
"Di-dia?" Salma mulai merasa gugup. Dia tak menyangka istri yang dimaksud pria tampan dan kaya ini adalah Humaira, istri dari pria yang dulu pernah ia rebut.
"Ya, dia adalah istriku," ucap Rafatar sumringah melepas sabuk pengaman dan segera membuka pintu kendaraan.
Ala sudah berdiri di samping pintu bersiap menyambutnya dengan penuh cinta. Mencium tangan Rafatar, dan pria itu pun mengecup kening Ala memancarkan rasa cintanya yang amat besar. Salma merasakan suasana romantis yang begitu kental di antara mereka, tetapi tubuhnya terasa begitu kaku.
Ia jelas merasa malu bila bertemu kembali dengan Ala. Apalagi, kali ini dia menargetkan untuk merebut hati Rafatar.
"Sepertinya, Tuhan menciptakanku sebagai perebut suami wanita itu," gumamnya.
Ia memperhatikan dengan seksama, bagaimana kedua orang tersebut sedang membicarakan sesuatu yang tidak bisa didengarnya. Namun, dia sangat yakin bahwa kedua orang itu sedang membicarakannya, karena beberapa kali Rafatar menunjuk ke arahnya yang berada di dalam mobil.
Rafatar pun membuka pintu kemudi mengintip Salma yang mulai terlihat sedikit pucat pasi. "Apa yang terjadi? Kenapa tidak keluar? Apa kamu merasa tidak enak badan?" tanya Rafatar melihat Salma yang tiba-tiba menjadi kaku.
"Ti-tidak. Saya baik-baik saja," ucap Salma semakin gugup.
Rafatar melihat ketidaknyamanan Salma dan berusaha menenangkannya.
"Jangan khawatir, Bu Salma. Semuanya akan baik-baik saja. Saya hanya ingin memperkenalkan Humaira kepadamu. Saya yakin Humaira akan menerima kehadiranmu dengan lapang dada. Ayo keluar dulu dan bertemu dengan istri saya," ajak Rafatar, ramah.
Salma mengambil napas dalam-dalam mencoba menenangkan diri. Ia tahu bahwa situasi ini mungkin akan sangat sulit bagi dirinya dan juga Humaira alias Ala. Akan tetapi, dia harus menghadapinya karena sebuah ambisi yang semakin menjadi di dalam hati.
'Mari kita hadapi ini dengan kepala tegak dan sikap yang baik. Dulu saja berhasil, kenapa kali ini tidak?' batin Salma.
__ADS_1
Ia pun akhirnya keluar dari mobil dengan langkah ragu tetapi tetap berusaha menjaga ketenangannya. Rafatar membukakan pintu menyilakan Salma turun.
Mereka berjalan bersama menuju pintu ke arah Ala yang mulai menyadari siapa yang dibawa oleh suaminya. Sementara itu, Salma sendiri sedang mencoba mengatasi kecemasannya.
'Aku harus tenang! Wanita bernama Humaira ini harus tahu bahwa aku ini telah berubah. Ya, aku harus bersikap baik," batinnya lagi.
Ala mulai merasakan sakit yang mendalam di dalam hatinya ketika menyadari bahwa orang yang sedang dibicarakan oleh suaminya adalah Salma, wanita yang telah merebut Syauqi darinya. Rasanya seolah-olah luka lama itu kembali terbuka dan mulai menyiksa hatinya, dengan bermacam dugaan bahwa kali ini Rafatar yang akan direbut oleh wanita ini.
Ia berusaha mengendalikan emosinya dan tidak menunjukkan rasa sakit yang sedang ia rasakan. Tetapi, pandangannya datar dan ekspresinya kaku ketika Salma semakin mendekat. Ala mulai dibakar oleh api cemburu dan rasa tidak percaya pun mulai memengaruhi pikirannya.
'Bagaimana bisa dia berani mendekati Uda Rafatar setelah semua perbuatan yang ia lakukan terhadapku?" batin Ala dengan kesedihan dan kekecewaan.
Rafatar memperhatikan reaksi Ala dan menyadari ketegangan yang terjadi di hati sang istri. Ia mencoba meredakan suasana dengan menggenggam tangan Ala dengan lembut.
