
Kedua pasangan itu duduk di ruang tunggu, hati mereka terasa berat dengan berita yang baru saja mereka terima. Suasana hening dan tegang memenuhi ruangan tersebut.
Rafatar terlihat cukup shock mendengar berita yang baru saja disampaikan oleh dokter itu.
Ala mencoba menguasai emosinya, tetapi air matanya masih terus mengalir. Dia memandang Rafatar, mengharap mendapat dukungan dari suaminya. Rafatar, meski mencoba tersenyum, namun wajahnya juga terlihat penuh misteri.
Suasana sungguh terasa hening, meski sesekali terdengar isakan Ala yang berujung berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Sepertinya, kita harus mencari informasi lebih lanjut," ucap Rafatar dengan suara bergetar.
"Informasi apa lagi? Bukan kah ini sudah jelas? Sepertinya Uda cukup terpukul dengan keadaan bayi kita yang ada dalam kandunganku ini. Bukan kah tadi Uda mengatakan akan menghadapinya bersama?"
Rafatar menutup mulut kembali tak bergeming. Suasana terasa semakin mencekam dalam keheningan di antara mereka. Rafatar mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Kita harus menemukan cara terbaik untuk anak kita dan memberinya perawatan yang dibutuhkan."
Ala mengangguk, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Kamu benar, Uda. Kita harus mengumpulkan informasi, berkonsultasi dengan para ahli, dan mencari solusi terbaik bagi anak kita."
Ala menggenggam tangan suaminya, mengharap mendapat penguatan dari orang yang ia cinta. Namun, Rafatar tampak sangat putus asa, memilih diam.
Ketika mereka dipanggil masuk ke ruangan dokter untuk membahas opsi dan langkah selanjutnya, mereka merasakan campur aduk perasaan yang sulit diungkapkan. Suaminya tak banyak berkomentar.
"Dalam setiap langkah yang akan kita ambil, keputusan akhir ada pada kalian sebagai orang tua," kata dokter dengan lembut. "Kami akan mendukung kalian dalam proses ini dan memberikan bimbingan serta perawatan yang terbaik bagi anak kalian."
Ala menatap Rafatar, dengan wajah penuh tanda tanya. Ia mengerti hati mereka sedang diliputi oleh kecemasan dan rasa sedih. Namun, bukan kah ia telah bersumpah untuk saling mendukung dan bertahan bersama.
"Uda, kenapa hanya diam?" tanya Ala dengan suara sumbang. "Apakah Uda tidak siap untuk menghadapi ini semua?"
__ADS_1
Rafatar menatap Ala sendu. "Aku pikir, kita tidak perlu memberi tahu Ama tentang apa yang terjadi dengan bayi kita di dalam rahimmu. Aku masih berharap, diagnosa yang diberikan dokter tidak lah benar."
Ala berusaha tersenyum, meski hatinya cukup sakit mendengar apa yang diucapkan oleh Rafatar barusan. "Apa kamu menyesali ini?" imbuhnya.
Rafatar sedikit membuang muka. Matanya nanar terpancar dalam kekalutan. "Aku hanya sedikit shock. Aku sedang berusaha menata hati daj menerima takdir yang siap menanti kita."
Ala mendekat pada suaminya, bersandar dan merangkulnya dari samping. "Aku yakin, jika kamu ada di sampingku, kita berdua bisa menghadapinya," ujar Ala dengan suara yang penuh harapan.
Rafatar memutar kepalanya kembali menatap Ala yang bersandar padanya, bibirnya tersenyum lembut, mengusap kepala Ala dengan penuh kasih sayang.
"Ayo kita lewati ini bersama-sama, Sayang. Di luaran sana juga banyak yang mendapatkan anak istimewa dan mereka kuat. Kita akan berjuang untuk anak kita, tidak peduli seberapa berat tantangannya."
Ala mengangguk dalam pelukan itu. Namun, Rafatar masih menyimpan misteri dalam rautnya yang sedari tadi datar, tak tahu apa yang ia pikirkan.
__ADS_1