Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 74


__ADS_3

Suara klakson yang keras terdengar di telinga Venna, dan sebelum dia sempat bereaksi, truk yang melaju tak terkendali itu menabrak taksi dengan keras. Benturan tersebut membuat Venna terlempar ke depan dan ponselnya terlepas dari genggamannya.


Ala yang baru saja naik ke mobil, begitu terpukul menyaksikan kejadian tragis itu secara langsung. Dengan menggendong Akram yang mulai tertidur pulas, ia keluar dari mobil dan berlari mendekati lokasi kecelakaan. Kecemasan memenuhi hatinya saat dia melihat mertuanya terjepit tak berdaya di dalam kendaraan yang telah ringsek akibat kecelakaan tak terduga itu.


"Ama! Ama!" teriak Ala dengan suara serak. Dia segera menangis memohon bantuan kepada siapa pun yang ada di sana.


Kebetulan kejadian tidak terlalu jauh dari rumah sakit membuat evakuasi orang-orang yang berada di dalam taksi, tidak terlalu lama berpindah ke rumah sakit.


Sementara itu, Ala berusaha menenangkan dirinya sendiri dan menghubungi suaminya. Sementara Apa, ikut serta mendorong brangkar membawa istrinya yang telah kehilangan kesadaran. Sekujur tubuh Venna berlumuran dar4h.


"Ma ... Ama ... Bangun, Ma!" bisik Apa mengikuti arah brangkar yang dibawa petugas rumah sakit.


Petugas rumah sakit membawa Ama ke UGD dan tidak mengizinkan keluarga untuk turut serta saat pasien ditangani oleh tim medis.


Tak lama kemudian, Rafatar telah hadir memasang raut yang terlihat ketakutan. "Apa yang terjadi?" tanyanya kepada dua orang yang sibuk dengan pikirannya masing-masih.


Ala segera mengejar suaminya. "Maafkan aku, Uda. Kalau bukan karena aku, Ama tidak akan mengalami hal ini. Harusnya aku saja yang—"

__ADS_1


Rafatar mengunci mulut Ala dengan telunjuknya. Ala menatap sendu pada Rafatar yang menggelengkan kepalanya.


"Kamu jangan berkata seperti itu! Jika kamu yang mengalami ini semua, bagaimana dengan anak kita, Akram? Bagaimana juga dengan aku?" Rafatar memeluk istri dan anaknya sekaligus.


"Ini adalah takdir Allah, bukan salah siapa-siapa. Kamu jangan menyalahkan diri sendiri." Rafatar mengusap punggung Ala, yang bersandar padanya.


Di tengah kecemasan dan penyesalannya, Ala berdoa dengan tulus agar Ama bisa pulih dan mereka bisa menyelesaikan perselisihan mereka dengan damai. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi lebih bijaksana dan sabar dalam menghadapi mertuanya ini.


Waktu terus berlalu di ruang tunggu rumah sakit. Setelah beberapa jam yang penuh kekhawatiran, dokter akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan Ama.


"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Apa dengan wajah penuh harap.


Akram mulai terbangung dari tidurnya. Ia merengek dan Ala segera membawanya menuju ruang khusus busui. Rafatar dan Apa saling menguatkan satu sama lain, berjanji untuk tetap bersama dan saling mendukung dalam menghadapi cobaan ini.


Waktu demi waktu terus berlalu, mereka menunggu dengan gelisah di ruang tunggu rumah sakit. Doa dan harapan terus mengalir dari hati mereka. Akhirnya, setelah waktu yang terasa seperti keabadian, dokter keluar kembali dengan ekspresi yang lebih ringan.


"Dokter, bagaimana keadaan Ibu saya?" tanya Rafatar dengan penuh harap.

__ADS_1


Dokter tersenyum lembut. "Operasi telah berhasil dilakukan. Ibu Anda masih dalam tahap pemulihan, tetapi prognosisnya lebih baik sekarang. Dia membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya, tetapi dengan perawatan yang tepat, dia memiliki peluang untuk kembali pulih."


Rasa lega memenuhi hati mereka. Mereka mengucapkan terima kasih kepada dokter atas usaha dan perawatan yang diberikan. Setelah itu, mereka diberi izin untuk menjenguk Venna yang masih lemah di ruang pemulihan.


Ketika mereka melihat Venna yang terbaring di atas brangkar, raut wajah mereka dipenuhi dengan campuran perasaan lega, cemas, dan penyesalan. Mereka mendekatinya dengan penuh kasih sayang dan berbisik kata-kata pengharapan di telinganya.


"Maafkan kami, Ma. Aku sangat menyesal atas segala perselisihan yang ada di antara kita. Aku berjanji untuk menjadi lebih baik dan membina hubungan keluarga yang harmonis. Semoga Ama segera pulih," isak Ala ketika berbisik di telinga mertuanya itu.


Apa menambahkan, "Kami tidak ingin kehilanganmu, istriku. Kamu adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga kita. Jangan tinggalkan aku sendirian di dunia ini," ucap Apa sedih.


"Ma, bangun lah ... Ama akan melihat ketulusan Ala kepada Ama. Bangun, Ma. Di sini ada Akram yang berharap Oma-nya segera bangun," ucap Rafatar menggendong Akram.


Venna, yang masih lemah, membuka mata perlahan. Dia melihat keempat orang yang berdiri di samping tempat tidurnya. Raut wajahnya penuh dengan perasaan campuran. Ada rasa sakit dan kelelahan, tetapi juga ada sedikit kilau harapan di matanya.


Dia meraih tangan Ala dengan lemah. "Terima kasih, Ala. Ama juga minta maaf atas segala kesalahan dan kelakuan Ama selama ini kepada kamu. Maafkan Ama yang selalu berprasangka kepada kamu. Sepertinya, ini adalah teguran dari Allah kepada Ama yang selalu berniat buruk padamu."


"Sudah, Ma!" ucap Apa memotong ucapan Venna.

__ADS_1


Air mata mengalir di pipi Venna berdua. "Maafkan Ama. Ama telah banyak berbuat dosa kepada Ala. Ini adalah cara Allah meminta Ama untuk menghentikan kelakuan Ama selama ini," tambah Venna.


__ADS_2