Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 58


__ADS_3

Ala tersentak mendengar ucapan sang mertua. Ummi yang tadinya juga menemani Ala tampak prihatin terhadap sang putri yang tiada henti mendapat cecaran dari besannya ini. Sementara itu, Rafatar menatap ibunya dengan sedih mengusap punggung istrinya yang mematung setelah mendengar cecaran ibunya.


"Ma, mungkin Ama tidak tahu apa yang selama ini Ala lakukan untuk bisa bertemu denganku. Kami memang tidak bisa bertemu karena ada larangan. Kami tidak bisa berkomunikasi lewat telepon, tetapi kami tetap mencoba berkomimunikasi dengan apa yang bisa kami lakukan."


"Satu hal yang Ama tidak ketahui bahwa Ala selalu mendukungku dan yakin bahwa aku tidak bersalah. Kami saling merindukan dan berusaha menjaga semangat agar bisa berkumpul kembali."


Ala menambahkan dengan suara sendu, "Ama, aku tahu mungkin Ama merasa sangat kesal karena situasi ini, tetapi tolong pahami bahwa kami berdua telah berjuang sekuat tenaga untuk menghadapi permasalahan ini. Kami berusaha memperbaiki segala yang terjadi dan ingin kembali menjalani hidup dengan baik."


Apa, ayah Rafatar memegang pundak istrinya. Wajahnya yang tadi kesal melirik suami yang memberi kode menggelengkan kepala. Ibu Rafatar mengendurkan ekspresi wajahnya sedikit demi sedikit.


"Baiklah, kali ini Ama lagi tidak ingin merusak suasana bahagia di antara kalian. Akan tetapi, ibu mana yang tidak akan marah jika menantunya berbicara dengan pria lain di saat suaminya tersandung masalah? Apalagi pria itu adalah mantan suami?"


Reaksi wajah pada Rafatar berubah dengan drastis. Ala menggelengkan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


"Makanya Ama tidak suka saat kamu memaksa memilih janda. Bagaimana pun dia pasti akan terkungkung dengan masa lalu. Kalau bukan dengan suami, mungkin juga dengan anak," ucap Ama dengan nada tajam.


"Apa maksud ucapan Ama?" tanya Rafatar dengan nada tajam.


"Bu-bukan ... Waktu itu hanya kebetulan bertemu dengannya di rumah sakit, Uda. Kami tak pernah berbicara lagi setelah kita berdua menikah dan ia menghormati itu."


Rafatar mengusap wajahnya sejenak. "Astaghfirullah." Ia menganggukan kepalanya. "Aku percaya padamu, Sayang. Tidak mungkin kamu mengkhianati aku, kan?"


Rafatar pun mencoba menjelaskan dengan tenang, "Ama, percayalah bahwa hubungan antara Ala dan mantan suaminya sudah berakhir sejak lama, karena Ala tidak pernah menyembunyikan apa pun dariku. Mereka hanya kebetulan berjumpa di rumah sakit, dan itu tidak memiliki makna apa pun. Aku sangat yakin kami saling mencintai dan berkomitmen untuk menjaganya."


"Aku sadar bahwa aku ini adalah wanita yang sudah menikah. Aku juga tahu batasan. Aku bisa bersumpah demi Allah bahwa di antara kami tidak memiliki hubungan apa pun dengan mantan suami."


"Saat ini, Uda Rafatar lah suamiku yang sah dan aku mencintainya karena Allah. Dia yang sudah memperjuangkanku semenjak dahulu, tak ada laki-laki lain yang demikian terhadapku selama ini. Tidak mungkin juga hanya karena suamiku dalam rundungan masalah, hatiku langsung berpindah dengan mudah."

__ADS_1


Rafatar merasa terharu mendengar kata-kata yang terdengar sangat indah di telinganya. "Ma, aku hanya ingin meminta doa yang terbaik untuk kami sekeluarga. Apalagi, sebentar lagi anak kami berdua akan segera lahir, ini cucu Ama, dar4h daging Ama juga sebagian ada di sana. Jadi, aku harap Ama jangan membuat hati Ala menjadi sedih."


Ibu Rafatar memandang Rafatar dan Ala dengan tatapan yang penuh pertimbangan. Setelah beberapa saat, dia menghela nafas panjang. "Baiklah, kita lihat bagaimana ke depannya."


Mertua Ala menatap lurus padanya. "Tetapi kamu juga harus ingat! Jaga nama baik suamimu dan keluarga besar kami. Kalau aneh-aneh, Ama tak akan segan untuk ikut campur dan masuk."


"Sudah lah, Ma. Kamu jangan terus ikut campur dengan keluarga mereka. Dulu kamu selalu mengadu saat ibuku ikut campur dalam keluarga kita. Kamu harusnya mengerti juga dengan perasaan Ala, jika kamu terus ikut campur begini." Akhirnya, Apa, ayah Rafatar angkat suara membuat istrinya terdiam dengan wajah kesalnya.


Ala merasa terharu dengan dukungan dan pembelaan yang diberikan oleh Rafatar dan ayah mertuanya. Dia merasa bahwa kehadiran mereka berdua adalah penopang yang kuat dalam menghadapi situasi sulit ini.


Rafatar menatap ibunya dengan penuh kasih sayang, "Ma, terimakasih atas pertimbangan dan kesempatan yang telah Ama berikan kepada kami. Kami akan berusaha menjaga nama baik keluarga dan menjalani kehidupan yang baik. Mohon doa dari Ama agar kami bisa membina keluarga yang bahagia dan sukses."


Ibu Rafatar, setelah mendengarkan kata-kata Rafatar dan melihat dukungan ayah Rafatar, mengendurkan wajahnya yang tegang. Dia menyadari bahwa tindakannya yang terlalu intervensi mungkin telah menyebabkan kekhawatiran dan kesedihan pada Ala.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mencoba untuk tidak terlalu ikut campur dalam urusan kalian. Tetapi, jangan sampai ada hal yang merugikan keluarga atau mengganggu ketentraman batin kami."


__ADS_2