Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
89. S2-15


__ADS_3

*Mohon maaf ya kakak Readers semua. Beberapa waktu terakhir gak bisa update. Hal ini dikarenakan seluruh anggota keluarga jatuh sakit secara bergantian. Jadi, bener-benar tak bisa lanjut update. Tapi Kakak readers tenang saja, sebagai orang bertanggung jawab, Authornya memastikan akan menamatkan cerita ini. Semangat.*


...****************...


"Abi, nanti Abi nikahnya sama tante Aulia ya? Baim pengen punya Ummi seperti dia."


Syauqi tertegun mendengar permintaan anaknya. Entah kenapa harapan yang ada di hatinya, seirama dengan keinginan putranya ini. Namun, ia sadar diri. Tak mungkin mantan adik iparnya itu menerima dirinya. Sementara, dulu ia pernah mengkh14nati sang kakak.


Syauqi hanya mengusap rambut putranya dan tersenyum kecut. Ia tak bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya.


"Abi hanya bisa berdoa diberi umur yang panjang agar bisa membesarkanmu hingga kamu menjadi pria soleh yang cerdas dan bisa memilih mana yang baik, mana yang buruk, tidak seperti Abi di masa muda dahulu."


Baim menatap panjang sang ayah. "Memangnya dulu Abi seperti apa?"


Syauqi kembali mengusap rambut putranya dan menggelengkan kepala. "Ayo pulang dulu. Nenek pasti sudah menunggu kita."


*

__ADS_1


*


*


Di tempat lain, Salma terus memandangi putrinya dengan tatapan kosong. Dalam pikirannya, terus saja berputar memikirkan bagaimana cara agar bisa mengambil hati Syauqi. Matanya memang menatap putrinya yang tengah belajar berjalan. Akan tetapi, ia sama sekali tak menyadari sang putri telah mulai belajar melangkahkan kakinya satu demi satu, dan itu bukan ke arah dirinya.


"Huwaaaaaaaaaa ...."


Sebuah tangisan yang sangat keras, menyentakan dirinya dari lamunan panjang yang terjadi tanpa ia sadari. Kepalanya cepat berputar menatap segala arah mencari sumber suara yang terus menangis dengan hebat.


"Ah, ke mana lagi dia?"


Suara tersebut berasal dari arah dapur dan putrinya dalam keadaan tengkurap menangis di sana. Namun, ternyata bagian itu begitu licin karena ada genangan air. Syiafa menatap Salma dalam tangisan kesakitan.


Salma menatap putrinya itu dengan wajah kesalnya. "Kenapa kau bisa sampai ke sini?" Salma menarik putrinya itu dengan kasar. Hal ini membuat bayi itu menangis dengan lengkingan yang semakin keras.


"DIAM!" bentaknya tak menyadari bagian kepala sang putri yang baru saja mendapatkan benturan yang keras di bagian kepala.

__ADS_1


"Ku bilang diam!" bentakan sang ibu membuat Syifa terdiam sejenak. Bayi kecil itu kembali menangis dengan sangat dahsyat.


Salma menggaruk kepalanya dengan kesal dan mengangkat Syifa menuju kamar. Ia mendudukan bayinya itu di atas kasur yang hanya terbentang di atas lantai. Lalu, tanpa satu kata pun ia keluar membiarkan sang bayi menangis berencana ingin membuatkan sussu agar bayinya itu tenang.


Sang bayi tercekak, dan mengeluarkan munt4h dengan sangat hebat tanpa pantauan Salma. Sementara itu, Salma masih berada di dapur menyiapkan botolsusu untuk putrinya. Ia sama sekali tak mengecek apa yang terjadi pada sang putri.


Perlahan tangisan putri terdengar meredam dan hanya terdengar sedikit suara yang berbeda.


"Akhirnya diam juga dia." Salma masih menyiapkan minuman untuk bayinya itu. Ia tak menyadari apa yang sedang terjadi pada putrinya saat ini.


Setelah selesai menyiapkan sussu untuk putrinya itu, Salma segera masuk ke dalam kamar. Alangkah tertegunnya dirinya melihat wajah sang putri membiru dan Syifa saat ini sedang mengalami kejang dengan suara menggigil lemas.


"Syifa?" pekiknya dengan wajah kaget.


Salma segera mengangkat putrinya itu dan berlari menuju rumah Syauqi yang berada tak jauh dari rumah kontraknya.


"Baaang, Baaaang, Bang Syauqii?" teriaknya panik ke arah rumah mantan suaminya itu.

__ADS_1


Namun, yang keluar dari dalam rumah tersebut adalah seorang wanita paruh baya menatap Salma dengan wajah mengerut.


"Kau? Kenapa lagi kau?"


__ADS_2