, kamu mau apa nih? Ada yang udah mau menikah dengan kamu ya?"
Alya tersenyum kikuk, malu-malu. "Tapi Uni jangan khawatir, Alya akan tunggu Uni menikah lagi. Baru lah, setelah itu giliran Alya. Atau kita barengan aja??"
Ala tersenyum tipis menggelengkan kepala. "Jika dia sudah memiliki niat baik untuk menikah denganmu, kamu tidak perlu menundanya hingga menunggu Uni mendapat jodoh. Silakan dia menghadap Ummi. Uni baik-baik aja kok." Ala mendekati sang adik duduk di sampingnya memegang pundak Alya, tersenyum bersahaja.
"Tapi, Un?"
"Tidak apa. Apalagi kalau kalian sudah saling mengenal. Dan, sebenarnya kita tidak dianjurkan untuk dekat dengan lawan jenis. Pacaran itu tak ada, yang ada hanya ta'aruf. Cepat lah langsungkan pernikahan kalian! Dari pada menabung dosa?"
Alya menggaruk kepala bagian atasnya tersenyun kikuk. "Baik lah, Alya akan segera memberi tahu Ummi dan sampaikan kepadanya."
"Uni akan menemanimu." Ala dan Alya menghadap sang ibu.
Namun, ternyata ibunya keberatan. "Uni kalian belum mendapat jodoh lagi? Kasihan dia?" ucap Ummi.
"Ummi, jodoh Ala masih rahasia Allah di atas langit. Ini, Alya jodohnya lebih dekat lagi, jangan ditolak." Ala terus berusaha meyakinkan sang ibu.
Tubuh Ummi yang tadinya menegang, kini mulai mengendor. "Ummi hanya takut, jika kamu 'dilangkahi' adikmu, membuat jodohmu semakin jauh ke langit ketujuh," gumam sang ibu.
"Ummi, itu hanya takhayul. Masa yang itu Ummi percaya? Jodoh itu, hanya Allah yang tau. Kita tidak tahu rahasia akan Rezeki, Jodoh, dan Kemati4an. Semua rahasia Allah yang tak bisa diubah." Ala terus membuat sang Ibu terpojok.
"Ah, kamu? Selalu saja begini? Ummi tidak bisa lagi berkata-kata. Ya udah, bilang lah pada calonmu itu Alya. Nanti kita atur tanggal untuk datang meminang calonmu itu." (Adat Minangkabau, keluarga perempuan yang datang meminang calon suami. )
Pada akhir minggu, rombongan keluarga Ala datang ke rumah calon mempelai pria. Dia ikut membantu dalam acara ini membawakan silamak (ketan ditambah opor ayam) menyerahkan kepada keluarga calon mempelai pria.
"Lho? Kok mempelai wanita ikut?" tanya salah satu keluarga calon marapulai (pengantin pria) saat Ala menyerahkan silamak tadi.
(Di dalam adat Minang, calon anak daro\=pengantin wanita, tidak diperkenankan untuk ikut dalam acara lamaran)
Ala terkekeh mendengar pertanyaan itu. "Bukan, Bu. Saya kakak calon anak daronya."
"Kenapa, Ma?" tanya seorang pria yang sangat gagah dan tampan muncul dari dalam rumah.
Ala tersentak saat melihat siapa yang muncul dari dalam sana. "U-Uda Rafatar? Jadi, Uda yang akan menikah dengan Alya?" tanya Ala.
...****************...
Yang mau lihat visual mereka ada di IG aku ya: @sofie.espada
__ADS_1