
Ala tampak semakin gugup. Baginya tingkah pria ini sungguh berbeda dari biasanya. Tidak mungkin tiba-tiba berubah begitu saja dalam semalam setelah keluar kota.
"Uda, emangnya kemarin pergi ke mana?"
Rautnya yang tadi sendu, berubah dengan seketika. Ia melepas pelukannya terhadap Ala membuat sang istri semakin tampak kebingungan. Ia yang baru merasakan hangatnya pelukan itu, bergantian kini memeluk suaminya.
"Apa Ala salah bila menanyakan itu? Maaf Uda, jangan marah. Ala hanya merasa sangat khawatir karena Uda tidak ada kabar. Bermacam rasa dalam gelisah menggelantung dalam hati dan pikiran Ala. Bahkan, Ala susah untuk memejamkan mata takut Uda kenapa-napa."
Syauqi mencoba melepas pelukan itu, dan kali ini wajahnya terlihat meragu. "Apa aku boleh meminta sesuatu padamu?"
"Tentu, apa pun itu pasti akan Ala penuhi. Jiwa dan raga Ala adalah milikmu, Uda. Apa pun yang Uda inginkan, sebagai istri akan Ala penuhi jika itu bisa Ala lakukan."
"Aku meminta supaya kamu tidak perlu bertanya atas apa yang menjadi urusan suamimu?" Pria itu bangkit dan menuju pintu keluar tanpa mengatakan apa-apa lagi.
"Baik lah ..." ucap Ala sendu menatap pintu. Di belakang pintu, Syauqi menggaruk kepalanya kembali merasa kacau dengan situasi ini.
Drrrttt
Drrrtt
Ponselnya bergetar dan dalam layar benda pipih itu tertulis nama Salma. Ia melirik ke arah pintu, lalu melangkah menaiki anak tangga menuju lantai atas menjawab panggilan istrinya.
"Halo, Assalamualaikum?"
"Walaikumsalam suamiku Sayang, kapan kamu ke sini lagi? Aku sudah sangat rindu padamu." ucap Salma di seberang sana.
"Pliss, kita sudah sepakat untuk tidak menonjolkan pernikahan kini ini pada siapa pun. Aku mohon padamu jangan menghubungiku sebelum aku yang menghubungimu dulu." ucap Syauqi frustrasi.
"Ngga maaauu, masa kita yang baru saja menyatu harus berpisah lagi? Atau, aku yang ke sana? Seperti katamu dulu, kamu akan merekomendasikanku di tempatmu mengajar saat ini kan?"
"Sudah, aku tutup dulu telponnya," ucap Syauqi bersiap menekan tombol merah.
"Jangan! Bang, aku masih ka—"
Klik, panggilan telah ditutup. Ia telah mengunci diri di dalam kamarnya. Dia duduk di atas ranjang dalam wajah gelisah seperti baru saja melakukan dosa besar.
"Apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1
*
*
*
Meskipun Ala tampak sedih dengan kejadian sore tadi, tetapi ia tetap berusaha menenangkan diri dan menyiapkan makanan untuk suaminya yang sedang melaksanakan sholat Magrib di mesjid dekat rumahnya. Kebetulan sekali di dalam kulkas masih ada makanan seperti rendang, sup, dan beberapa makanan lainnya.
Setelah melaksanakan salat magribnya di dalam kamar, Ala mulai menata meja makan menaruh piring, sendok, dan perkakas lain. Setelah semua makanan terhidang, ia menanti kepulangan suaminya.
"Assalamualaikum," ucap Syauqi telah berada di dalam rumah
"Walaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh." Ala menyambut suaminya membuang rasa sedihnya tadi.
"Ayo Uda, makan malamnya udah Ala siapkan."
Pria itu mengangguk, melepas kopiah hitam yang tadinya melekat di kepalanya. Tampak makanan berkuah dan beberapa menu ringan seperti tahu goreng tersaji di atas meja.
"Ini makanan Umi yang ada di kulkas?"
"Ah, makanan Umi? Iya, pantesan rasanya sama persis dengan buatan Umi. Kemarin Ala hanya memakan ini. Jadi Ala panaskan lagi."
Ia mulai menyiapkan makanan masuk ke dalam piring suaminya. Mengambilkan satu potong rendang dan tahu. Setelah itu disiram dengan kuah sup lalu menyerahkan piringnya kepada suaminya.
