
"Ala, siapa wanita ini? Kenapa dia bisa ke sini?" Venna menatap Salma dengan raut jijiknya.
Rafatar terlihat merasa bersalah karena membawa orang yang salah. Dia tak menyangka, wanita yang dibawanya ini penuh dengan intrik. Rafatar meraih tangan Ala.
"Maafkan aku, Sayang. Aku membawa orang yang salah," ucapnya.
"Uda, apa Uda menyukai dia?" tanya Ala dingin.
Rafatar tersentak mendengar pertanyaan Ala yang spontan itu. "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tidak mungkin dengan mudahnya aku menyukai wanita lain. Semenjak dulu, hanya kamu lah wanitaku, wanita yang aku cinta sepenuh hati. Walau pun aku masih sering membuatmu terluka, tetapi tak mungkin aku menyukai wanita lain."
Ala menatap Salma dengan tatapan tegas dan dingin. Hatinya penuh dengan luka dan ketidakpercayaan akibat perilaku Salma di masa lalu.
"Maaf Kak Salma, sepertinya aku tidak bisa memberikanmu kesempatan untuk bekerja di pondok pesantren denganku," ucap Ala dengan suara tegas.
"Bagiku, kamu tetap lah wanita yang pernah merebut Uda Syauqi, pria yang dulunya menjadi suamiku, tidak pantas ada di dalam kehidupanku lagi. Aku tak ingin merisaukan diriku sendiri dan mengkhawatirkan Uda Rafatar yang kali ini menjadi suamiku dengan membuka pintu untukmu."
Salma terdiam, merasa putus asa karena nyatanya harapannya untuk mengubah nasib tak bisa terjadi. Meskipun baginya perbuatan di masa lalu itu bukan sesuatu yang melekat dalam ingatan, tentu berbeda dengan Ala. Karena telah menciptakan luka yang dalam dan kehancuran dalam pernikahan itu baginya tidak lah mudah. Apalagi anggapan miring usai bercerai saat baru saja menikah dengan seorang Ustadz, baginya sebuah aib yang sungguh sangat berat ia pikul.
"Maafkan aku, Humaira," ucap Salma dengan suara lemah. "Aku memahami keputusanmu. Aku hanya berharap kamu bisa menghapus kenangan buruk di masa lalu. Karena, kita tak akan bisa bangkit jika terus terkungkung dan tenggelam dalam masa lalu itu."
__ADS_1
Venna yang sedari tadi menjadi pendengar, mulai paham situasi yang terjadi di rumah ini. Ia bisa mendengar langsung, ternyata wanita yang baru saja memohon padanya adalah penyebab keretakan rumah tangga Ala yang terdahulu.
"Kamu!" ucap mertua Ala ini dengan cukup keras.
"I-iya, Bu?" Salma cukup tersentak kaget karena ia tak menyangka orang yang akan dijadikannya sebagai tempat untuk mengadu ini, cukup keras dan tidak sepeti apa yang ia harapkan.
"Kamu pikir saya akan kasihan pada kamu? Kamu jangan coba-coba menghasut saya, ya?! Bagaimana pun, Ala adalah menantu saya, istri dari anak saya. Apa pun keputusan yang dibuatnya, saya tentu akan mendukung. Apalagi ternyata kamu ini seorang pelakor? Ah, laki-laki bodoh mana mau mengkh1anati Ala demi wanita macam kamu?"
Salma tertegun mendengar cecaran pedas dari wanita di atas kursi roda ini. Dia yang masih duduk mengharap belas kasih, ternyata hanya mendapatkan h1naan dari orang yang baru saja ditemuinya.
"Sekarang kau pergi dan bawa anakmu itu menjauh dari keluarga anak saya! Jangan berani mencoba mengusik mereka! Jika kau masih mencoba membuat menantu saya menderita, saya tak akan segan menyebloskanmu ke dalam penjara! Tak peduli kau memiliki bayi itu! Bawa aja sekalian ke dalam penjara!" Venna tak henti memuntahkan cecarannya dengan sangat lepas. Bahkan, sebelumnya ia tak pernah selepas ini saat kepada Ala dulu.
