
Ala menatap bayi mungil yang telah lelap dalam tidurnya. Jemarinya mulai membelai setiap inci wajah mungil bayi tampan itu. Tak lama kemudian, bidan yang menangani persalinan dan dokter yang mendiagnosa anak Ala, datang dengan wajah cerah.
"Selamat ya Bu Humaira dan suami. Alhamdulillah anak Ibu lahir sehat, selamat, dan sangat tampan," ucap Dokter.
"Terima kasih, Dok. Alhamdulillah bayi yang selama ini kami nanti hadir dan menghirup udara secara langsung di dunia ini." Ala menatap pria yang mengenakan jas putih tersebut.
Namun, ia merasa ragu untuk menanyakan secara langsung apa yang ada di dalam hatinya. Meskipun sebenarnya hatinya tak siap jika kenyataan yang diprediksi ternyata menjadi nyata.
"Kenapa Anda terlihat khawatir?" tanya Dokter.
"Itu, Dok. Yang dulu Dokter katakan, masih terpikir olehku."
Dokter mengangguk seakan memahami keresahan Ala yang ia tahu telah ikhlas dengan apa yang telah didiagnosa. Dokter terlihat tersenyum dengan penuh wibawa.
"Dok ... Dok ... Bagaimana anak itu?" Seseorang tiba-tiba saja menyelonong masuk ke ruang tempat Ala dirawat.
"Ama?" tanya Rafatar tidak senang dengan pertanyaan yang dilontarkan secara langsung oleh sang ibu.
"Bukan kah katanya bayi kalian ini akan lahir dengan tidak normal? Jadi kita harus tahu sekarang," ucap Venna.
"Apa pun dan bagaimana pun keadaan anak kami, kami sudah ikhlas, Ma. Ama jangan memperkeruh suasana bahagia yang baru saja hadir di tengah kita semua," ucap Rafatar.
Ala menatap mertuanya dengan dalam. Ia sangat mengerti arah pembicaraan Venna ini, karena ia sendiri juga masih penasaran.
Dokter terdengar sedikit terkekeh di antara ketegangan yang ada. "Bukan kah bidan sudah mengatakan bahwa bayi kalian sempurna?" tanya Dokter kembali memastikan.
"Maksudnya, Dok?" Akhirnya Ala mengangkat suara.
"Alhamdulillah bayi Bapak dan Ibu terlahir sehat tanpa kurang satu apa pun," ucap Dokter.
__ADS_1
"Lalu prediksi anak kami akan mengalami DS itu gimana, Dok? Bukan kah katanya tingkat akurasinya 99 persen?"
Dokter kembali mengangguk dan tersenyum. "Bukan kah Yang Maha Pemberi lebih hebat dari semua makhluk ciptaan-Nya? Baginya, sangat mudah membolak-balikan apa yang terjadi atas kehendak-Nya. Sementara, manusia hanya sekedar menerka dan ingat! Satu persen kemungkinan itu masih ada. Contohnya hal yang dialami bayi kalian berdua."
Semua yang hadir terkesima dan takjub mendengar penjelasan dari sang Dokter. Kali ini wajah mereka beralih pandangan pada bayi yang ada dalam pelukan Ala.
Sementara itu, air mata Ala terjatuh pada pipi bayi merah itu. Bibirnya terulas senyuman. Rafatar segera memeluk Ala dan memberikan kecupan pada kening Ala.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih telah berjuang untuk anak kita. Kamu tidak pernah menyerah meskipun segala sisi terus menjatuhkan dirimu. Aku sungguh bangga memilikimu sebagai wanita hebat yang mendampingiku. Aku tak tahu, apa jadinya aku jika tidak ada kamu." Rafatar kembali memeluk Ala dan putra mereka.
"Ya Allah, Alhamdulillah ... Sungguh ini adalah kuasa Allah yang tak pernah bisa kita duga, Uda."
"Waaah, syukur laaah. Untung saja cucuku bukan anak cac4t yang telah diprediksi oleh Dokter. Kalau tahu dari dulu, mungkin Oma tidak akan marah-marah pada Ala. Ama juga tidak akan ditalak Apa."
Semua mata serempak menatap Venna yang terus berkoar dengan wajah datar. Ala menghela napas panjang, karena ia sendiri telah merasakan guncangan hebat dalam rumah tangganya karena ulah wanita yang melahirkan suaminya.
