Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 44


__ADS_3

Mobil milik Rafatar, telah berbelok memasuki halaman rumah megah yang pernah didatangi Ala dulu. Kali ini, Ala merasakan debaran yang sungguh hebat. Pengalaman akan kejadian itu kembali menghantuinya.


Mobil telah berhenti, dan Rafatar menatap wajah Ala yang sudah memutih. "Apa kamu takut?"


Ala tersenyum kecut. Di dalam hatinya, tak berhenti berzikir agar ia bisa merasa lebih tenang. Ala menggelengkan kepalanya.


"Kamu tunggu sejenak, biar aku yang membukakan pintu untukmu." Rafatar membuka pintu dan berlari kecil membukakan pintu untuk Ala.


Ala tampak kaku oleh perlakuan Rafatar yang entah kenapa menjadi terlalu manis seperti ini. "Kamu mau jalan sendirian atau mau aku gandeng?" goda Rafatar.


Ala menggeleng tipis menundukan wajahnya. Rafatar tersenyum tipis karena ini sudah ia tebak semenjak awal. Gadis ini sungguh berbeda dengan siapa pun yang ia kenal.


Rafatar memang bukan lah anak yang dibesarkan dengan cara islami seperti Ala. Ia juga bukan santri yang menghapal banyak ayat. Namun, semenjak Ala menjadi tipe idealnya, setidaknya kini ia telah lebih mendalami ilmu agama.


Terlebih lagi, setelah ia diangkat menjadi CEO perusahaan dalam bidang tour and travel Haji dan Umrah.


Mau tidak mau ia harus menggali ilmu agama lebih dalam lagi, dan tata cara prosedur Haji dan Umrah yang benar, selain bagaimana caranya pemasaran agar jemaah banyak yang menjadikan perusahaannya sebagai pilihan terbaik.


"Ala, kamu tenang saja. Semua akan baik-baik saja," ucap Rafatar kembali.


Ala menganggukan kepalanya, tersenyum tipis. Rafatar membuka pintu rumahnya tanpa mengetuk sedikit pun. "Assalamualaikum," ucap Rafatar.


"Assalamualaikum," Ala mengulangi.


"Walaikumsalam," ucap seorang wanita paruh baya muncul dari dalam rumah megah ini.


Degh


Jantung Ala bagai mendapat sedikit sentilan saat mendengar suara yang menjawab panggilan tersebut.


"Waah, sudah sampai?" ucap Ama memasang senyum ramah kepada Ala.


Ala menyalami wanita itu dengan memasang rasa hormat yang besar. "Apa kabar, Ama? Apa sehat saja?" tanya Ala dengan lembut.


"Ya, Alhamdulillah. Kamu bisa lihat sendiri kan?" Venna menatap Ala dari atas hingga ke bawah kembali.


Wajah Ala terlihat putih merona, tanpa riasan yang terlalu mencolok. 'Pasti skincare-nya dari klinik dokter yang mahal,' batinnya.


Lalu, pandangan Ama berpindah pada kerudung syar'i yang dipakai oleh Ala. Ternyata, itu benda dengan harga standar. 'Hmmm, tidak mahal, dan tidak murah juga.'


Lalu, hal yang sama dilakukannya memerhatikan pakaian, sepatu, yang digunakan Ala. Lalu, keningnya sedikit berkerut menyadari ada yang kurang. 'Dia sengaja tidak pakai tas apa gimana ni?'


Rafatar seperti menyadari tingkah sang ibu, mulai merasa jengkel kembali. "Ekhem ...." Ia sengaja berdehem membuat sang ibu tersentak.


"Hmm, kamu sudah makan belum?" tanya Venna tersenyum kikuk melirik sang anak.


"Alhamdulillah, Ma. Tadi sudah makan di rumah," ucap Ala.


"Beneran udah makan di 'rumah?' Venna memberikan penekanan pada kata rumah.


Ala menyadari keanehan-keanehan yang diperlihatkan oleh ibu dari Rafatar ini. "Iya, Ma. Di rumah."

__ADS_1


"Ama pikir tadi makan di luar bareng Rafatar?" Ia melirik sang putra.


Rafatar membelalakan mata dan menggelengkan kepala menyuruh sang ibu berhenti untuk melakukan hal konyol ini.


