Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 19.


__ADS_3

Rafatar mendekati Ala dengan perasaan campur aduk antara gembira dan gugup, bertekad untuk mengangkat semangatnya. Ia menemukannya berjalan di lorong kampus yang hijau, masih terlihat ceria meskipun sempat murung belakangan ini. Saat semakin mendekat, ia mengumpulkan keberanian untuk memulai percakapan.


"Hey, Ala! Bolehkah aku menemanimu?" tanya Rafatar sambil tersenyum hangat.


Ala menoleh, sedikit terkejut melihat Rafatar dengan datar. "Oh, Uda. Hmm, gimana ya? Tapi baiklah, setidaknya aku mendapat teman," jawabnya, senyumnya semakin melebar.


Saat mereka berjalan bersama, Rafatar tak bisa tidak memperhatikan energi yang memancar dari Ala. Ia merasa tertarik dengan aura positifnya, dan itu memperkuat tekadnya untuk membawa kebahagiaan dalam hidup Ala.


"Ala, apa yang terjadi? Aku melihat kamu agak sedih belakangan ini," ucap Rafatar, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Apakah semuanya baik-baik saja? Apakah ada yang bisa aku bantu? Jangan sungkan terhadapku, ya?"


Senyuman Ala sedikit memudar, dan ia menghela nafas. "Ah, aku baik-baik saja," elak Ala sedikit kaku.


Rafatar mendengarkan dengan penuh perhatian, hatinya tergerak untuk Ala. Ia menyadari bahwa ia benar-benar peduli pada Ala dan ingin ada di sisinya, meskipun itu berarti terlibat dalam situasi yang rumit.


"Aku mengerti mungkin saat ini adalah waktu yang sulit bagimu, Ala," ucap Rafatar penuh empati. "Jika kamu perlu seseorang untuk diajak bicara atau teman untuk bersandar, aku di sini untukmu. Kadang-kadang, memiliki seseorang yang sungguh peduli bisa membuat perbedaan besar."


Mata Ala yang tadinya ceria penuh rasa cinta terhadap suaminya, kini menatap Rafatar tanpa ekspresi dan dingin. "Terima kasih, Uda. Terima kasih untuk niatmu dalam memberi dukungan kepadaku. Namun jangan khawatir, aku baik-baik saja."


Rafatar tersenyum kecut, menyadari penolakan yang diberikan Ala. Namun, hatinya telah kukuh untuk melepaskan Ala kesulitan dalam hidupnya. Tanpa diminta, dalam hatinya memutuskan untuk mengambil langkah perlahan dan tetap ada di sampingnya, terlepas dari apakah hubungan mereka berkembang menjadi lebih dari sekedar teman.


Saat mereka melanjutkan langkah, Rafatar dan Ala terlibat dalam percakapan yang ringan akan tetapi terlihat kaku. Ala jelas terlihat menjaga jarak karena ia sadar akan marwahnya menjadi istri dari pria yang dipanggilnya Uda Uqi.


Wawa, sahabat Ala, menangkap adanya kedekatan yang tidak biasa antara Rafatar dan Ala. Ia merasa perlu ikut serta dalam percakapan tersebut.

__ADS_1


Wawa masih jelas mengingat saat ia berpisah dengan Ala kemarin, di mana Ala terlihat sedih meskipun ia tidak mengetahui alasan di balik kesedihan tersebut.


"Hei, jangan berdua aja ya ngobrolnya dengan perempuan yang sudah menikah," ucap Wawa, memberikan peringatan kepada mereka.


Rafatar dan Ala sedikit terkejut dengan intervensi Wawa. Rafatar segera memberikan penjelasan dengan sopan, "Maaf, Wawa, tidak ada maksud buruk di sini. Saya hanya ingin menyemangati Ala. Sepertinya ia sedang menghadapi masalah dalam pernikahan. Aku akan menjadi teman yang mendukungnya."


Ala menambahkan, "Benar, Wa. Kami tidak ngapa-ngapain kok. Ini bukan tentang hubungan romantis antara kami, tapi lebih pada antara senior dan junior biasa."


Wawa melihat ekspresi dan nada suara mereka, ia kemudian menyadari bahwa tidak ada yang salah dengan niat baik Rafatar. Ia berusaha mengubah sikapnya yang curiga menjadi lebih bijaksana.


