
Saat kembali ke Indonesia, Ama dan Apa Rafatar menjemput sang anak ke bandara. "Semoga aja, anakmu pulang-pulang menangkap jodoh ya, Pa? Ama sungguh tak sabar untuk mengadakan pesta pernikahan untuk anak kita itu," ucap Ama memanjangkan leher mencari keberadaan putranya.
"Sebenarnya kita tak perlu lah menjemput dia begini, Ma. Dia kan menjadi pimpinan rombongan perjalanan. Barangkali aja dia akan merasa terbebani jika kita jemput begini," ucap Apa.
"Nggak lah, Pa. Biasanya kalau pulang begini mereka akan dijemput keluarga masing-masing. Biar kita ikut menunggu di kedatangan juga kan." Kepala Ama semakin aktif mencari sosok sang putra yang sudah landing sejak setengah jam yang lalu.
"Nah, itu dia!" ucap Ama semangat.
Namun, tatapan yang tadinya bahagia melihat sang putra yang terlihat sibuk mengurusi peserta umrah, ia menangkap satu sosok yang masih begitu jelas terukir dalam ingatannya. "Loh? Kenapa dia ikut Umrah barenga anak kita? Jangan-jangan, dia memang suka memanfaatkan pria? Apalagi tahu Fatar tergila-gila padanya membuat ia dengan tidak tahu malu minta Umrah gratisan pada Fatar."
"Ssstt! Ma, malu? Kamu jangan gitu ah! Siapa tau dia memang mendaftar sendiri dengan uangnya kan? Kamu jangan biasa berprasangka seperti itu! Tidak baik!" ucap suaminya.
"Ya nggak terima dong, Pa? Ini kan bisnis? Kalau gratisan-gratisan terus, nanti perusahaan kita bisa bangkrut gara-gara dia. Heran, kenapa makin hari janda semakin di depan? Pantas aka dia ditinggalin suami? Pasti kerjanya morotin terus."
"Sssttt! Ma! Jaga ucapannya!"
Ala tengah membawa semua bawaan miliknya dan Ummi menggunakan troley bandara, tanpa sadar telah melewati kedua orang tua Rafatar. Ummi berjalan tanpa beban apa pun mengikuti Ala. Ala tidak mengizinkan sang ibu membawa apa pun.
"Dih? Mereka berdua? Jadi uang anak kita yang keluar juga dobel dong?" geram Ama kesal di samping suaminya.
"Sttt! Lihat itu, Ma! Dia membawa barang yang mereka pakai berdua, sendirian. Itu artinya apa? Itu tandanya dia sangat menyayangi ibunya itu. Jika dia berlaku demikian, itu tandanya ilmu agamanya sangat dalam, Ma. Nggak mungkin dia begitu kan?" Apa mencoba menenangkan dengan logika.
"Kenapa Ama tidak mencoba untuk mengenal dia lebih dulu? Kamu kan belum tahu gimana keluarga mereka sesungguhnya. Coba kamu cari tahu lewat ibunya Ryzki lah! Pasti ia tahu cerita yang sebenarnya!"
Namun, Apa tidak sadar, ternyata istrinya sudah menjauh dan berjalan mendekati sang putra. Namun, setelah mencium tangan sang ibu, Rafatar dengan muka datar beranjak, menuju ayahnya dan menyalaminya juga.
"Aku pergi," ucap Rafatar dingin.
"Fatar, apa kamu tidak mau menginap di rumah malam ini?"
Rafatar melirik tipis. "Aku sudah punya rumah sendiri," ucapnya dingin.
*
*
*
Pada hari Jumat, Ala menerima undangan istimewa dari sebuah panti asuhan tempat ia biasa memberikan donasi. Panti asuhan tersebut sedang mengadakan acara Maulid Nabi Muhammad, dan Ala diundang sebagai tamu kehormatan.
Kejadian ini bertepatan dengan kehadiran banyak undangan yang juga menjadi donatur di panti asuhan tersebut. Ala kembali memberikan donasi, kali ini berupa makanan catering untuk semua anak panti dan tamu undangan.
