Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 21.


__ADS_3

Setelah berhasil melepaskan diri dari Salma, Syauqi merasa sedikit lega. Namun, tentu ia harus bersiap menghadapi konsekuensi dari perbuatannya.


Kendaraannya melaju menuruni wilayah tinggi itu menuju kota di mana sang istri tengah menunggu. Dengan hati yang berat, ia memberi kabar kepada Humaira.


Sy: [ Humaira, apa kamu mencariku? Tunggu aku! Aku akan segera pulang ke rumah. ]


Ala membaca pesan itu dengan perasaan waswas.


Hm: [ Uda, apa yang terjadi? Kenapa semalaman tidak bisa kuhubungi? Aku sungguh takut jika terjadi sesuatu denganmu. ]


Sy: [ Ada pekerjaan yang mendesak, tiba-tiba, dan tak bisa digagnggu. Kamu jangan khawatir, aku baik-baik saja. ]


Hm: [ Syukur lah, Uda. Aku sudah berada di kampus. Hati-hati di jalan, suamiku ]


Degh


Perasaan Syauqi berdebar membaca pesan itu. Jelas ia membaca bahwa istrinya Humaira telah terang-terangan menunjukan rasa cinta kepadanya. Ia mengusap pelipis merasakan sakit yang parah.


"Astaghfirullah ... Ampuni aku ya Rabb. Apa yang baru saja aku lakukan? Kenapa harus begini? Kenapa Humaira? Salma? Aku?"


*


*


*


Setelah perjalanan yang panjang dan penuh perasaan bimbang, Syauqi telah sampai di rumah. Disambut suasana sunyi karena tidak ada seorang pun di rumah ini. Ia menuju tangga di mana kamarnya berada. Namun, kini langkahnya terhenti. Ia memutar badan di mana memandangi pintu yang menjadi tempat istrinya beristirahat.


"Dia tidak boleh tahu, biarkan seperti ini."


Ia pun melangkah perlahan membuka pintu kamar itu. Di ruang tempat istrinya beristirahat, ia pun merebahkan diri di sana. Tercium sekilas aroma harum khas milik Humaira yang ia kenal. Perlahan, matanya terpejam, ia pun terlelap melepas lelah pertempuran semalam dengan istrinya yang baru.


Di kampus, Ala sedikit tidak bisa berkonsentrasi menerima materi yang diberikan dosen. Perasaannya serasa tak mampu untuk lega, sebelum ia memastikan suaminya benar-benar dalam keadaan baik.

__ADS_1


Sore pun menjelang di mana ia telah menyelesaikan materi terakhir di hari ini. Ia berlari menyusuri lorong tergesa untuk segera kembali. Ia tak memedulikan siapa pun yang merasa terganggu akan tingkahnya ini.


"Ala? Ala?"


Sebuah suara memanggil nama gadis manis yang seperti dikejar sesuatu yang buru. Namun, ia tidak mengubris panggilan yang begitu ia kenal tak lain suara laki-laki yang mencoba untuk terus mendekat padanya.


Ala telah keluar dari gedung kampus segera menuju halte tempat trans yang akan membawanya pergi meninggalkan kampus hijau, di atas bukit ini. Sebuah kendaraan tiba-tiba menepi membuat Ala heran.


Jendela kendaraan yang tak lain milik Rafatar turun membuat Ala berhenti sejenak menelengkan kepalanya melirik orang yang duduk di bangku stir. "Kenapa, Da?"


"Buru-buru banget, Diak? Mau apa?"


"Oh, aku mau pulang. Suamiku baru saja kembali dari luar kota. Jadi aku harus cepat-cepat kembali menyiapkan segalanya untuk dia." ucapnya sedikit semangat.


Rafatar tersenyum kecut, tetapi senyuman masam itu dibuang dengan cepat. "Kalau gitu ayo naik! Biar aku antar!"


Ala menggelengkan kepalanya cepat. "Maaf, Uda. Tidak baik rasanya jika aku seorang istri duduk dalam mobil berdua saja dengan Uda. Biar kan aku naik bus yang ada saja."


"Terima kasih Uda atas perhatiannya." Lalu tampak bus trans baru saja datang menuju halte yang masih sepuluh meter lagi dari sisinya. "Uda, aku ke sana dulu. Assalamualaikum." Gadis berkerudung itu berlari kembali menuju halte pemberhentian bus.


"Walaikum salam." Rafatar memejamkan mata merasakan perih yang tiada tara. "Tuhan, sungguh beruntung sekali pria yang mendapatkan Ala. Apakah ada gadis soleha lain yang seperti dia? Apakah aku harus menghentikan harapan ini?"


