Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 68


__ADS_3

Dengan gemetar, Ala menatap ibu mertuanya dengan mata yang penuh ketakutan. Tangan Ala gemetar menggapai tangan mertuanya.


"A-Ama, tolong, bantu aku," gumamnya dengan suara lirih. Setiap mili pori pada tubuhnya mulai mengeluarkan keringat yang terus membasahi pakaian dan kerudung yang terpasang pada tubuhnya.


Venna buru-buru mendekati Ala dan menggenggam tangannya dengan erat. "Tunggu sebentar." Ia mengeluarkan ponsel. Menekan layar pada ponsel beberapa saat dan memegang ponsel itu.


"Uda, lihat lah! Ama sudah meminta maaf pada Ala, menantumu."


Wajah pria paruh baya terlihat mengerut menatal Ala yang terlihat sangat kesakitan. "Ala kenapa? Apa yang kamu lakukan?"


Venna melirik Ala sejenak. "Untung ada Ama di sini. Kayaknya dia mau melahirkan, Pa."


"Apa yang kau lakukan?" Gelegar suara pria paruh baya itu menggema cukup keras keluar dari speaker ponsel mewah milih wanita ini.


"A-Ama ...." Ala mulai terlihat lemah, terengah, dan tersandar pada tubuh Venna.


"Sudah jelas dia kesakitan seperti itu, harusnya kamu segera menolongnya! Bukan meneleponku!" hardik suami yang menalaknya beberapa waktu lalu.


"Ama hanya ingin Apa tahu bahwa Ama sudah sungguh-sungguh meminta maaf pada—"


"Cepat tolong dia!" bentak Apa.


Wajah Venna sangat terkejut saat mendapati hardikan yang lebih keras dibanding talak yang dilayangkan oleh suaminya itu. Layar ponsel telah mati, panggilan ditutup oleh seseorang di seberang sana.


Kali ini Venna terpaksa menenangkan menantunya. "Tidak apa-apa, Ala. Semuanya akan baik-baik saja."


Ala merasakan kontraksi yang semakin kuat, dan rasa sakit yang menusuk semakin tak tertahankan. Dalam keadaan panik, dia mencoba mengendalikan dirinya.


"A-Ama, tolong aku. Aku mohon ...."


"Kamu tenang saja, Ama juga sudah pernah melahirkan. Tapi tidak selebay kamu kok. Semua wanita yang melahirkan bisa merasqkannya." Venna menarik Ala yang semakin terhuyung ke bawah.


"Ma, bisakah segera, telepon ambulans atau taksi, kita harus segera pergi!" pintanya pada ibu mertuanya.


Venna kembali mengotak-atik ponselnya dan memanggil seseorang yang lain. Ala menyadari sang mertua ternyata belum bersungguh-sungguh, menerimanya. Ala pun mencoba bergerak menggapai wanita yang melahirkan suaminya ini.

__ADS_1


"Tunggu!" ucap Venna masih mencari sebuah nama pada daftar kontak.


Tangan Ala masih mencoba menggapai Venna, akhirnya ia menangkap tangan mertuanya, berpegangan dengan sangat kuat dan berkeringat. "Ama, tolong panggilkan taksi atau ambulance ke sini," pinta Ala dalam ringisan sakit yang luar biasa.


Merasakan genggaman Ala yang membuatnya merasa cukup kesakitan, ia pun sedikit mengerti bagaimana rasa perih yang dialami oleh istri dari anaknya ini.


Ia memanggil taksi online menggunakan aplikasi yang ada pada ponselnya. "Udah nih," ucapnya.


"Ma-makasi, Ma."


Setelah beberapa saat yang terasa seperti berjam-jam, taksi akhirnya datang. Venna menarik Ala masuk ke dalam taksi online yang ia pesan, meski tidak memedulilan kenyamanan Ala yang hanya bisa meringis tanpa mengatakan hal lain.


Mereka berdua berangkat ke rumah sakit dengan kecepatan yang tinggi, sementara kegelisahan dan kepanikan tetap menghantui Ala.


Sesampainya di rumah sakit, mereka segera melapor ke bagian penerimaan dan tim medis segera mengambil alih. Ala dirawat dengan segera, sementara Venna menunggu di ruang tunggu kembali memainkan ponselnya.


Kali ini ia mencoba menghubungi Rafatar. "Fatar, cepatlah ke sini! Ala mau melahirkan. Untung saja ada Ama yang sudah kamu duharkai kemarin kan? Kalau tidak ada Ama gimana coba?"


