Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 77


__ADS_3

"Biar Apa saja yang menjaga Ama. Akram akan dititipkan pada Mak Minah bukan? Sedangkan Ama, biarkan Apa yang jaga," ucap ayah mertuanya.


"Tapi, tadi malam Apa katakan akan ada evaluasi juga?" ucap Rafatar memasang wajah herannya.


"Tidak apa. Kondisi Ama jauh lebih penting dari apa pun. Kamu tahu sendiri kan? Selama ini Ama mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian tanpa menggunakan ART. Sepertinya setelah ini, Apa akan mencari jasa ART, setidaknya untuk menemani Ama jika sendirian di rumah."


"Tidak mau!" Ama langsung memotong ucapan sang suami.


Apa memasang wajah heran pada istrinya itu. "Kenapa tidak mau? Kamu sendiri bisa melihat kami semua sibuk. Namun, untuk hari ini, Apa akan menemanimu. Apa akan melakukan live meeting saja dengan para auditor."


Venna menggeleng tegas. "Apa, tidak perlu repot-repot. Sebenarnya Ama bisa menjaga diri sendiri kok. Apa kan memiliki tanggung jawab yang tak kalah penting. Evaluasi itu juga sangat penting bagi masa depan perusahaan Apa. Biarlah Ama sendirian aja di rumah. Ama akan baik-baik saja, kalian jangan khawatir!" Akan tetapi, tatapan Venna tak luput kepada Ala. Meskipun ia tak mengungkapkan secara langsung, tatapan itu bisa diartikan oleh Ala.


"Nanti, jika urusanku dengan pengawas sudah beres, aku aka pulang secepatnya, Ma," ucap Ala sebagai respon atas harapan mertuanya tadi.


Rafatar juga ikut angkat bicara. "Kalau aku sih, setuju agar Apa segera mencari asisten dengan segera. Karena saat ini, Ama sangat membutuhkan perhatian yang cukup."

__ADS_1


Sang Ayah akhirnya mengangguk kan kepalanya. "Baiklah, jika kalian benar-benar yakin, Apa akan membereskan evaluasi itu sejenak. Tapi Ama, jika ada kendala apa-apa, kamu harus segera hubungi kami. Bagaimana pun, kamu itu istriku. Tak mungkin aku tega membiarkanmu sendiri di rumah dalam keadaan seperti ini. Kamu harus janji, jika ada apa-apa, langsung hubungi aku!'


Venna tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, Pa. Aku akan menjaga diri dengan baik. Kalian jangan khawatir."


Dengan penegasan tersebut, Apa dan Rafatar menerima keputusan Venna. Mereka memberikan dukungan dan kepercayaan kepada Venna dalam menjaga dirinya sendiri. Meskipun ada kekhawatiran, mereka tahu bahwa Venna adalah wanita yang kuat dan akan menghadapi tantangan dengan penuh ketabahan.


Pada hari evaluasi, Apa pergi ke kantor dengan pikiran yang agak cemas, tetapi dia juga yakin bahwa Venna akan baik-baik saja. Venna merasa tegar dalam menghadapi hari sendirian di rumah. Dia menjalankan tugas-tugas rumah dengan hati-hati, memastikan kebersihan dan kenyamanan rumah tetap terjaga.


Sementara itu, di kantor, Apa melakukan evaluasi dengan penuh fokus dan profesionalisme. Dia menjelaskan rencana dan program dengan jelas kepada tim pengawas, mendapatkan masukan yang berharga, dan menjalankan presentasi dengan baik. Evaluasi berjalan lancar, dan Apa merasa lega dan puas dengan hasilnya.


Setelah evaluasi selesai, Apa segera pulang ke rumah dengan perasaan lega. Dia ingin segera kembali bersama Venna dan mengabarkan hasil evaluasi yang baik kepada istri tercinta.


"Ma, evaluasi berjalan dengan baik. Semuanya lancar dan hasilnya positif," ucap Apa sambil mendekati Venna.


Venna tersenyum bahagia. "Aku tahu kamu pasti berhasil. Aku bangga padamu, Apa." Mereka berpelukan erat, merasakan kehangatan dan cinta satu sama lain.

__ADS_1


Dan di saat itu pula Ala sedikit berlari kecil turun dari kendaraannya masuk ke dalam rumah. Ia mendapati tontonan kemesraan Apa dan Ama.


"Sepertinya aku datang pada waktu yang tidak tepat," canda Ala.


Apa dan Ama melepaskan pelukannya menahan rasa malu menyadari mereka menjadi tontonan sang menantu.


"Ah, maaf. Sepertinya aku lupa beli sesuatu." Ala memutar badan dan pergi kembali. Ia memilih untuk menuju sebuah mini market sejuta umat, dekat dengan lokasi rumah mertuanya.


Sebenarnya ia sedang tak ingin membeli apa-apa. Akan tetapi, demi mengulur waktu, akhirnya ia memilih untuk mencari susuformula untuk tambahan bagi anaknya, di saat bekerja.


"Aku tak mencuri!"


Ala tertarik setelah mendengar suara seorang perempuan yang ada di sana.


"Jika Ibu tidak mencuri, tak mungkin dong, sekalengsusu mahal ini ada di tanganmu?" ucap petugas berseragam dengan merk minimarket itu.

__ADS_1


Wanita itu liar berpikir dan tiba-tiba saja menunjuk ke arah Ala yang baru saja memasuki tempat itu.


"Dia yang nyuruh aku."


__ADS_2