"Sangat terima kasih, Zah Humaira. Kali ini kami mengundang Anda bukan untuk meminta donasi. Hari ini adalah acara Maulid Nabi yang murni untuk perayaan," ucap kepala panti.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya ingin memastikan bahwa anak-anak merasa nyaman dan para tamu undangan juga menikmati acara ini. Jadi, mari kita makan bersama-sama," ujar Humaira.
__ADS_1
Tidak disadari oleh mereka, obrolan pribadi mereka terdengar oleh Nyonya Venna, ibu Rafatar, yang juga merupakan salah satu donatur tetap di panti asuhan ini.
Nyonya Venna, yang tak sengaja mendengar obrolan itu, merasa penasaran dengan kehadiran Ala di acara panti asuhan tersebut. Dia merasa terkejut karena tidak menyangka bahwa Ala juga aktif berkontribusi di tempat yang sama.
Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, Nyonya Venna mendekati Ala dengan senyuman ramah. "Permisi, maaf mengganggu. Saya mendengar bahwa kamu juga sering berdonasi di sini." ucap ibu Rafatar membuat Ala sangat terkejut. Dengan seketika, terngiang kembali di dalam ingatannya akan kata-kata yang membuat hatinya pilu.
"Wah, sejak kapan dia mulai berdonasi di panti ini?" tanya Venna dengan curiga. Ia khawatir, dana yang dikeluarkan untuk donasi ini adalah uang pemberian anaknya, yang sengaja difoya-foyakan oleh Ala.
"Wah, Bu Venna, keluarga Zah Humaira ini sudah menjadi donatur tetap di panti asuhan kita ini semenjak ayahnya dulu. Jadi, setelah ayahnya meninggal dunia, Zah Humaira yang mengambil alih semua tugas almarhum, hingga ke panti asuhan ini juga."
Ibu Rafatar tercengang mendengar penjelasan kepala panti asuhan ini. "Emangnya ayahnya dia kerja apa, Bu? Kenapa bisa menjadi donatur tetap hingga dilanjutkan oleh dia?"
"Wah, Ibu belum tahu ya? Apa Ibu tahu Pondok Pesantren Al Amanah?" tanya kepala Panti Asuhan.
"Ya, tahu dong. Itu pondok pesantren yang paling diminati akhir-akhir ini kan? Apalagi, rancangan bentuk bangunannya yang semakin keren, jadi harus rebutan kursi untuk masuk ke sana," ucap Venna yang sosialita.
"Nah, pondok pesantren itu adalah rintisan keluarga Zah Humaira ini. Dan, rancangan arsitek pembangunan baru dari pondok pesantren itu adalah karya Ustadzah Humaira yang jelita ini," terang Kepala Panti Asuhan dengan senyum bangga terhadap Ala.
"Bu, jangan terlalu memuji. Nanti saya jadi besar kepala," ucap Humaira tersenyum kikuk. "Saya pulang dulu Bu-Ibu." Ala menyalami Kepala Panti dan Ama Rafatar.
Wanita itu melongo tak percaya atas apa yang baru saja ia dengar. "Masa sih?"
*
*
*
Venna disambut dengan hangat dan rasa hormat oleh para karyawan yang bekerja di sana. "Ada yang perlu kami bantu, Bu?" tanya karyawan sang anak.
"Ya, saya ingin ketemu dengannya. Di mana dia?" tanya Venna berjalan lurus ke ruang CEO.
brak
Rafatar yang tengah menginput data peserta haji dan umrah yang mendafatar di biro-nya, terkejut mendapati kedatangan sang ibu. Di belakang ibunya, tampak wajah beberapa karyawan yang merasa bersalah menangkupkan kedua tangan. Rafatar mengangguk dan menyilakannya pergi.
"Assalamualaikum," ucap sang ibu sedikit ketus terus masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Walaikum salam." Rafatar kembali menyibukan diri dengan PC yang ada di hadapannya.
"Kenapa kamu tidak pernah menghubungi, tidak pernah datang ke rumah, dan tidak menjawab panggilan Ama?" tanya Venna terlihat geram akan kelakuan sang putra.
"Hmmm, Ama datang ke sini cuma buat marah-marah?" Rafatar bangkit dari kursi kebesarannya yang bisa berputar.
