Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 73


__ADS_3

Venna, yang marah dan kesal, mengeluarkan ponselnya dengan niat untuk mengirimkan foto kepada Rafatar dan memberitahunya tentang keberadaan Ala bersama pria lain. Namun, sebelum dia sempat menekan tombol kirim, dia tersandung dan kehilangan keseimbangan.


Apa yang melihat kejadian tersebut segera berlari mendekati sang istri yang tiba-tiba terjatuh sendiri. "Ma, apa yang kamu lakukan? Kamu baik-baik saja kan?" Apa menarik istrinya untuk bisa bangkit kembali.


Ama merasakan sakit di kakinya. "Ama baik-baik saja, Pa. Hanya sedikit terpeleset kok. Tapi lihat! Tuh, apa yang dikerjakan oleh menantu Apa. Ama hampir saja memberitahukan anak kita Fatar tentang kelakuan istrinya!" Venna mengeluh sambil menunjukkan ponselnya yang masih memegang gambar Ala dan Syauqi.


Apa membesarkan matanya menggeleng. "Ma, apa kamu senang membuat anak kita dan istrinya berpisah? Bukan kah kamu sendiri tahu bagaimana sakitnya ketika berpisah? Apa kamu mau menyakiti anak, menantu, dan cucumu?"


Venna tersenyum kikuk. Padahal, ia berharap sang suami mendukung sikapnya agar tidak mudah percaya kepada Ala. Ternyata, semua ini malah membuat ia dimarahi oleh Apa, lagi.


"Jangan, Pa. Apa tak tahu bagaimana galaunya Ama saat Apa menalak Ama. Jangan ucapkan kata-kata laknat itu lagi kepada Ama. Hati Ama sungguh sedih sempat menjadi janda meski hanya sesaat. Jadi, Ama mohon, Apa jangan melakukannya." Venna merangkul lengan Apa menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami.


"Jika kamu tidak ingin disakiti, maka kamu jangan menyakiti orang lain! Apalagi akan merusak rumah tangga anakmu! Apa yang kamu lakukan tidak akan membawa kebaikan bagi siapa pun. Kita sebagai orang tua, harusnya mampu menyelesaikan apa pun masalah yang dialami oleh anak dengan cara yang baik! Bukan dengan menghasut dan menyebabkan perselisihan di antara mereka!" Apa menceramahi Ama dengan panjang lebar.


Hal ini malah membuat Ama semakin kesal dan frustrasi. Ia pun pura-pura memahami apa yang baru disampaikan oleh suaminya.


Meski ia menyadari bahwa tindakannya tidak akan membawa kebaikan dan hanya akan memperburuk situasi, ia masih getol untuk mencoba mengulangi mengirimnya di saat sang suami tidak ada.

__ADS_1


'Enak aja dia? Masa aku terus yang dimarahi Apa dan dia terus dipuji dan disayangi suaminya? Ini tak adil dong?' batin Venna meski bibirnya terulas senyuman di hadapan suami.


"Mungkin Apa memang benar. Ama juga tidak ingin menyakiti keluarga mereka kok. Hanya saja Ama tidak suka jika anak Ama dikhianati olehnya."


Apa memasang wajah datar menatap istrinya. "Jadi, jika bicara dengan pria lain saat suami tidak ada secara kebetulan itu salah? Jadi, jika kamu ketemu dengan kawan lama tanpa sepengetahuanku itu berarti kamu selingkuh?" ucap Apa dengan cukup keras.


"Ya enggak lah, Pa. Ama kan cintanya cuma sama Apa. Ama kan menikahnya cuma sama Apa. Berbeda dengan dia, seorang janda. Memiliki masa lalu dan pernah hidup bersama dengan pria lain. Hal itu bisa saja menjadi pemicu kerusakan rumah tangga yang berikutnya. Wanita yang pernah gagal, kapan pun akan terus gagal," ucap Venna mempertahankan argumennya.


Pandanganya beralih pada menantu dan cucunya. Ala ternyata masih berada di koridor memeluk Akram yang terlihat mulai tenang. Ia tidak menyadari sama sekali apa yang terjadi di antara ibu dan ayah mertuanya.


"Semoga keluarga kalian berdua sakinah, mawwadah, dan warrahmah. Aku mendoakanmu dengan tulus," ucap Syauqi mengusap kepala Akram.


Namun, alangkah terkejutnya ia melihat ibu mertuanya menatap dengan sinis.


"Maaf, Ma ... Ini tidak seperti yang Ama bayangkan. Aku tak sengaja bertemu dengannya," ucap Ala mencoba membela diri sebelum mulut berbisa mertuanya tumpah di hadapannya.


"Huh, alasan!" ucap Venna dan berjalan cepat meninggalkannya.

__ADS_1


Apa memegang pundak Ala. "Kamu sabar ya? Ama emang begitu, nanti akan baik lagi kok. Jadi jangan diambil hati," hibur Apa.


Ala mengangguk, meski ia mulai menebak apa yang baru saja dibahas oleh kedua mertuanya ini. Mereka pun menuju parkiran hendak naik kendaraan.


Namun, Venna malah turun dari mobil ketika Ala naik. "Ama mau naik taksi aja, ucapnya ketus."


Apa hanya melihat tanpa mencegah ancaman itu. Sehingga Venna menjadi semakin marah menganggap suaminya lebih memilih Ala dibanding dirinya.


Venna segera menyetop taksi dan naik. Kendaraan yang ia tumpangi mulai bergerak meninggalkan suami dan wanita yang ia benci.


"Awas kau ya Ala, gara-gara kamu, suami dan anakku tak menganggapku istimewa lagi!" Venna mengeluarkan ponselnya kembali. Ia mencari hasil jepret yang ia ambil di rumah sakit tadi.


"Awas ya ..."


Tanpa ia perhatikan sama sekali, dari arah berlawanan, sebuah truk melintas cepat tak terkendali.


"Awaaaass!" teriak supir taksi membuat Venna tak sempat terkejut karena masih sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Braaaakk


__ADS_2