Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 49


__ADS_3

"Ma, aku memahami bahwa Ama mengaggap peran seorang istri mungkin berbeda dengan apa yang aku pikirkan. Namun, aku ingin jujur pada Ama, bahwa aku tidak bisa hanya sebagai ibu rumah tangga biasa saja."


Ala berbicara dengan hati-hati, mencoba menyampaikan apa yang ia pikirkan agar tidak menyinggung perasaan Ama.


"Ekhem ...." Sang ayah mertua berdehem.


"Apa percaya bahwa kamu sebagai seorang wanita yang memiliki potensi dan impian pribadi yang ingin kamu kejar. Apa tahu kamu juga ingin menjadi wanita yang mandiri, memiliki karier yang membanggakan, berkontribusi dalam masyarakat. Namun, kami tidak ingin kamu terlalu lelah," ucap Apa.


"Bukan terlalu lelah sih, nanti malah nggak sempet ngurusin anak kita gimana? Nanti kalau begitu, ujung-ujungnya masih sama kayak bunangan?" sela Ama.


Ala tertunduk menahan gejolak di dada. "Ma, apa Ama lupa? Dulu Ama takut sekali jika aku hanya jadi istri yang bisa menghabiskan uang suami. Sekarang, di saat aku tidak merepotkan siapa pun, Ama masih belum setuju. Jadi, aku harus bersikap seperti apa agar bisa memenuhi harapan Ama?" Mata Ala telah berbinar menahan hatinya agar tidak meled4k.


"La, sudah." Rafatar menengahi percek-cokan antara istri dan ibunya. Ia berdiri tepat di hadapan Ala, mengusap lengan Ala agar emosi yang ia tahan mereda.


"Ala? Kamu ternyata begini ya? Kamu selalu playing victim terhadal semua orang padahal kamu hanya ingin membantah kata orang tua. Jangan-jangan, kamu cerai karena suka membantah kata suami ya?" Venna melipat kedua tangan di dadanya menatap Ala dengan tatapan tajam.


"Mohon maaf, Ma. Aku masuk ke dalam kamar dulu ya." Ala memutar badan tak membiarkan semua yang ada di sana tahu bahwa ia menangis.


Rafatar mencoba menahan, tetapi Ala menolak tangan suaminya dan masuk ke dalam kamar. Rafatar menengok ibunya sejenak. Ia mengggaruk kepala bagian belakang, dan akhirnya segera mengikuti istrinya masuk kamar.


"Ma, jangan begitu? Harusnya Ama juga memahami bahwa posisi Ala berbeda dengan Ama dulu. Ala memiliki karier di luar juga kan? Ya wajar saja dia tidak bisa sesempurna Ama dalam membenahi rumah," ucap Apa memarahi istrinya.


"Apa gimana sih? Malah belain dia? Harusnya belain Ama? Ini malah turut menyalahkan Ama?" Ama melirik suaminya tajam.


"Ayo lah, Ma. Dii sini Apa tidak memarahi siapa-siapa. Kita harus bisa saling menghargai aja. Bagaimana pun juga, dia itu istri anak kita. Artinya, Ala itu anak kita juga! Nanti dari rahim dia lah, cucu kita, penerus kita lahir ke dunia. Jadi, Ama harus kontrol diri dalam berucap! Kasihan Ala, malah jadi bulan-bulanan amarah Ama," ucap Apa menasehati istrinya.


Ama mengernyitkan kening, menunjukkan ketidaksetujuannya.


"Apa, menurut Ama ya seperti itu. Jika dia terus terlena seperti itu, jika tidak dinasehati malah ngelunjak ntar. Makanya, sedari awal harus kita tatar. Biar Fatar bahagia."


Di dalam kamar, Ala terduduk di atas ranjang. Beberapa kali, tangannya bergerak mengusap air mata yang tiada henti jatuh di pipinya. Rafatar yang baru saja masuk, menatap punggung istrinya yang bergetar.


"Maaf, Sayang ...." Rafatar ikut duduk dan memeluk Ala dari belakang.

__ADS_1


"Kenapa Uda minta maaf? Uda kan tidak salah. Harusnya aku berterima kasih kepada Uda karena sudah membelaku. Maafkan aku sudah membuat suasana rumah kita menjadi tidak nyaman, seperti kata Ama," tangisnya dalam dekapan suami.


"Aku memahami apa yang Ama pikirkan. Ama pasti tak ingin anaknya merasa menderita karena harus melakukan segalanya sendirian. Ama sangat sayang sama Uda. Tapi, Uda kan tahu sendiri kalau aku ingin mencapai keseimbangan antara karier dan keluarga sekaligus. Aku yakin, meskipun dunia ini terus menentang semua harapan, tetapi dukunganmu, suamiku aku yakin semua hal itu dapat terwujud."


Ala berusaha menyampaikan apa yang sedang dipikirkannya. Walau, ia sedikit sungkan, tidak mungkin berkata buruk tentang wanita yang melahirkan suaminya ini.


