Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 16.


__ADS_3

Syauqi menatap jalanan yang masih cukup padat di kota itu. Hening dalam beberapa waktu, mesin mobil ia hidupkan kembali.


"Bod0h, dasar laki-laki bod0h! Wajah istrimu saja kau tak kenal?"


Ia teringat akan mimpi buruk yang menimpanya. "Astaghfirullah a'azim ..."


Kedua tangan mendekap setir dan ia membenamkan wajah di sana. Dia merasakan keheningan hebat mendera dalam relung jiwa.


"Apa ini artinya dia memang ingin lari?"


*


*


*


"Yakin, tidak mau menjawab panggilannya?" tanya wanita berkerudung menutup hingga perut yang duduk di samping Ala.


"Hmm, Ala butuh menenangkan diri, Bu," ucapnya sesegukan.


"Nak, jangan menangis lagi. Maafkan Uqi, ya? Sebagai ibu dari suamimu, Ibu hanya bisa mengatakan bahwa dia itu masih bingung dengan perasaannya."


Ala menatap bingkai foto yang cukup besar berisi foto ia dalam balutan pakaian adat, berdiri di samping pria tampan yang mengenakan pakaian bewarna selaras dengannya. Ala menarik tisu yang ada di atas meja lalu mengusap air mata.


"Apa benar kamu sudah menyukai anak kami?" Ibu mertuanya menatap sang suami yang duduk di sofa terpisah.


"Ala tidak tahu, Bu. Tapi, entah kenapa Ala merasa sakit menyaksikan sendiri kenyataan ini di depan mata Ala. Ala bingung, apakah harus melanjutkan ini semua. Akan tetapi, Ala juga tidak ingin mengingkari janji dengan almarhum Abi. Tapi, jika begini, Ala ...." Ia mengusap air matanya kembali.


"Bukan kah tadi kamu bilang dia telah mengakhiri percintaannya dengan gadis itu? Kenapa mesti bingung?"


"Ala merasa tidak enak hati, Bu. Ala merasa bersalah."


Ibu mertuanya tersenyum menyimpulkan sesuatu. "Atau kamu ridho dia poligami?"


Ala menggeleng pelan. "Memang, suami dibolehkan menikah hingga empat kali. Namun, Ala rasa tidak akan sanggup merelakan ia kepada wanita lain. Abi saja hanya memiliki satu istri. Almarhum berkata, takut bila tidak bisa berbuat adil, nanti malah jatuhnya menganiay4 para istri. Har4m hukumnya."


Gadis itu menunduk memainkan jemarinya. "Mungkin Ala belum menguasai ilmu ikhlas itu. Walau sebenarnya, kekasihnya lah yang harus ia nikahi. Ala merasa menjadi wanita yang merebut kekasihnya."


Ayah dan Ibu mertuanya saling bertatapan. Ayah menggelengkan kepala sejenak. "Ini kayaknya lebih baik dibicarakan dari hati ke hati," ucap pria paruh baya itu.


"Baik lah, ayah masuk dulu." Pria itu bangkit masuk ke dalam kamarnya.


Ibu mertuanya memegang pundak Ala dengan lembut. "Kami tahu kegelisahanmu. Usiamu masih belia, malah menikah dengan orang yang tidak kamu kenal. Maaf ya, membuatmu menjadi merasa seperti itu."

__ADS_1


"Namun, jika dia memang sudah memutuskan hubungan dengan Salma, itu tandanya ia ingin lebih serius lagi denganmu. Memang, Salma adalah kekasihnya sebelum mengenalmu. Akan tetapi, kamu adalah istrinya. Dia sudah berjanji kepada Allah menjadikanmu sebagai orang yang akan dilindunginya."


Ala masih menunduk, kali ini memainkan ujung tunik yang terpasang di tubuhnya. "Tapi—"


"Udah, kamu jangan terlalu memikirkan semuanya. Belum tentu apa yang ada dalam pikiranmu, benar-benar terjadi."


"Ala hanya merasa bersalah melihat dia menangis, Bu. Bahkan, Ala merasa Uda Uqi tidak mengenal Ala. Ia melihat Ala bagai orang asing. Saat berbicara pun, ia tak pernah menatap Ala dengan baik. Hal itu sungguh sangat berbeda kala ia berbicara dengan gadis bernama Salma itu."


"Ia menatapnya dengan lembut, penuh kasih."


Ibu terdengar menghela napas panjang. "Apa dia tahu kamu datang ke sini?"


Ala menggeleng, melirik ibu mertuanya merasa bersalah.


"Ibu tidak akan mengatakan hadia dan riwayat har4mnya pergi tanpa izin suami. Namun, Ibu hanya ingin tahu bagaimana perasaannya saat ini saat tahu kamu tidak di rumah."


Ala mengankat wajahnya yang sedari tertunduk lesu. Ia tak berharap banyak. Pria yang beberapa hari hidup bersamanya itu selalu saja seperti antara ada dan tiada. Mereka saling mengunci diri di kamar masing-masing.


