Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
80. S2-3


__ADS_3

Salma termangu melihat siapa yang baru saja berbicara. Pria itu masih fokus pada anak lelaki yang tadi baru dimarahinya. Seketika, ia teringat pada anak yang dulu pernah ia lahirkan.


Salma kembali memutar tubuhnya menatap anak tadi yang tertunduk tengah dibujuk oleh si pemilik warung. Tangannya bergetar ingin menggapai anak itu. Namun, sebelum tangannya sampai, anak tadi ditarik oleh pria yang tak lain adalah ayah dari anak itu.


"Maaf, Bu. Kenapa anak saya tiba-tiba murung?" tanyanya.


Pemilik warung melirik ke arah Salma dan tanpa penjelasan satu patah kata pun, pria itu paham bahwa penyebab anaknya murung adalah wanita itu. Sejenak, terdengar hembusan napas kasar, karena wanita yang membuat anaknya murung itu terus menundukan kepala. Ia tak bisa melihat wajahnya, dan memilih diam karena tak mungkin baginya memarahi seorang wanita di depan umum seperti ini.


"Baim, sepertinya kita pergi saja. Kita jajan di tempat lain," ucapnya seraya membujuk anak laki-laki yang murung itu. Tangannya aktif mengusap kepala Baim, dan bocah itu menganggukan kepala beberapa kali.


Bocah itu menganggukan kepalanya. Ia segera menggapai tangan sang ayah dan mereka beranjak menuju kendaraan yang sedang terparkir di depan warung itu.


Setelah memastikan langkah mereka menjauh, Salma menegakan kepalanya kembali. Matanya berbinar melihat sosok anak laki-laki yang bergandengan dengan pria yang telah ia campakkan. Matanya beralih pada kaki Syauqi yang dulu pernah dikatakan akan mengalami kelumpuhan, tetapi saat ini telah berjalan layaknya manusia normal.


Pandangannya pun beralih pada kakinya sendiri, yang mengalami kecacatan untuk seumur hidupnya. "Sepertinya, Allah menunjukkan bahwa Ia ternyata menyayangiku." Bibir Salma tersungging senyuman penuh arti.


Ia pun bergerak ingin mengejar dua orang tadi. Namun, seketika ia menyadari, saat ini sedang menggendong bayi yang merasa nyaman dalam pelukannya. Ia memutar kepala mematap pemilik warung yang sedari tadi menjadi penonton pasif.


Dengan cepat, ia melepaskan jarit, yang mengikat bayi pada pundaknya. Salma mendekati sang pemilik warung tadi.


"Tolong pegangi sebentar, Bu. Nanti aku akan kembali."


Tanpa menunggu persetujuan pemilik warung, Salma melangkah kan kakinya meskipun masih terseok mengejar dua sosok tadi. Ia melihat ayah dan anak tersebut memasuki mobil, membuat matanya semakin terbuka dengan sangat lebar.


"Tunggu! Tunggu!" ucap Salma mencoba menghentikan mereka.


Namun, sayang, mobil itu telah bergerak tanpa niat menunggu manusia pincang yang terus berusaha mengejar mereka.


"Baaang! Baaaaang!" Salma mempercepat langkahnya mencoba mengejar mobil itu.


"Baaang!" Salma terus berteriak berharap suaranya sampai pada indera pendengaran Syauqi.

__ADS_1


Namun, tentu saja tidak. Syauqi fokus menatap jalan dan terus melaju meninggalkan tempat itu. Membuat Salma tak mampu lagi mengejar mereka.


"Bang, kamu sudah tampan kembali? Kamu sudah sehat? Kenapa tak pernah mencariku? Jika kamu sudah kembali tampan, mungkin aku tak akan pernah menikah dengan si keparat itu!" rutuknya memasang wajah dongkol.


"Aku harus mencarinya! Aku pasti segera mendapatkannya kembali."