"Kamu jangan khawatir, Sayang. Aku memahami dan menerima semua tentangmu. Apa pun itu, yang penting aku merasa bahagia bila bersamamu."


Ala memutar badan, kali ini mereka saling berhadapan. Ala membalas pelukan yang sedari tadi diberikan untuk menenangkannya.


"Terima kasih Uda," ucapnya bersyukur kali ini ia merasa dicintai oleh suaminya.


Lalu Ala muncul kembali di hadapan kedua orang tuanya. "Maafkan aku ya, Apa, Ama ... Aku akan berusaha lagi dengan baik setelah ini."


"Lalu, kamu mau berhenti bekerja?"


Ala menggelengkan kepalanya. "Saat ini aku masih merasa mampu, Ma. Jika satu saat nanti ada yang bisa menggantikanku, aku akan melepaskan semua demi menjadi istri yang baik untuk Uda, dan menantu seperti harapan Ama.


Ala mengangguk. "Baik lah, Apa dan Ama duduk beristirahat senyamannya ya? Aku akan memasak menu makan siang."


"Aku akan membantu," ucap Rafatar mengikuti Ala.


"Ngapain juga Fatar bantu-bantu segala? Itu kan memang tugas istri?" gumam sang ibu mertua meruncingkan bibirnya.


*


*


*


Keesokan pagi, Ala bangkit semenjak pukul empat pagi menyiapkan semua menu sarapan pagi yang lebih baik dibanding sebelumnya. Usai memasak, ia menyapu lantai hingga mengepel, membersihkan debu-debu.


Setelah semua selesai, ia bersipa bekerja. Pulang sore hari, ia kali ini sengaja masuk pasar untuk membeli setok makanan untuk satu minggu ke depan. Sampai di rumah, ia memisahkan makanan-makanan berdasarkan box masing-masing dan mulai menyiapkan makan malam. Pada malam hari, ia juga harus dinas malam agar kehidupan suami istrinya tetap berjalan seperti seharusnya.

__ADS_1


Tampa sadar waktu terus berlalu dan tubuhnya terasa begitu lelah dan lemas. Kala mertua datang, tidak mendapat cecaran saja membuat ia merasa sangat beruntung. Demi sempurna seperti harapan mertua, dan demi tetap bisa membiayai orang tuanya, tanpa ia sadari tubuhnya menjadi semakin kurus dan selalu lemas.


Kegiatan menjadi menantu harapan dan anak berbakti terus terjadi hingga Ala baru menyadari sudah tidak pernah datang bulan semenjak sebelum menikah dengan suaminya. Setelah ia hitung, usia pernikahan tiga bulan, dan selama itu pula ia tidak pernah hamil.


Ala mencoba menghubungi suaminya. Beberapa kali mencoba menghubungi, panggilan itu tak kunjung dijawab.


"Mungkin Uda sedang sibuk," gumamnya.


Ala mengirim pesan kepala suaminya akan memeriksakan diri pada dokter kandungan. Usai pekerjaan di Pondok Pesantren, Ala menyempatkan diri pergi sendirian menuju dokter kandungan.


Tubuhnya terasa sangat lelah, tetapi ada harapan pada kehadiran seorang bayi yang mempu menjadi pelipur lara.


Beberapa saat kemudian, dokter yang memeriksa Ala mengucapkan selamat kepadanya. "Usia kandungan Ibu sudah dua belas minggu."


"Alhamdulillah," ucap Ala bahagia.


"Namun, sepertinya bobot Ibu terlalu rendah. Nah, berhubung Ibu hamil, sebaiknya Ibu harus memenuhi nutrisi dan gizi dengan baik." Kepala dokter melirik ke kiri dan ke kanan.


"Mana suaminya, Bu? Kenapa tidak memeriksanya bareng suami? Ini dilakukan agar suami bisa tahu bagaimana kondisi istrinya yang sedang hamil. Apalagi ini adalah kehamilan pertama. Ini sungguh sangat riskan," ucap Dokter prihatin.


"Tidak apa, Dok. Suami saya sedang sibuk. Jadi, dia tidak sempat mengantarkan ke sini." Ala menengok jam pada pergelangan tangannya.


"Sepertinya saya harus pulang, Dok. Saya harus menyiapkan makan malam." Ala buru-buru menarik tas nya.


"Tunggu, Bu!" cegat Dokter.


"Kenapa, Dok?"


"Ini resep vitamin bisa Ibu gunakan untuk penunjang kesehatan Ibu hamil dan bayi dalam kandungan. Ibu, jangan terlalu diforsir ya? Banyak istirahat juga biar bobot Ibu cepat naik."


Ala tidak mendengarkan saran itu dengan jelas. Ia hanya mengangguk cepat menarik resep yang diserahkan dokter lalu buru-buru pergi.


Ala melajukan kendaraannya. Entah kenapa kepalanya terasa berputar, kala melajukan mobil menuju rumah.

__ADS_1


__ADS_2