Ibu tersenyum memegang ponselnya. "Ayo kita dengar bagaimana reaksinya. Kamu tenang aja, Ibu tidak akan mengatakan keberadaanmu."


Ala mengangguk dan duduk di samping mertuanya. Wanita cantik nan lembut disampingnya mulai mengotak-atik ponsel mencari kontak sang putra, tak lain adalah Syauqi. Tanda panggil pun ditekan dan terdengar nada sambung dari seberang panggilan.


Panggilan pun terhubung. "Assalamualaikum, Bu?" Suara pria yang ada di seberang panggilan terdengar sendu.


📲"Oh, hmmm ... anu ..." Terdengar keraguan di seberang panggilan.


"Malam ini menginap di sini ya? Ibu kangen dengan menantu Ibu. Dia ada kan?"


📲"Aaah, Humaira ... Hmm, kami sedang berada di rumah Uminya Humaira, Bu." Meskipun terdengar sedikit gugup, tetapi orang yang di seberang berusaha berbicara dengan tenang.


"Jadi lagi berkunjung ke sana? Nanti mampir sekalian dan langsung nginap di sini ya? Ibu kangen dengan kalian." Ibu berusaha semaksimal mungkin dalam drama kepura-puraan ini.


📲"Oh, kami menginap di sini, Bu."


"Waah, kamu tega ya? Kamu mau menginap di rumah mertuamu, tetapi tidak mau mengajak istrimu menginap di sini." Ibu menatap Ala tersenyum dan mengusap pipi gadis itu.


📲"Bukan begitu, Bu. Nanti, aku usahakan untuk mengajak Humaira menginap di sana juga. Malam ini, kami menginap di rumah Umi dulu."


Ibu menghela napasnya. "Baik lah, kami menunggu kalian ya? Sampaikan salam Ibu pada menantu Ibu. Kamu harus baik-baik dengannya ya?"


📲"Baik, Bu. Insya Allah."


"Assalamualaikum." Ibu menutup panggialannya.

__ADS_1


📲"Walaikumsalam."


Ibu kembali menatap gadis yang duduk di sampinya ini. "Nah, kira-kira kamu tahu nggak itu dia lagi apa?"


Ala menggeleng kembali. "Bahkan, berbicara pun dia tidak pernah menatap Ala, Bu."


"Sabar, sepertinya dia sedang berusaha untuk mengubah sikap padamu lho? Itu buktinya? Dia mencarimu hingga ke rumah Umi." terang Ibu, seakan bisa membaca pikiran sang putra.


"Bukannya dia sedang berbohong, Bu? Aku tak tahu harus bagaimana. Bahkan, dia terus saja menutupi apa yang terjadi di antara kami terhadap Ibu," ucap Ala lemah.


"Harusnya kamu seneng dong? Malah lelaki seperti itu adalah suami yang bertanggung jawab. Tidak menceritakan masalah dalam rumah tangganya kepada orang di luar rumah tangga, meskipun kepada ibunya sendiri."


Ala memasang wajahnya yang terlihat bingung.


"Kamu jangan mengkahwatirkan kisah cintanya lagi dengan Salma. Mereka sudah berakhir kan? Dan setelah ini bersiap lah dia akan mendekatimu dengan lebih intens lagi."


*


*


*


Di rumah Syauqi mondar-mandir mengusap kepalanya. "Astaghfirullah ... astaghfirullah ... Sudah banyak sekali dosa yang telah hamba perbuat ya Allah." Ia menghela napas kasar.


Drrrtt


Drrrtt


Drrttt


Dengan sigap ia menangkap ponselnya yang tadi bergetar di atas nakas berharap itu adalah panggilan dari istrinya. Namun, saat ia melihat nama Salma, Syauqi menatap ponselnya dengan nanar.


Ponselnya dilempar di atas tempat tidur membiarkan panggilan itu berhenti dengan sendirinya. Panggilan kembali terulang kembali masih dari nama yang sama dengan sebelumnya.


"Ck!" Ia berdecak kasar, masih membiarkan panggilan itu tanpa dijawabnya.


Panggilan ketiga dari nama yang masih sama, membuat Syauqi kali ini mengangkatnya dengan berat hati.


"Assalamualaikum, Salma. Aku ini sudah menikah. Tolong hentikan! Kamu itu adalah wanita muslimah yang harus bisa menjaga—"


📲"Jika kamu tidak menemuiku dalam waktu tiga puluh menit, maka, Salma hanya tinggal nama."


Wajah laki-laki itu menegang. "Astaghfirullah, apa yang kamu katakan? Jangan pernah berpikir melakukan perbuatan dos4 besar itu!"

__ADS_1


Namun, panggilan telah ditutup. Pria itu segera mengambil kunci mobil dan mengenakan jaket kulitnya. Melangkah dengan cepat, membuka pintu rumah itu demi mengejar Salma.


__ADS_2