
*Besok hari senin ya kakak semua, jangan lupa siapkan vote buat cerita ini yaah ... Ini aku kasih bonus 1 lagi yang terakhir buat hari ini. Mumpung hari minggu ... Sawerannya jangan lupa juga yaah ... Makasi..*
Setelah semalam ditahan, Rafatar akhirnya dihadapkan pada proses interogasi oleh jaksa. Dia dibawa ke ruang interogasi dalam hening membuat suasana terasa menegangkan, dihadapkan oleh tim jaksa yang bertugas dalam kasusnya.
Ruang interogasi itu redup, dengan meja besar di tengah ruangan dan kursi yang menghadap satu sama lain. Rafatar duduk di kursi, tatapan tegar, meskipun hatinya dipenuhi dengan kecemasan dan kebingungan.
Jaksa yang memimpin interogasi duduk di seberang Rafatar, menyiapkan segala dokumen dan bukti yang relevan dalam kasus tersebut. Dia memandang Rafatar dengan ekspresi serius, siap untuk memulai pertanyaan.
"Bapak Rafatar, kami telah mengumpulkan banyak bukti terkait kasus ini. Kami ingin mendengar langsung penjelasan dari Anda. Apakah Anda siap untuk menjawab pertanyaan kami?" Suara sang jaksa terdengar dengan penuh penekanan.
"Ya, Saya siap. Saya akan bekerjasama penuh dalam penyelidikan ini," ucap Rafatar.
"Baik. Pertama-tama, kami ingin mengetahui peran Anda dalam perusahaan dan kegiatan yang dilakukan."
"Saya adalah pemilik perusahaan dan bertanggung jawab atas pengelolaan operasionalnya. Saya terlibat dalam pengambilan keputusan strategis dan pengawasan umum," terang Rafatar.
"Apakah Anda terlibat langsung dalam pengelolaan dana peserta umrah?" tanya Jaksa.
"Ya, sebagai pemilik perusahaan, saya memiliki tanggung jawab untuk memastikan dana peserta umrah dikelola dengan baik. Namun, saya juga memiliki tim yang bertanggung jawab langsung dalam aspek operasional tersebut." jawab Rafatar.
"Ada laporan bahwa dana peserta umrah digunakan untuk kepentingan pribadi. Apa tanggapan Anda mengenai hal ini?"
"Saya ingin menegaskan bahwa saya tidak pernah menggunakan dana peserta umrah untuk kepentingan pribadi saya. Setiap penggunaan dana dilakukan dengan transparansi dan sesuai dengan peraturan yang berlaku." jawab Rafatar.
"Apakah Anda memiliki dokumen atau bukti yang mendukung klaim tersebut?" Tatapan dingin terhunus pada Rafatar.
__ADS_1
"Tentu, kami memiliki rekam jejak transaksi dan dokumen yang mencatat penggunaan dana secara rinci. Saya siap untuk memberikan bukti tersebut kepada tim penyidik." Tak kalah menatap lurus tanpa ada rasa takut pada pria yang terus mencecarnya dengan pertanyaan yang menyudutkannya.
"Ada juga laporan tentang ketidaksesuaian antara jadwal keberangkatan dan kepulangan peserta umrah. Apa yang dapat Anda jelaskan tentang hal ini?"
"Saya mengakui bahwa terjadi beberapa ketidaksesuaian dalam jadwal keberangkatan dan kepulangan peserta umrah. Kami menghadapi tantangan logistik dan perubahan situasi yang mempengaruhi rencana perjalanan. Namun, kami berusaha sebaik mungkin untuk meminimalkan dampaknya dan memberikan kompensasi yang sesuai." sesal Rafatar.
"Bagaimana Anda menjelaskan adanya peserta umrah yang merasa dirugikan dan melaporkan perusahaan ini?" tanya jaksa kembali.
Waktu berlalu, dan proses interogasi berlanjut. Rafatar merasakan tekanan semakin bertambah, namun dia berusaha untuk tetap tenang dan menjaga komposur. Dia menyadari betapa pentingnya menjawab pertanyaan dengan tepat dan memberikan penjelasan yang memadai.
Di tengah interogasi, Rafatar teringat akan Ala yang sedang hamil di luar sana. Pikirannya terbagi antara kekhawatiran akan situasi perusahaannya dan keadaan Ala yang sedang mengandung. Namun, dia tahu bahwa saat ini fokusnya harus terarah pada proses interogasi yang sedang berlangsung.