Rafatar merasa kasihan melihat ibunya memperlihatkan tabiatnya kepada Salma. Akan tetapi, ia juga mengerti alasan di baliknya.
"Sayang, apa kamu sudah melihat bagaimana Ama yang sebenarnya? Ini artinya kamu sudah menjadi bagian penting bagi Ama. Sehingga, Ama sudah mati-matian membelamu, sebagai menantu kesayangan."
Ala menatap Rafatar bergantian menatap mertuanya dengan ekspresi campuran antara kasihan dan lucu. Ia pun menyetujui apa yang baru saja diungkapkan oleh suaminya itu.
'Terima kasih, Ma. Ama sudah mau membela dan terus memenangkan aku,' ucapnya dalam hati. Setelah itu, ia menatap suaminya.
__ADS_1
"Uda, aku yakin bahwa kita saling mencintai, tetapi aku mohon Uda jangan terlalu baik terhadap lawan jenis. Jika Uda memiliki urusan dengan lawan jenis, sebaiknya Uda komunikasikan kepadaku terlebih dahulu," ucap Ala dengan hati-hati.
"Namun, jika itu masalah pekerjaan, Uda harus ditemani oleh pihak ketiga untuk menghindari f1tnah atau salah paham. Sebagaimana aku lakukan di pesantren."
"Maaf, Uda. Semakin hari aku terlihat semakin nyinyir ya? Namun, ini aku lakulan demi keutuhan rumah tangga kita. Apalagi, semakin hari godaan semakin banyak dengan cara dan celah yang tidak dapat diduga. Aku harap, kita bisa sama-sama saling menjaga perasaan pasangan masing-masing." Akhirnya, Ala berhasil mengutarakan isi hatinya. Ia tak ingin kegagalan untuk yang kedua kali dalam rumah tangganya.
Rafatar mengangguk dengan penuh tekad. "Tentu! Tentu saja, Sayang. Kamu bisa mempercayakan aku sebagai suamimu. Aku akan menjaga pandangan, hati, dan komunikasi dengan lawan jenis. Maaf, karena aku pikir bila kita bisa membantu orang yang mengalami kesulitan, karena Allah menyayangi orang-orang yang mampu menolong sesama saudara muslim."
"Itu berbeda konteks, Uda. Jika memang ingin menolong dia, Uda cukup menghubungi dinas sosial atau segala hal yang berkaitan dengan kegiatan amal. Jika Uda tidak bisa, Uda hubungi aku dan biarkan aku yang melanjutkan sebagaimana mestinya. Tetapi, untuk dia aku tidak bisa."
Ala berpikir sejenak. "Apa Uda punya sejumlah uang?" Tangan Ala ditengadahkan di hadapan Rafatar.
Ia kembali teringat akan kondisi keuangan kantornya yang cukup rumit. "Hmmm, nah, itu, akuu—"
"Hmm, tunggu sebentar!" Ala bisa membaca lewat gelagat suaminya. Ia memilih untuk kembali masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, ia kembali membawa sebuah amplop.
Ala kembali menatap Salma, ada rasa getir dan perih yang masih tersimpan di dalam hatinya. Namun, di saat melihat bayi yang berada di dalam gendongan Salma, seketika amarah itu menjadi luluh. Ala menyerahkan amplop tersebut kepada Salma.
"Ambil lah! Itu bisa kau gunakan untuk menyewa rumah dan sedikit modal kecil-kecilan jika memang mau berusaha untuk anakmu. Namun maaf, setelah ini jangan lagi memperlihatkan dirimu di hadapanku ataupun suamiku. Hapus lah apa pun niatmu terhadap keluarga ini. Aku sudah memaafkanmu, tapi jangan pernah perlihatkan lagi wajahmu itu!" ucap Ala dengan tegas.
__ADS_1