Ala berusaha mengendalikan emosinya. Ia tidak tahu apakah pantas dirinya memberikan kesempatan kedua kepada seseorang yang sudah merebut pria yang dulunya pernah menghalalkannya. Meskipun hati Ala kembali terluka, ia tidak ingin menahan Rafatar dalam membantu orang lain.
"Uda, sejak kapan Uda kenal dengan dia? Kenapa selama ini tidak pernah menceritakannya kepadaku?" ucap Ala dengan suara yang lemah.
Rafatar menggenggam tangan Ala dengan erat dan mencoba untuk menenangkan ketegangan pada istrinya. "Ah, aku tadi menemuinya dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Dia tak berhenti menangis usai diceraikan oleh suaminya, tadi."
Ala memutar kepalanya ke arah Salma yang sedari tadi tak bergeming. "Jadi, kali ini kamu memainkan alasan diceraikan suami, saat bertemu dengan suamiku? Waaah, aku turut sedih. Tapi, aku tak menyangka proses perceraianmu begitu mudah, bagai memutar telapak saja."
Ala terdiam sejenak, ia tak menyangka mulutnya dengan begitu mudah mengeluarkan kata-kata demikian, kepada Salma. Dan, Salma yang sedari tadi tertunduk merasa sangat canggung, turut tersentak tak menyangka, Humaira yang selalu dipuji oleh Syauqi menjelang ia pergi meninggalkan Syauqi, kini bisa mengeluarkan kata-kata yang membuat hati Salma bagai tertusuk duri.
__ADS_1
"Ah, a-apa maksudmu?" tanya Salma gugup menatap netra milik Ala yang terlihat begitu tajam.
Salma merasakan kebingungan dan ketidaknyamanan yang terasa semakin memuncak. Dia tidak menyangka bahwa ternyata cukup sulit berbicara dengan Ala. Apalagi, biasanya Ala bersikap lembut, meskipun pernah disakitinya. Bahkan, Ala juga memberikan susuformula kepada bayi yang masih terlelap dalam gendongannya. Salma mulai merasa tidak sanggup dalam menghadapi situasi ini diuji saat ia harus berhadapan langsung dengan cemoohan dan ejekan dari Ala.
"Aku hanya mencari tempat berteduh dan bantuan, bukan menginginkan pertengkaran denganmu, Humaira. Aku memahami bahwa ini sangat sulit bagimu, tetapi kali ini aku mengharapkan kebijaksanaanmu dan pengertianmu bahwa aku sekarang tentu berbeda dengan aku yang dulu," ujar Salma dengan suara gemetar.
Rafatar merasa perlu ikut campur untuk meredakan situasi yang semakin memanas. Dia mencoba menjelaskan kepada Ala dengan penuh kasih.
"Sayang, kita semua pernah melakukan kesalahan dan mungkin saling menyakiti di masa lalu. Tapi kita harus memberikan kesempatan bagi orang lain untuk memperbaiki diri. Salma menginginkan perubahan dan kesempatan kedua. Mari kita tunjukkan belas kasihan dan kebaikan hati kita dalam menghadapi situasi ini."
Ala masih terlihat ragu dan emosional. Ia merasa terluka oleh kehadiran Salma dalam kehidupan mereka. Akan tetapi, Ala sama sekali tak merasa kasihan dan luluh sedikit pun. Kali ini, ia merasa harus mempertahankan sesuatu yang menjadi miliknya.
"Uda, kamu tidak tahu bagaimana kisah masa lalu antara aku dengannya. Jika kamu merasa yakin bahwa Salma bisa berubah dan berkontribusi positif dalam keluarga kita, tetapi aku tidak!" kata Ala dengan tegas.
"Ala, apa yang kamu lakukan di sana?"
Wajah Ala langsung berputar ke arah pintu rumah. Di sana tampak sosok wanita paruh baya yang duduk di atas kursi roda.
Salma pun turut melihat Venna, ibu Rafatar yang memperhatikan mereka. Dengan cepat, kaki pincangnya berjalan menuju Venna dan bersimpuh di hadapan Venna.
"Bu, tolong saya. Dia terus saja menuduh saya. Apa yang harus saya lakukan agar dia tidak lagi berprasangka kepada saya?"
Tangan Salma menunjuk lurus ke arah Ala. Raut Venna mengernyit menatap menantunya itu.
__ADS_1