Ala melirik Rafatar. Ia merasa tidak nyaman atas perlakuan ibu pria ini. Rafatar memberi kode tangan menggantung.


"Ma, sebenarnya Mama memanggil Ala ke sini untuk apa ya?" Rafatar mencoba mengingatkan sang ibu atas apa yang ia perintahkan kepada putranya tadi saat di kantor.


"Oh iya, maaf ... maaf. Namamu Ala kan ya?" tanya Ama kembali.


"Iya, Ama," jawab Ala singkat.


"Ama mau meminta maaf sama kamu atas semua kata Ama yang pernah menyinggung beberapa waktu lalu," ucap Ama.


Ala mengangguk memaksa bibirnya untuk tersenyum. "Iya, Ma. Aku sudah memaafkan dari jauh hari," ucapnya pelan.


"Lalu, kalau boleh tahu, saat ini usiamu berapa?"


Pertanyaan masih umum ini, Ala masih bisa memberikan dengan senyuman. "Dua puluh lima tahun, Ma."


"Wah, jadi kamu jauh lebih muda dibanding Fatar ya? Lalu kapan kamu menikah, kapan kamu cerai, apa alasan kamu bisa bercerai?"


Kening Rafatar memgerut saat mendengar rentetan pertanyaan tersebut. "Ma?" Rafatar mengingatkan sang ibu agar tidak keluar jalur lagi.


Sementara, wajah Ala telah tertunduk tidak tahu harus berkata bagaimana kepada ibu Rafatar ini. Ia kembali teringat tadi baru saja meninggalkannya bersama keluarganya di rumah.


"Maaf, Ama hanya penasaran saja. Kalau tidak mau jawab juga tidak masalah," ucap Ama melirik anaknya yang menatap tajam.


"Maaf, Ma. Tapi aku merasa pertanyaan-pertanyaan ini agak sensitif. Aku harap Ama bisa mengerti bahwa ada beberapa hal yang lebih baik tidak dibahas di sini."


Rafatar mendekatkan dirinya ke Ala, "Maaf ya, La," bisiknya memasang wajah bersalah.


"Ma, seharusnya kita menghormati privasi orang lain. Ada beberapa hal yang memang tidak perlu kita ketahui atau dibahas di sini. Yang penting sekarang adalah kami akan saling mendukung dan membangun hubungan yang baik antara keluarga kita."


Ama merenung sejenak, menyadari bahwa dia telah melampaui batas dengan pertanyaan-pertanyaannya. Dia mengangguk, "Kamu benar, Fatar. Maafkan Ama, ini bukan niat Ama untuk menyakiti atau mencampuri urusan pribadi kalian. Ama hanya ingin memastikan bahwa kalian bahagia tanpa ada yang merasa ters4kiti dan dis4kiti."


Ala tersenyum, menghargai permintaan maaf Ama. "Terima kasih, Ma. Aku mengerti niat baik Ama. Yang penting sekarang adalah kami sudaj saling mendukung dan menciptakan kebahagiaan bersama."


Ama menghela napasnya. Bibirnya merekah dengan senyuman penuh makna. "Ternyata, Ala ini orangnya sabar pakai banget ya?" ucap Ama.


"Tapi Ama jangan terus menguji begini dong?" ucap Rafatar sewot.


"Ama hanya ingin memastikan sesuatu saja," ucap Venna.


Ala tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Maafkan aku, Ama, jika aku terus membuat Ama khawatir atau bingung. Aku hanya ingin menjaga sesuatu yang tidak perlu dibahas. Akan tetapi, Ala berterima kasih atas perhatian dan kepedulian Ama."


Rafatar menatap Ala dengan lembut dan menambahkan, "Ma, kita harus saling memahami dan menghormati batas-batas pribadi satu sama lain. Itu penting dalam menjalin hubungan yang sehat dan bahagia."


Ama mengangguk mengerti. "Kamu benar, Fatar, Ala. Ama menerima dan menghormati keputusan kalian. Maaf jika Ama terlalu menggali privasi kalian. Yang penting sekarang adalah kebahagiaan kalian berdua. Ama akan mendukung kalian sepenuhnya."