"Jadi, waktu itu Uda beneran ke rumah Umi?" tanya Ala. Ia teringat ucapan ibu mertuanya saat ia dalam kegundahan atas tingkah suaminya ini yang berjalan berdua dengan wanita lain.
Syauqi hanya melirik istrinya sejenak lalu fokus pada makanannya kembali.
"Umi sehat aja kan, Da?"
"Udah lama Ala tidak bertemu Umi. Besok kita singgah ke sana ya Uda?" Ala terus berbicara sembari mengambil makanan pindah ke dalam piringnya.
Suaminya tidak menyahut, hanya serius dengan makanan yang ia santap, Ala menatap suaminya sedikit kecewa. Dia heran tingkah suaminya ini kembali berubah.
"Jika tak bersuara seperti ini, aku anggap kamu setuju!" Ala memutuskan sendiri.
"Uhuuuk!" Syauqi tersedak mendengar keputusan Ala yang tiba-tiba.
__ADS_1
Ala segera mendekat menyerahkan gelas berisi air putih. "Apa Uda lupa membaca basmallah sebelum makan tadi?" canda Ala meleburkan suasana.
"Setuju apa? Apa yang kamu katakan?" tanya pria itu yang ternyata baru sadar dari lamunannya.
"Astaghfirullah, Kenapa malah tidak konsen begini? Apa masalah di luar kota benar-benar besar hingga menguras semua pikiran Uda?"
Syauqi menatap istrinya setelah dadanya terasa nyaman. "Apa kamu lupa dengan permintaanku tadi. Aku memintamu untuk tidak bertanya dengan segala urusanku kan? Kamu berjanji menyanggupinya." Syauqi melanjutkan makannya yang tadi tertunda.
"Iya, maaf." Ala kembali duduk di bangku di sebelah suaminya.
Sebuah sendok melayang tepat di hadapan mulutnya. Ala melirik si pemilik tangan.
"Nah, aku akan berusaha untuk menjadi suami yang baik untukmu. Kamu juga harus menghormati permintaanku."
Ala tersenyum mengangguk. Mulutnya langsung terbuka dan memasukan makanan itu langsung mengunyahnya.
*
*
*
Keesokan hari
"Nah, mulai hari ini, atas permintaan keponakanku, kamu saya angkat menjadi kepala SMP di Pondok Pesantren ini," ucap Apak, saudara dari almarhum Abi di tengah rapat penyambutan Syauqi secara resmi di Pondok Pesantren ini.
Keputusan tersebut membuat beberapa guru yang ada di sana terlihat tidak suka. Terlebih lagi, dia baru saja menginjakan kakinya di Pondok Pesantren ini.
"Ini mentang-mentang menantu Almarhum Ustadz Faisal, dia bisa dengan mudahnya mengambil posisi itu," bisik salah satu tenaga pengajar yang terlihat memasang muka masam.
"Sssttt!" sanggah lawan bicaranya tidak tertarik dengan hasutan yang diberikan pengajar bernama Lutfi.
"Jangan gitu dong? Bagaimana pun, dia baru di sini. Kenapa dia yang menjadi kepala sekolah? Bukan kah lebih banyak guru senior yang sudah sangat berpengalaman mengajar di sini yang lebih pantas untuk mendapatkan jabatan itu?" Lutfi masih kukuh dengan hasutan tak beralasan itu.
"Saya sedang mendengarkan Pak Fajri memberikan sambutan! Jika ini memang rezeki Syauqi, meskipun ia baru di sini, ya kita terima saja! Bisa jadi dia berkompenten. Dia kan lulusan Kairo, jadi ilmunya pasti lebih banyak dari pada kita." ucap lawan bicaranya yang masih terlihat tidak tertarik dengan hasutan tadi.
Lutfi menyadari ia tidak bisa membuat suasana panas hanya karena tidak terima orang baru menjadi kepala sekolah. Wajahnya tampak menegang merencanakan sesuatu melirik Syauqi yang sedang berbicara atas sambutan telah diangkat menjadi kepala sekolah untuk tingkat SMP di Pindok Pesantren ini.
__ADS_1
'Kau terlalu bersih anak muda! Kita lihat, jalan tikus seperti apa yang telah kamu pakai agar duduk dalam jabatan itu!' batin Lutfi.