Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 18


__ADS_3

Syauqi turun ke lantai bawah setelah melaksanakan salat tahajud. Hati dan pikirannya masih dipenuhi dengan rasa bersalah dan kebingungan. Meskipun mereka telah membuat peraturan untuk tidur terpisah, keinginannya untuk melihat keadaan Humaira tak terbendung. Dengan hati yang berat, ia memutuskan untuk membuka pintu kamar dengan hati-hati, memilih untuk hanya mengintip tanpa mengganggu.


Di dalam kamar, Syauqi melihat Humaira tertidur dengan tenang, terlihat letih baik fisik maupun mental. Wajahnya yang lelah mencerminkan beban yang ia rasakan dalam hatinya. Syauqi duduk di pinggir ranjang dengan hati yang berdebar-debar, memperhatikan istrinya yang sedang terlelap.


"Maafkan aku, malam ini, istirahat lah dengan nyenyak."


Dalam keheningan malam yang mengelilingi mereka, Syauqi merenungkan keputusannya dan berbagai perasaan yang melandanya. Ia menyadari bahwa keputusannya untuk mempertahankan hubungan dengan Salma telah mengganggu kedamaian dan kebahagiaan pernikahannya dengan Humaira. Rasa penyesalan yang mendalam muncul di hatinya, dan ia bertanya-tanya apakah ada jalan untuk memperbaiki segala kerusakan yang telah ia sebabkan.


Dalam kesendirian itu, Syauqi merenungkan arti pernikahan dan janji yang ia ucapkan pada saat bersumpah di hadapan Allah dan manusia. Ia merasa terhanyut dalam dilema yang rumit dan berharap dapat menemukan kekuatan dan petunjuk untuk melangkah maju dengan bijaksana.


Sambil menatap Humaira yang tidur, Syauqi merasakan adanya kekuatan yang tumbuh di dalam dirinya. Ia baru menyadari, Humaira hadir di dalam hidupnya menjadi anugerah yang tak ternilai harganya, dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk berjuang mengembalikan kebahagiaan dan kepercayaan yang telah terganggu.


Dengan hati penuh harapan dan tekad yang baru, Syauqi bangkit dari pinggir ranjang, menutup pintu kamar dengan lembut, dan kembali ke kamarnya. Ia menyadari bahwa pemulihan dan perbaikan akan membutuhkan waktu, kesabaran, dan kerja keras, tetapi ia berkomitmen untuk memperbaiki kesalahannya dan memperbaiki hubungannya dengan Humaira.


Dengan langkah-langkah kecil menuju pemulihan, Syauqi berharap dapat menciptakan hubungan yang lebih baik dengan istrinya, menjaga kepercayaan yang telah tergores, dan membangun kebahagiaan bersama dalam pernikahan mereka.


*


*


*

__ADS_1


Saat Azan subuh berkumandang, Ala terbangun dari tidurnya dengan perasaan ringan. Seolah ada kebahagiaan tak terhingga yang menyelinap masuk ke dalam hatinya. Senyum terukir di wajahnya, dan ia merasakan semangat yang membara di dalam dirinya. Tadi malam adalah kali pertama dalam beberapa waktu terakhir, di mana Syauqi, suaminya, memandangnya dengan penuh perhatian dan ketulusan.


"Aah, ini saja membuatku bahagia. Apalagi jika Uda Uqi bisa lebih dekat lagi. Mungkin aku bisa meleleh tak terbendung," gumamnya dengan wajah dipenuhi senyuman manis.


Keintiman yang mereka alami membuat Ala merasa begitu bersemangat dan penuh harapan. Ia merasa bahwa hubungan mereka sedang membaik dan memasuki fase baru yang lebih intim dan mendalam. Kehadiran Syauqi yang mendalam dan tatapan matanya yang penuh kasih membuatnya merasa dihargai dan dicintai.


Setelah menunaikan salat subuh dengan hati yang penuh syukur, Ala merasa terinspirasi untuk membuat sarapan yang spesial untuk mereka berdua. Dengan semangat yang membara, ia bergegas ke dapur untuk memasak.


Namun, saat membuka tudung saji di meja makan, ia terkejut melihat sebuah omelet yang basi tergeletak di sana. Tatapan heran muncul di wajahnya. Ia tidak mengerti bagaimana bisa omelet itu berada di sana dan sudah basi. Perasaan terkejut itu sedikit merusak kegembiraannya yang tadi pagi.