Rafatar mendengar pernyataan sang ibu seketika langsung sumringah. "Jadi Ama akan mendukung kami sepenuhnya? Kalau aku katakan ingin langsung mengajak Ala menikah saja, boleh?"

__ADS_1


*


*


*


Dua insan itu saling senyum di atas mobil. Kali ini, mereka akan kembali ke rumah Ala. Ala berharap, seluruh anggota keluarga mantan suaminya sudah tidak ada lagi di sana.


Kali ini, mereka akan mencari Ummi memohon restu Ummi agar mengizinkannya langsung untuk menikah. Karena, ibu Rafatar sudah menyetujui, tetapi meminta untuk dibuatkan salamak yang cukup banyak, karena mereka adalah kumpulan keluarga yang sangat besar.


"Assalamualaikum." Ala mengetuk pintu rumah dengan hati yang berdebar. Ummi membuka pintu dengan senyuman ramah di wajahnya.


"Waalaikumsalam, Ala. Apa kabar? Apa yang terjadi?" tanya Ummi dengan penuh kehangatan.


Ala menyambut senyuman Ummi dengan hati yang lega. "Alhamdulillah, semua baik-baik saja, Ummi. Ala ingin berbicara tentang sesuatu yang penting."


Ummi mengundang Ala masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang tamu yang nyaman, di mana suasana tenang mengisi ruangan.


"Ummi, kami berdua telah memutuskan untuk menikah. Kami sudah mendapatkan restu dari ibu Rafatar. Kami datang ke sini untuk memohon restu dan doa dari Ummi," ungkap Ala dengan hati-hati.


Ummi mendengarkan dengan penuh perhatian. Matanya penuh dengan kehangatan dan pengertian. Setelah sejenak berpikir, Ummi tersenyum lembut.


"Ala, tentu saja Ummi mendukung kamu dan Rafatar. Ummi juga melihat cinta yang tulus dari matanya. Jika ini adalah kehendak Allah, maka Ummi tentu memberikan restu dan doa terbaik untuk kalian," ucap Ummi dengan suara lembut.


Air mata haru mengalir di pipi Ala. Dia merasakan beban yang telah lama dipikulnya mulai terangkat. "Terima kasih, Ummi. Kami berjanji untuk menjaga hubungan ini dengan baik dan bahagia, insya Allah," jawab Ala dengan penuh rasa syukur.


Ummi mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Ala dengan lembut. "Semoga Allah memberkahi pernikahan kalian, memberi kalian kebahagiaan, dan melimpahkan rezeki serta kesuksesan dalam hidup. Saya akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua."


Ala dan Ummi saling melemparkan senyuman dan memeluk dengan penuh kasih sayang. Perasaan lega dan bahagia memenuhi hati mereka. Mereka tahu bahwa perjuangan mereka telah membuahkan hasil, dan mereka siap menghadapi masa depan dengan penuh cinta dan kebahagiaan.


*


*


*


Tanpa berlama-lama menunggu waktu, satu minggu kemudian, akad nikah pun dilaksanakan. Tampak tangan Rafatar tengah berjabatan dengan wali hakim, sebagai pengganti Abi yang telah tiada.


"Saya terima nikah dan kawinnya Humaira Fii Jannah dengan mahar tersebut dibayar tuuuunaaai," ucap Rafatar dengan sekali lafaz.


"Sah!"


"Sah!"


Ala yang mendengar lafaz yang sangat lancar tersebut menjatuhkan air mata di pipinya. "Alhamdulillah, ya Allah. Berkahilah pernikahan kami kali ini. Jika ada sandungan, mudah kan lah kami dalam menjalaninya. Semoga, kali ini kami adalah pasangan dunia dan akhirat," doa Ala duduk di belakang bersama Ummi.


Setelah itu, Ala diantarkan duduk di samping suaminya, mencium tangan Rafatar, dibalas kecupan kening oleh Rafatar.


Dari luar pintu mesjid tempat dilaksanakan akad nikah, seorang pria mematung mendengarkan apa yang baru saja jelas menggema di telinganya, meskipun mata tak bisa melihat.


"Humaira, segampang itu kamu melupakanku? Lalu, bagaimana dengan aku?"

__ADS_1


__ADS_2