Sempat terbesit di dalam hatinya untuk terus mengejar Ala. Karena ia selalu melihat kesedihan yang terus digambarkan setiap melihatnya di kampus. Sempat ia membutakan mata meskipun tahu ia telah menikah, dan ia sendiri menjadi saksi dari permintaan Almarhum Abi Ala dulu. Namun, jika Ala tidak bahagia dengan pernikahannya, kenapa bukan dia saja yang akan membahagiakan Ala?


Namun, setelah beberapa waktu terakhir, Ala tak malu memperlihatkan rasa bahagia dan menceritakan tentang suaminya. Senyuman gadis itu tampak begitu cerah, membuat ia yakin tak ada lagi harapan untuknya.


Rafatar melihat Ala telah masuk ke dalam buss trans, ia pun menginjak pedal gas dan pergi. Ala melihat kendaraan Rafatar melintas, lalu membisu dalam wajah datar.


Tak lama kemudian, Ala telah sampai tepat di depan rumahnya. Kendaraan sang suami telah terparkir membuat senyumannya melebar dengan manis dan tampak lega.


"Alhamdulillah, suami sehat selamat sampai di rumah."


Ala membuka pintu. "Assalamualaikum?"

__ADS_1


Akan tetapi suasana terasa sepi. Ala mendongak ke arah lantai atas. "Mungkin Uda berada di dalam kamarnya. Aku harus membersihkan diri dulu." Ia melihat waktu telah menunjukan pukul setengah enam sore.


Buru-buru ia membuka pintu dan terperanjat melihat apa yang ada di sana. Ada sebuah sosok tampan kelap tidur menggunakan bantal yang selalu ia pakai setiap malam.


Senyumannya mengambang hingga semburat kecantikannya tergambar dengan nyata. Ia duduk berlutut menelengkan kepala menatap wajah itu. Bibirnya masih menggambarkan senyuman manis.


Tiba-tiba, mata yang tadinya tertutup, terbuka menatap Ala yang terus memandangnya dengan senyuman manis. Mendapati Uda Uqi yang menatapnya, Ala langsung terlihat salah tingkah tersenyum kikuk.


"Ah, Uda ketiduran?" ucapnya mengusir rasa canggung. Ala buru-buru bangkit dan mendur.


Akan tetapi, tangan Ala ditangkap dengan cepat oleh pria itu. Ia menarik Ala dan menangkapnya dalam pelukan. "Keonapa kamu menatapku seperti itu?" bisiknya.


"Ah, ya ... Maaf," ucapnya merasa bingung atas sikap laki-laki yang dulunya dingin terhadapnya.


Syauqi memeluk Ala dari belakang, menyandarkan dagu di salah satu bahunya. "Aku rindu, sungguh rindu sama kamu."


Di balik ucapannya itu, terlintas malam hangat yang ia lewati bersama Salma. Jujur, ia begitu candu. Apalagi itu pertama yang ia rasakan lepas dari dahaga gairah sesungguhnya.


"Uda rindu? Ala juga rindu. Tapi tunggu! Ala mau melihat Uda." Gadis itu memutar tubuh yang tadi tersandar dalam pelukan suaminya ini.


Kepalanya mendongat melihat wajah itu. Wajah tampan dengan dagu segitiga, tampak sempurna di matanya. "Uda kenapa? Apa Uda tahu, ini untuk pertama kali Uda memeluk Ala setelah sekian waktu kita menikah."


Syauqi mengusap pipi istrinya. "Maafkan aku. Sepertinya pernikahan ini telah menyiksamu." Jemari yang tadinya membelai lembut pipi bewarna kemerahan itu, kini beralih pada bibir merah jambu pada wajah ayu itu.


Ala bukan merasa bahagia, dia terlihat heran dan sedikit tegang karena keanehan suaminya ini. Tangannya perlahan meraba kening suaminya.


"Uda, demam?"


Syauqi menggeleng pelan kembali mendekap tubuh langsing milik istrinya ini. "Maafkan aku."


Ala merasa canggung karena tindakan suaminya ini. Namun, ia tidak memungkiri bahwa ia bahagia dalam posisi ini. Ia sungguh sayang pada laki-laki ini. Rasa cinta itu tumbuh begitu saja.


"Sayang, apa kamu mau melebur bersamaku saat ini? Aku membutuhkanmu." bisik Syauqi membelai punggung Ala yang sedang ia peluk.

__ADS_1


__ADS_2