
Keesokan harinya, Ala sudah diizinkan untuk pulang ke rumah setelah perawatan di rumah sakit. Ala yang masih cukup lemah, kini menggunakan kursi roda, menunggu pembayaran administrasi yang dilakukan oleh Ummi dan adiknya.
"Abiii! Lihat, di sana ada Tante yang waktu itu bikin Abi nangis ..." terdengar suara Baim, putra Syauqi dengan Salma. Baim menarik tangan Syauqi dengan penuh semangat.
Ala terkejut melihat mereka kini tepat berada di hadapannya. Ekspresi kejutan dan kebingungan bercampur di wajahnya. Ada wajah Baim dan seorang yang tertutup perban.
"Baim?" Ala melirik pria yang duduk di atas kursi roda. "Uda Uqi?" gumam Ala dengan suara terbata-bata.
Syauqi tersenyum kecut di dalam wajah yang tertutup oleh perban. "Humaira, ini aku."
"Uda kenapa?" tanya Ala tampak bingung.
Syauqi meraba wajahnya perlahan. "Oh, ini ... Aku tidak apa, jangan khawatir."
Ala merasa campur aduk. Sudah lama sekali sejak dia melihat Syauqi sebelum menikah dengan Rafatar. Mereka yang telah berpisah menyisakan kenangan pahit dan menyakitkan, ternyata kini bertemu dalam keadaan yang tak terduga.
"Aku dengar, suamimu saat ini tersandung sebuah masalah. Semoga kalian kuat dalam menghadapinya," ucap pria dengan wajah terperban itu.
"Amiin ya Allah, terima kasih Uda, atas doanya."
"Ala?"
__ADS_1
Suara panggilan seorang wanita membuat Ala refleks memutar kepalanya. Ternyata, itu adalah ibu mertuanya.
"Tadi, Ama ke rumahmu, Ama dapat kabar kamu dibawa ke rumah sakit. Namun, apa yang Ama lihat sungguh membuat Ama kecewa. Jadi begini, istri soleha itu? Saat suami sedang mendapat masalah, bukannya khawatir, tapi malah berbicara dengan pria lain."
Ala merasa hatinya teriris oleh kata-kata ibu mertuanya. Dia mencoba menjelaskan keadaannya dengan lemah.
"Ama, maafkan aku, tapi sepertinya Ama salah paham. Dia itu, Uda Uqi, mantan suamiku. Kami tidak berniat untuk melakukan apapun yang salah, kami hanya bertemu secara tidak sengaja."
Ibu mertuanya menatap Ala dengan pandangan tajam, masih penuh dengan kekecewaan. "Jadi gitu ya? Setelah suami terkurung, kini gilirannya kamu menemui mantan suami?" ucap Ama Venna dengan gusar.
"Ma, Ama jangan salah menyimpulkan," ucap Ala menatap ibu mertuanya dengan wajah memohon.
"Maaf, Bu. Setelah Ala menikah dengan anak Ibu, kami tidak pernah berbicara satu sama lain. Ini hanya lah satu kebetulan yang membuat kami bertemu di sini." Akhirnya Syauqi angkat bicara membela Ala.
"Abi, siapa nenek itu? Kok jahat?" celetuk Baim bersembunyi di balik tubuh Syauqi.
Venna menatap Syauqi dengan nanar. Tak henti ia menatap dari atas hingga ke bawah, naik lagi ke atas. "Atau, kamu meninggalkan suamimu karena dia sudah seperti ini?"
Mata Ala berkaca-kaca mendengar cecaran mertuanya itu. "Bukan begitu, Ma ...."
Ummi, yang baru saja selesai menyelesaikan tugas administratif, mencoba menenangkan suasana yang tegang antara Ala dan ibu mertuanya. "Maaf, Bu. Kemarin, Mami menemukan Ala dalam kondisi sakit. Kami lupa memberitahu Bu Venna bahwa kami membawa Ala ke rumah sakit. Tapi, pertemuan ini dengan Uqi memang tidak disengaja. Jadi, ini bukan disengaja karena Rafatar tidak ada," ucap Ummi meyakinkan.
__ADS_1
Venna menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya. Ia melihat Ala yang masih lemah dan duduk di kursi roda.
"Baiklah," ucap ibu mertuanya akhirnya dengan suara yang lebih pelan. "Seharusnya kamu membantu suamimu. Jika tidak bisa secara langsung, setidaknya kamu bisa menenangkan hatinya. Malah sebaliknya, kamu menghilang secara diam-diam dan baru tahu kalau kamu berada di rumah sakit."
"Mungkin kamu berpikir bahwa Ama ini mertua yang tidak peduli padamu, karena sering marah-marah padamu. Setidaknya kamu harus mengerti, jika suamimu tidak ada, tidak perlu berbicara dengan pria lain, apalagi bukan suamimu. Hal ini bisa memberikan kesan bahwa kamu bahagia ketika suamimu menghilang."
Ala hanya menundukkan kepala. Ia merasa bahwa apapun yang ia katakan akan tetap salah di mata mertuanya.
Ama melihat menantunya yang terlihat lemah dan pucat. Pandangannya kembali kepada pria yang dibalut perban dengan seorang anak kecil.
"Baiklah, setidaknya jika suamimu bertanya tentang keadaanmu nanti, Ama sudah bisa menjawab bahwa kamu masih hidup dan sehat," ucapnya dengan nada tegas.
Ala menghela napas berat mendengar komentar tersebut. Ia merasa sedih karena ibu mertuanya tampaknya masih kurang memperhatikan dirinya meskipun ia sedang dalam keadaan yang rumit.
"Ma, dulu aku memang seorang janda. Tapi sekarang, aku adalah istri Uda Rafatar, anak Ama. Ama juga harus tahu bahwa sebagai seorang istri, ketika suamiku berada dalam kesulitan dan tidak bisa bertemu, aku masih bisa menjaga kehormatanku sebagai istri."
"Jika bukan karena sakit, aku tidak akan keluyuran kemana-mana, kecuali untuk pekerjaan. Aku merasa sedih karena suamiku berada dalam tahanan. Aku hanya memohon, Ama jangan terus memikirkan hal negatif tentangku. Aku mencintai dan menyayangi Uda Rafatar, bukan yang lain dan bukan dengan pria ini," jelas Ala dengan suara yang gemetar.
Ibu mertuanya meletakkan tangannya di dadanya, terengah-engah mendengar jawaban Ala seolah merasa dihadapi dengan sikap yang lancang. "Terserah kamu saja." Ibu suaminya berbalik meninggalkan sisa ketegangan yang membuat tubuh Ala gemetar dalam tangisnya.
"Humaira, maafkan aku. Aku tidak menyangka bahwa keadaanmu begitu sulit."
__ADS_1