Rafatar yang mendengar kabar tersebut merasakan perasaan campur aduk dalam dirinya. Dengan segera, dia meninggalkan pekerjaannya dengan tergesa-gesa dan segera menuju rumah sakit untuk menemani proses bersalin istrinya.


Di dalam ruang persalinan, Ala terbaring di tempat tidur dengan wajah yang pucat dan keringat yang membasahi dahinya. Ia menggenggam erat tangan seorang bidan yang membantu proses persalinan.


Rafatar melihat keadaan istrinya dan hatinya terasa berdebar kencang. Dia berjalan pelan mendekati tempat tidur dan menggenggam tangan Ala dengan penuh kelembutan. "Sayang, aku sudah ads di sini. Aku akan menemanimu melahirkan buah hati kita. Aku yakin. kamu pasti bisa melakukannya," bisiknya dengan penuh keyakinan.


Ala menoleh ke arah suaminya, matanya penuh dengan campuran rasa sakit dan harapan. Tangannya menengadah berharap sang suami semakin mendekat. "Tolong, jangan pergi dari sisiku," ucapnya dengan suara lemah.


Rafatar menyambut tangan Ala dan menatap istrinya dengan penuh cinta. "Aku tidak akan pergi, Sayang. Aku akan selalu di sampingmu, menjagamu dan mendukungmu sepanjang proses ini."


Bidan dan tim medis terus bekerja dengan cermat dan teliti, membantu Ala dalam setiap langkah persalinan. Meskipun rasa sakit yang luar biasa, Ala tetap berjuang dengan gigih, didorong oleh harapan akan kehadiran bayi mereka.


Rafatar berada di sisi Ala sepanjang proses persalinan, memberikan semangat dan dukungan yang tak tergoyahkan. Dia mengusap lembut kening Ala, membisikan kekuatan yang membuat Ala tak lagi merasa takut seperti sebelumnya.


"Oeeekk ... Oooeeekkk ...."


Akhirnya, suara tangisan bayi mengisi ruangan, memecah keheningan. Suasana berubah menjadi riuh dengan kegembiraan dan kelegaan. Ala tersenyum lebar, mata yang semula lelah kini meneteskan butiran bening penuh kebahagiaan.

__ADS_1


Rafatar tanpa terasa juga meneteskan air mata kebahagiaan yang mengalir begitu saja di pipinya. Bayi yang ia lihat bayi tampak indah dan sempurna. Dia mencium kening Ala dengan lembut.


"Alhamdulillah, terima kasih, Sayang. Kamu telah memberikan aku bayi yang sangat tampan dan sempurna."


"Dia adalah hadiah terindah yang kamu berikan dalamu hidupku, Sayang," bisik Rafatar dengan suara penuh rasa haru tepat di telinga Ala.


"Alhamdulillah, anak Bapak dan Ibu terlahir sehat tidak kekurangan satu apa pun," ucap bidan yang membantu persalinan Ala.


"Se-sehat sempurna, Bu?" tanya Ala sedikit terengah.


"Iya, alhamdulillah putra kalian sehat dan sangat tampan." Bidan segera menaruh bayi mereka tepat pada dada Ala. Membiarkan bayi mungil itu mencari sesuatu yang bisa memberikan kehidupannya hingga hari-hari seterusnya.


*


*


*


Beberapa saat kemudian, perawat menyerahkan kembali bayi yang telah lelap terbungkus kain lembut yang mampu memberikan kehangatan bagi bayi mungil itu.


Ala menatap bayi yang baru saja menemaninya dalam sembilan bulan ini. "Alhamdulillah, anakku. Selamat hadir di dunia ini."


Rafatar turut mengecup lembut bayi yang masih kemerahan itu. "Anak kita, mirip sekali denganmu, Sayang."


...****************...


Yuk mampir pada karya Eyang-Eyang yang kece badai di bawah ini. Beliau meski telah memiliki usia lanjut, tetapi bisa membuktikan tetap berkarya dan tentunya tak kalah dengan yang muda-muda.


Napen: Yanktie Ino


Judul: Revenge For My Ex-Husband



Adinda Suryani mendapat kejutan ketika dia diam-diam meyusul suaminya ke lokasi proyek yang sedang dikerjakan suaminya, ternyata suaminya disana bersama keluarga kecilnya.

__ADS_1


Berbekal restu Eudyanto Alkaf sang papa mertua Dinda memukul balik Radite Alkaf


__ADS_2