Jaksa terus menggali informasi, mencoba menghubungkan titik-titik penting dalam kasus tersebut. Mereka mencatat setiap jawaban Rafatar dan mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam untuk menguji konsistensi dan kebenaran pernyataannya.
Rafatar menyadari bahwa masa depan perusahaannya dan kebebasannya bergantung pada hasil interogasi ini. Dia berusaha memberikan kerjasama penuh, memberikan jawaban yang jelas dan transparan dalam upaya untuk membantu jaksa memahami situasi secara lebih baik.
Rafatar duduk di dalam selnya, dipenuhi perasaan cemas dan kalut. Pikirannya terus menerus dipenuhi oleh pertanyaan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, di tengah kegelisahan itu, sejurus kemudian, seorang petugas memasuki selnya dengan membawa sepucuk surat.
Rafatar mengambil surat tersebut dan membacanya dengan penuh harap.
Assalamualaikum wr. wb Suamiku yang aku cinta karena Allah.
Uda, bagaimana keadaannya? Semoga selalu sehat dalam lindungan Allah.
Aku dan anak kita sangat merindukanmu, Uda. Kamu harus selalu menjaga kesehatan dengan baik ya?
__ADS_1
Uda, aku tahu kamu tidak bersalah. Aku yakin, Allah akan segera memberi petunjuk kepada pihak yang terkait agar Uda terbukti tidak bersalah. Jika Uda membutuhkanku, aku siap untuk memberikan segalanya untukmu. Baik dalam bentuk moril, maupun materil.
Uda jangan khawatir, semua pasti ada jalannya.
Uda jangan lupa makan ya? Karena, pada saat seperti ini kita harus kuat dan sehat. Jika Uda sedang kehilangan selera makan, harus tetap dipaksa ya? Jangan biarkan keadaan melemahkan kita. Karena itu justru harus kita hadapi dengan segenap jiwa dan raga yang kita miliki.
Udah dulu ya, ingat ya, Uda tidak sendirian karena ada aku di sini. Aku yang sayang sama uda, dan aku yang cinta pada Uda. Di sini juga ada anak kita yang menemaniku meskipun semua masih terasa sepi. Kami menunggumu di sini, Suamiku Sayang.
Wassalamualaikum, wr.wb
Istrimu,
Humaira Fii Jannah*
Setelah membaca surat dari Ala, tatapan matanya berubah. Wajahnya yang semula tegang dan cemas mulai melunak, dan cahaya harapan terpancar dari matanya.
Sebuah senyum kecil mulai terbentuk di bibir Rafatar, dan hatinya yang terasa berat sejenak terangkat. Rasa cinta dan kasih sayang dari Ala menyentuhnya dengan begitu dalam, mengingatkannya bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapi segala kesulitan ini. Meskipun terpisah secara fisik, mereka tetap bersatu dalam ikatan cinta dan tekad untuk saling mendukung.
Dengan tangan yang gemetar, Rafatar membalas pesan Ala dengan sebaris kata-kata cinta dan kata-kata pengharapan. Meskipun mereka terpisah oleh jeruji besi, setidaknya mereka bisa saling menyampaikan dukungan dan cinta mereka melalui kata-kata.
Dalam keadaan yang terbatas ini, cinta mereka menjadi sumber kekuatan yang tak tergoyahkan. Rafatar meyakini bahwa bersama-sama, mereka akan menghadapi segala rintangan dan melewati ujian ini. Setiap hari, dalam kesendirian selnya, Rafatar merenungkan pesan cinta dari Ala, mengingatkannya bahwa dia bukanlah orang yang sendirian.
Ketika menerima balasan dari Rafatar, Ala merasakan kombinasi antara kelegaan dan kesedihan. Dia merasakan kelegaan karena suaminya masih berusaha menghubunginya dan memberikan dukungan, meskipun dalam situasi sulit seperti ini. Namun, kelegaan itu juga diiringi dengan kesedihan yang mendalam karena mereka terpaksa terpisah dalam waktu yang tidak pasti.
"Agh ...." Ala merasakan rahimnya terasa begitu sakit.
__ADS_1
Ala meringkuk, terduduk di atas lantai. Dia hanya sendirian di rumah itu, melirik ke kiri dan ke kanan dengan napas tersengal merasakan sakit yang luar biasa.