"Mau ke mana?" tanya Venna.
__ADS_1
Namun, Rafatar tidak mengubris pertanyaan sang ibu. Venna yang benar-benar kesal, menarik lengan putranya.
"Kamu kenapa sih, kenapa selalu menghindari Ama? Apa wanita—"
"Stop, Ma. Stop! Jangan menyalahkan dia terus. Bahkan dia tidak tahu apa-apa malah menjadi incaran amarah Ama?" Rafatar membuang mukanya.
"Jika dia memang wanita yang baik, tidak mungkin dia menghasudmu untuk meninggalkan rumah kami, Fatar. Ini kalian belum apa—"
"Stop, Ma! Dia tidak tahu apa-apa tentang masalah kita! Jangan salahkan dia terus! Bahkan, kami tidak pernah bertemu, kecuali saat Umrah kemarin. Dan itu pun, dia terus menghindari aku. Jadi, Ama jangan salahkan dia lagi!" Rafatar tampak gusar oleh kelakuan ibunya.
"Kemarin pas Umrah, kamu jujur sama Ama! Uang kamu kan yang digunakannya untuk biaya Umrah bersama ibunya dia?"
Darah Rafatar seketika mendidih mendengar tuduhan tak berdasar itu. "Kenapa Ama berpikir seperti itu?"
"Ya, dia kan penggoda ..." ucap Venna asal.
"Astaghfirullah al'azim, Ma? Istghfar, Ma! Kenapa Ama berpikiran demikian? Bahkan dia mendaftar Haji Plus dan Umrah itu sebelum kami bertemu kembali."
Mulut sang ibu kembali melongi. "Dia daftar Haji Plus? Kok bisa?"
"Sudah lah, Ma. Jika aku kasih info lagi dan lagi, ujung-ujungnya pertanyaan Ama akan bertambah lagi. Aku lelah, Ma. Aku pulang duluan." Rafatar kembali bergerak keluar dari ruang kerjanya.
"Fatar, Ama belum selesai bicara. Ama sudah memikirkan masak-masak! Coba lah kamu ajak siapa itu nama dia? Ama mengundangnya untuk ke rumah. Ama ingin mengenalnya lebih dalam lagi," ucap Venna dengan cepat sehingga berhasil membuat langkah Rafatar tertahan.
Sang putra melirik ibunya. "Beneran?"
"Iya, beneran. Ama ingin minta maaf secara langsung kepadanya."
Setelah mendapat lampu hijau dari sang ibu, Rafatar bergerak begitu saja menuju rumah Ala. Ia memperkirakan Ala telah berada di rumah pada jam sekarang.
Dengan semangat Rafatar memasukan kendaraannya ke halalaman rumah Ala. Namun, ternyata, di sana juga sudah terparkir sebuah mobil. Kebetulan sekali ia melihat Ryzki, adik sepupunya dengan begitu saja ia memanggil tanpa ada beban.
Ryzki berjalan cepat mendekat. "Bang? Udah lama tidak lihat? Kenapa nggak pernah main ke sini lagi?" tanya Ryzki.
"Aah, itu ... Kemarin ada sedikit kendala dengan Ama. Kamu tau lah Ama-ku kayak apa kan?"
Ryzki mengangguk dan ia memutar kepala melihat mobi yang sedang terparkir di halaman. "Lalu sekarang Makwo bagaimana? Udah dapat restu?"
"Nah, ini! Aku mau mengajaknya ketemu sama Ama," ucap Rafatar sedikit sumringah.
Ryzki menggaruk kepalnya tampak sedikit kikuk. "Ah, terlambat," ucap Ryzki. Ryzki melirik mobik yang terparkir dan bagian dalam rumah.
Hal membuat Rafatar memasang wajah bingungnya? "Maksudnya? Apanya yang terlambat?" tanya Rafatar sedikit gregetan karena tingkah Ryzki tampak cukup aneh.
"Huuh, mantan suami Uni Ala datang bersama keluarganya untuk mengajak Uni Ala rujuk kembali," ucap Ryzki.
__ADS_1
"APA?"