Ala mengambil omelet tersebut dengan hati-hati dan memeriksanya. Ia mencoba mencari tahu apa yang mungkin terjadi. Mungkin saja Syauqi sudah memasak omelet semalam, tetapi lupa menyimpannya dengan baik. Atau mungkin ada penyebab lain yang menyebabkan omelet tersebut menjadi basi.


Dengan senyum di wajahnya, Ala memutuskan untuk melupakan insiden omelet basi tersebut. Ia tetap bersemangat dan berterima kasih atas momen indah yang mereka alami. Baginya, kesalahan kecil seperti itu tidak akan mengurangi rasa cinta dan kebahagiaan yang ada di hatinya.


Ala memulai kembali persiapannya untuk memasak sarapan yang baru. Ia melanjutkan paginya dengan penuh semangat dan harapan, dengan keyakinan bahwa setiap momen bersama Syauqi adalah berkah yang tak ternilai.


Saat Ala sedang sibuk memasak sarapan, tiba-tiba Syauqi muncul dari lantai atas. Ia melihat istrinya yang sedang berada dalam balutan jilbab instan saat tengah memasak. Tatapan Syauqi kali ini penuh perhatian saat melihat Ala.


"Kamu pasti kepanasan dengan jilbab itu saat memasak," ucap Syauqi dengan penuh kepedulian. Kata-katanya mengejutkan Ala, membuatnya tersentak dan memutar kepala untuk melihat suaminya yang tiba-tiba hadir di dekatnya.


"Uda, udah mau sarapan?" tanya Ala, masih sedikit kaget dengan kehadiran Syauqi. Ia mencoba memahami maksud di balik ucapan suaminya.

__ADS_1


"Nanti, aku ingin menemanimu memasak. Lepaskanlah jilbabmu. Kita suami istri. Tidak ada dosa jika kamu memamerkan semuanya padaku," ucap Syauqi dengan lembut, membawa rasa kehangatan dalam kata-katanya.


Mendengar kata-kata itu, Ala merasa tersentuh oleh perhatian dan pengertian Syauqi. Kali ini, AIa merasa dihargai dan didukung dalam keputusannya. Dengan perlahan, Ala melepas jilbabnya dan merasa sedikit lega karena kepanasan jilbab instan yang ia kenakan saat memasak.


Kemudian, Syauqi mendekati Ala dengan penuh kasih sayang. Ia memandangi istrinya dengan mata penuh cinta dan rasa hormat. Mereka berdua melanjutkan memasak bersama-sama, merasakan kebersamaan dan kedekatan yang erat di antara mereka.


Saat mereka menyelesaikan persiapan sarapan, Syauqi tersenyum kepada Ala dengan lembut. Kali ini, ia merasa bersyukur memiliki seorang istri seperti Ala yang sederhana, tidak memperbesar masalah yang telah mereka lewati kemarin.


Mereka duduk bersama di meja makan, menikmati hidangan yang telah mereka buat bersama.


"Uda, tadi aku menemukan omelet di bawah tudung, apakah uda yang memasaknya?"


"Ah ya, aku sengaja memasak dua porsi. Satu untukku dan satu untukmu." Syauqi menghela napasnya. "Maaf ya, atas perilakuku kepadamu selama ini. Aku baru menyadari segala kesalahan yang telah kuperbuat padamu." Dengan sengaja, Syauqi menggenggam tangan istrinya.


"Iya, tidak apa. Setiap manusia pasti pernah khilaf."


Syauqi dan Ala menyadari bahwa kebahagiaan dalam pernikahan bukan hanya tentang keindahan fisik semata, tetapi juga tentang saling memahami, mendukung, dan menghormati satu sama lain. Momen tersebut menjadi pengingat bagi mereka untuk selalu saling mendukung dan berbagi dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam masak-memasak.


"Maaf ya Uda, kemarin aku mendengar percakapan kalian? Jujur, aku bingung. Namun, aku sangat bahagia jika Uda memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan 'dia.' Moga setelah ini, pernikahan ini semakin sakinah, mawadah, warrahmah."


Syauqi tertegun mendengar harapan dari gadis yang duduk di sampingnya ini. Perlahan, genggaman tangannya dilepas. Ia belum bisa membuka kenyataan baru bahwa sebenarnya hubungan ia dan Salma, kembali berlanjut.

__ADS_1


__ADS_2