"Nah, bagus lah kalau kamu tahu bagaimana caranya mengucapkan terima kasih. Kali ini giliran kamu menolong Ama!" ucap Venna dengan senyum penuh arti.
"Astaghfirullah, Ama? Apa Ama tidak bisa melakukan segala sesuatu dengan ikhlas?" sambut Rafatar dengan luapan emosi yang tak bisa ia bendung.
"Uda?" Ala menatap suaminya sesaat dan menggelengkan kepala.
Rafatar kembali menghela napasnya dengan berat. "Aku takut Ama meminta hal-hal aneh padamu," ucap Rafatar.
"Fatar? Kamu pikir orang yang melahirkanmu ini bisa seburuk itu?" ucap Venna menatap tajam anaknya.
"Katakan lah, Ma. Ama mau aku membantu apa? Jika bisa aku kerjakan, tentu saja akan aku bantu," ucap Ala.
Rafatar menggenggam tangan Ala. Mereka saling bertatapan menggambarkan bahasa isyarat yang hanya mereka saja yang memahami. Tak lama Rafatar menggelengkan kepalanya, tetapi Ala tersenyum menganggukan kepala.
__ADS_1
"Beneran kamu mau membantu Ama, Ala?" Venna mendekati mereka berdua dan mendorong posisi Rafatar.
"Jika aku bisa membantu, insya Allah akan aku lakukan untuk Ama."
Venna mengusap pipi merah cucunya. "Ehmmm ...." Ia melirik Rafatar yang jelas terlihat keberatan.
"Kalau begitu, sekali lagi saya ucapkan selamat menjadi orang tua bagi Ibu Humaira dan suami. Semoga, anak yang terlahir ini bisa menjadi penyejuk bagi keluarga kalian. Dan, jangan hiraukan mitos-mitos yang beredar mengenai bayi. Tidak ada bayi yang bau tangan ya? Karena bayi memang butuh dipeluk oleh orang tuanya." ucap Dokter menyela mengakhiri kunjungannya.
"Terima kasih Dokter dan Ibu Bidan yang sudah banyak membantu. Semoga Allah membalas kebaikan yang sudah kalian beri dengan beribu kebaikan lainnya," ucap Ala.
"Amin. Terima kasih untuk doanya. Ini adalah kewajiban kami atas nama profesi yang kami jalani." Dokter dan Bidan pamit dan mundur diri.
"Nah, Ala, sudah tidak sibuk kan? Nanti kalau udah pulang ke rumah, kamu bantu Ama ya? Telpon Apa agar menarik talak yang sudah diucapkan terhadap Ama. Apa kalian tidak kasihan pada Ama yang menjadi janda dalam usia yang tidak muda ini?" ucap Venna tanpa menunggu waktu lagi.
"Ma? Kenapa Ama malah melibatkan istriku dalam masalah yang Ama alami? Harusnya Ama sendiri yang memohon kepada Apa?!" tolak Rafatar yang keberatan dengan permintaan ibunya yang tidak masuk akal ini.
"Kamu jangan ikut campur dengan urusan kami! Ini adalah urusan kami berdua," gumam Venna menatap putranya dengan wajah kesal.
"Sudah ... Sudah ... Jangan isi hari bahagia kita ini dengan amarah. Alangkah baiknya kita hiasi dengan rasa syukur dan mengatakan hal-hal yang baik," sela Ala menengahi pertengkaran ibu dan anak itu.
"Baik lah, Ma. Nanti aku akan bicara dengan Apa. Semoga Apa bisa menanggapi ini dengan baik."
Venna tertawa sumringah. "Syukur laah, kamu memang menantu Ama yang paling baik Ala." Venna melirik Rafatar dengan sinis dan kembali tertawa.
Tak beberapa lama, Ummi dan adik-adik Ala datang menyambut kehadiran bayi Ala dengan penuh suka cita. Namun, Ummi menatap mertua anaknya dengan sinis. Masih jelas dalam ingatannya kala sang putri diusir dari rumahnya dulu. Ditambah lagi, ia tahu apa yang disuruh oleh Venna terhadap anaknya.
"Bu Venna, saya harap Ibu pulang saja. Jangan bebani putri saya dengan hal-hal aneh yang Ibu berikan."
"Kenapa kamu yang sewot? Ala saja bersedia melakukannya."
__ADS_1