"Maafkan aku, teman-teman. Aku hanya khawatir dengan hubungan kalian dan tak ingin ada yang tersakiti. Jika memang ini tentang persahabatan dan saling dukung, maka aku pun mendukung kamu, Ala," ucap Wawa dengan tulus.


Ala tersenyum, merasa bersyukur atas dukungan sahabatnya. "Terima kasih, Wawa. Aku tahu kamu peduli padaku, dan aku menghargai itu."


Rafatar mengangguk, merasa lega bahwa persepsi Wawa telah berubah. "Sama-sama, Wawa. Aku juga berterima kasih atas pengertiannya."


*


*


*


Di sisi lain, Syauqi mencuri waktu di sela jam mengajarnya yang belum jelas pada Pondok Pesantren milik keluarga istrinya, Humaira. Ia tengah melaju menuju sebuah hotel, di mana Salma menginap setelah berhasil membatalkan rencana aksi bnuh dri yang dilakukan Salma demi mendapatkan cinta Syauqi kembali.

__ADS_1


Beruntung Salma tidak kenapa-napa dan belum melakukan tindakan nekat itu. Saat telah sampai di hotel, Syauqi hanya berencana berbicara sekedarnya saja, di luar ruangan. Ia ingin membawa Salma untuk berbicara di luar. Namun, hal di luar nalar terjadi. Gadis itu bagai kehilangan akal menarik Syauqi memaksa masuk ke dalam kamar itu.


"Astaghfirullah, Salma? Apa yang kamu lakukan? Kita ini bukan muhrim. Tidak baik berduaan saja di dalam kamar hotel ini," ucap Syauqi gugup.


Salma yang nyatanya juga dalam keadaan gugup menarik kerudungnya membuat laki-laki tampan itu refleks menutup mata.


"Pakai lagi kerudungmu!" Syauqi memutar tubuhnya.


"Nikahi aku sekarang juga! Aku sudah siap untuk jatuh dalam pelukanmu. Bagiku tak masalah jika hanya menjadi yang kedua bagimu karena katamu, hanya ada aku di dalam hatimu." Sebuah pisau buah yang terletak di atas meja, ditarik masuk ke dalam genggamannya.


"Aku tidak bisa melihatmu saat ini, tolong pakai jilbabmu. Jangan lah dengan mudah kamu menuruti hasrar yang menggebu di dalam hatimu. Coba pikirkan kembali!" Syauqi tidak melihat benda apa yang tengah dipegang oleh Salma.


"Ayo, Bang. Temui orang tuaku. Nikah siri saja sudah cukup bagiku. Aku sudah siap melebur menjadi satu bersamamu. Saat ini juga aku pun telah siap!"


"Astaghfirullah Salma! Apa yang kamu katakan? Istighfar! Kamu itu wanita muslimah, gadis yang aku cinta karena ketaatanmu, bahkan rela menempuh pendidikan jauh ke negeri Kairo. Ke mana ilmu yang selama ini kamu dapatkan? Jangan seperti ini! Jika kamu begini, jangan salahkan aku jika benar-benar akan meninggalkanmu!"


Tanpa sepengetahuan Syauqi, pisau buat tadi telah menyobek bagian-bagian penting pada pakaian yang sedang melekat pada tubuhnya. "Tolong! Tolong aku! Laki-laki itu ingin memperk0sa aku." Sebuah ponsel tampak mengarah kepada Syauqi.


Syauqi yang tidak memahami apa yang tengah terjadi melirik ke arah belakang. Matanya terbuka dengan sangat lebar melihat pakaian Salma telah robek di mana-mana.


"Tolong aku, dia hanya laki-laki manipulatif! Tampangnya saja yang baik-baik di luar, tapi kelakuannya sangat k3ji." Salma terus merekam dan berkicau.


"Salma, apa yang kamu lakukan?" Meskipun ia tak kuasa melihat setiap sobekan pada pakaian Salma, tetapi ia berusaha untuk merebut ponsel yang terus merekam wajahnya.

__ADS_1


"Nikahi aku sekarang juga, sebelum video ini viral!"


"Ck, baik lah! Ayo sekarang kita temui orang tuamu!"


__ADS_2