Salma berjalan mencoba mengikuti arah mobil tadi. Tanpa ia sadari, saat ini ia telah melupakan sesuatu.


*


*


*


"Abi, Baim mau yang itu." Putra Syauqi yang telah berumur delapan tahun itu kali ini menunjuk salah coklat dalam kotak berbentuk telur yang ada di depan kasir mini market sejuta umat.


"Ambil lah," ucap Syauqi tak melarang putranya memilih benda yang diinginkannya.


"Bi, itu ibu-ibu yang marahin Baim tadi," pekik Baim bersembunyi di belakang ayahnya.


"Masa sih? Kita sudah pergi cukup jauh dari warung yang tadi. Tak mungkin dia mengikuti kita sampai ke sini kan?" ucap Syauqi mencoba bernalar.


"Iya, Bi. Itu ibu-ibu jahat tadi. Baim dimarahi olehnya," ringis Baim menyembunyikan diri di belakang Syauqi.


Perempuan itu sadar, sang pemilik mobil telah memperhatikan tingkahnya. Ia tampak gugup, dan kembali menundukan wajahnya.


"Maaf, Bu. Apa benar Anda ini wanita yang di warung tadi?" tanya Syauqi to do point.


Pandangan Salma liar menatap ke susunan ubin parkiran mini market, merasa sedikit kebingungan, memikirkan jawaban seperti apa yang harus ia berikan.


"Jika benar itu kamu, apa motifmu mengikuti kami?" tanya Syauqi kembali. Kali ini, suaranya terdengar dingin.

__ADS_1


"Ah, a-aku mau—"


"Kenapa Ibu memarahi anak saya?" Syauqi kembali melontarkan amarahnya, tak memberikan kesempatan kepada wanita itu untuk berbicara.


"Maaf," ucapnya pelan.


"Apa?" tanya Syauqi dengan suaranya yang cukup ditekan, dan mencoba memasang pendengarannya dengan baik. Pada telinganya, masih terpasang benda kecil hitam, alat bantu dengar yang telah ia gunakan semenjak kecelakaan hebat yang hampir merenggut nyawanya.


Salma mengangkat wajahnya. Syauqi tampak cukup terkejut melihat kembali wajah wanita yang menyerahkan seorang bayi yang terus menangis di saat ia tak bisa berbuat apa-apa.


Ekspresi keterkejutannya itu, lambat laun berubah menjadi tatapan dingin. "Oh, ternyata itu kau?" ucapnya dengan tajam.


"A-apa kabarmu, Bang?" Salma menjadi gugup karena tatapan yang diberikan oleh pria yang pernah dikejarnya sampai membuang harga diri ini. Setelah itu, tatapannya beralih pada anak yang semenjak tadi terus bersembunyi di belakangnya.


"Apakah dia itu anak kita yang dulu?"


Syauqi menajamkan matanya, sejenak melirik pada putra yang dibuang oleh wanita itu. "Anak kita? Apa kau masih ingat memiliki seorang anak?"


Salma terkekeh, memasang wajah kikuknya. "Kamu jangan bercanda, Ibu mana yang bisa melupakan anak yang pernah bersemayam di dalam rahimnya dalam kurun waktu sembilan bulan?"


"Abi, apa maksud ucapan Ibu jahat itu?" bisik Baim, masih bersembunyi di belakang tubuh ayahnya.


"Nak, ini Ummi-mu, Nak. Ayo keluar lah dari persembunyianmu itu!" ucap Salma, mencoba membujuk Baim.


Baim menutup kedua kupingnya menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak! Baim tak mau punya Ummi sepertimu!" teriaknya.


"Ummi Baim orang baik, seperti Tante Ala," ucap Baim kembali.


Pernyataan Baim itu, membuat Salma tertegun. "Jadi, selama kita berpisah, kamu kembali pada Ala, Bang?"


"Lalu, apa mau mu?" tanya Syauqi.

__ADS_1


__ADS_2