
"Malam pertama? Ya biasa, tidur seperti malam-malam lainnya." Ala menjawab dengan enteng dan kembali fokus pada buku yang ia baca.
Wawa menarik kedua pundak sahabatnya itu dengan paksa. "Serius kamu, La? Kalian nggak lakuin hal seperti film-film pemersatu bangsa itu?" Tanpa sadar, Wawa sedikit histeris dan greget kepada Ala.
Mendengar suara yang cukup berisik itu, membuat pengunjung ruang baca lainnya merasa terganggu, membuat mereka mendapat sorotan tajam.
"Ekhem ...." Pengurus ruang baca pun telah memberi peringatan pertama.
Ala menangkupkan kedua tangan di depan dada, menundukan kepala ke kiri, kanan, depan, dan belakang meminta maaf dalam bentuk isyarat karena telah membuat kegaduhan. Ala menatap Wawa dengan tajam.
"Kamu tahu, orang-orang yang ada di ruangan ini alergi terhadap kebisingan?" bisik Ala.
"Maaf ... Maaf ...." Wawa menarik kertas pada notes yang ia bawa. Pada secarik kertas itu, ia mulai menulis sesuatu, tetapi Ala tidak memedulikan tingkah sahabatnya ini.
W: 'Apa kamu menyukai dia?'
__ADS_1
A: 'Entah lah.'
W: 'Aku lihat, dia sangat tampan. Seperti yang sudah-sudah, dia lebih tampan dibanding Uda Rafatar.'
A: 'Lho? Kenapa Uda Rafatar? Jangan sebut-sebut nama pria lain dalam pernikahan kami. Aku tidak ingin, itu menjadi sebuah f1tnah yang menyebar luas. Itu pasti sangat memusingkan! Sedangkan pernikahan mendadak ini saja sudah membuat kepalaku cukup pusing!'
Wawa yang membacanya terlihat menghela napas panjang. Ia menepuk pundak Ala pelan. "Sabar ... Sabar ... Semua ini pasti ada hikmahnya. Kata orang, menikah itu bagai ladang pahala. Sentuh suami dikit, dapat pahala, cium suami dikit dapat pahala lagi, apalagi itu bikin anak." Wawa terkekeh dalam setengah bisikannya.
Ia tak menyadari wajah teman yang ada di sampingnya mendadak merah padam mendengar ucapannya barusan. Ala menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas tiba-tiba.
"Ekhem ... Kalau kalian terus saja berbicara tentang proses pembuatan anak, lebih baik kalian keluar saja! Sekalian konsultasi dengan bidan atau siapa pun itu! Di sini adalah Ruang Baca Jurusan Teknik Sipil! Bukan area ilmu tentang perkembangbiakan!"
Ala dan Wawa menunduokan kepala mendengar cecaran tersebut. Mereka berdua saling sikut dan menyalahkan satu sama lain.
*
__ADS_1
*
*
Usai dimarahi penjaga ruang baca tadi, akhirnya Ala dan Wawa berpindah pada taman kampung di bawah gazebo yang ada di halaman kampus.
"Wa, sebenernya menurut kamu aku ini gimana sih? Kamu jujur aja jawabnya! Jangan alihkan pada yang lain!" tanya Ala gamblang terhadap sahabatnya ini.
Wawa mengusap jemarinya pada dagu menilik gadis berhijab yang sebenarnya sedikit pemalu itu. "Cantik kok, seperti yang aku katakan. Kamu itu terlalu kaku!"
"Lalu, aku harus gimana?" tanya Ala lagi.
"Itu kembali pada kamunya! Apa kamu suka sama dia atau tidak?"
Ala teringat masa pertama jumpa dengan pria yang akan menikah dengannya itu. Secara tak sadar, bibirnya terukir senyum tipis.
__ADS_1
"Biar aku saja yang menebak. Sebenarnya kamu suka dia kan? Hanya saja kamu malu untuk mengatakannya. Kalau kamu tidak suka, tak mungkin dong kamu menerimanya begitu saja?"