
*Maaf baru update lagi ya kakak, soalnya kemarin mati lampu sampai jam tiga dini hari. Mati lampu di tempatku, membuat signal juga hilang π lalu talu tadi kerja dunia nyata dulu, hehehe ... π
...****************...
Ala tersentak mendengar bisikan yang menyayat hatinya itu. Padahal, ia baru saja menyadari perasaan yang tersimpan di dalam pikiran. Ia menegakan kepala, tetapi pria itu telah bangkit dan beranjak dari posisinya tadi.
"Saya tunggu di mobil."
"Ayo, Nak. Kamu harus siap-siap," ucap ibu mertuanya.
Ala terkejut melirik kiri dan kanan tidak mengerti apa yang akan mereka lakukan.
"Loh? Kok malah bengong? Buruan!" ucap Umi.
"Mau ke mana? Ala bingung." Gadis itu menggaruk pelipisnya.
"Lho? Emangnya Syauqi tidak mengatakan akan mengajakmu pindah tempat tinggal?" tanya ibu mertua.
Ala melirik ke arah luar di mana pria berstatus suaminya itu telah menghilang entah ke mana. Rasa kecewa, menyelinap di dalam hatinya. 'Bagaimana ini? Apa harus aku katakan saja aku tidak tahu apa-apa?'
'Bukan kah tadi dia berusaha untuk menghubungiku? Tetapi, aku dengan sengaja membuat ponselku tidak aktif? Sepertinya, ini semua memang salahku.'
__ADS_1
Ala terus berperang dengan hatinya. Bergantian menatap dua wanita yang menjadi ibunya ini.
"Malah bengong? Ayo, buruan! Suamimu telah menunggu. Tempat istri itu memang di sisi suami." Umi membuyarkan lamunan putri sulungnya ini.
"Tapi, Umi ... Ala maunya tinggal sama Umi dan adik-adik. Setidaknya Ala bisa bantu Umi walau pun waktu Ala lebih banyak di luar." Ala memainkan jemari pada kedua tangannya menutup gundah gulana yang mendera hatinya.
"Tapi Ala, tempatmu adalah di sisi suamimu. Umi dan adik-adikmu tidak berhak untuk terus menahanmu. Kecuali, suamimu memang ridho tinggal di sini bersama kami."
Ada rasa sesak, tetapi ia teringat akan petuah yang diberikan Abi menjelang pernikahannya berlangsung. Ia harus patuh dan menuruti permintaan suaminya ini.
"Oh ya, tadi Syauqi mengundurkan diri dari pekerjaannya yang ada di luar kota. Ayah mertuamu meminta dia untuk mengajar di pondok pesantren milik Abi-mu," tambah ibu mertuanya.
Ala kembali tertegun mendengar apa yang disampaikan oleh sang mertua. Lagi dan lagi ia tidak mengetahui segalanya. Ala menghela napasnya, sibuk dengan apa yang ia pikirkan.
Ala menuju kamarnya menyiapkan beberapa peralatan penting untuk dibawa dan tak lama kemudian, Ala telah menarik koper yang cukup besar.
"Uni, rajin-rajin main ke sini ya?" Kedua adik Ala sesegukan bergantian memeluk sang kakak sulung.
Ala menganggukan kepala tersenyum manis. "Kalian harus bantuin semua pekerjaan Umi ya? Jangan biarkan Umi mengerjakan semuanya sendiri." Ala mengusap air mata kedua adiknya.
"Itu pasti, Un ... Uni jangan lupa jaga kesehatan ya?"
__ADS_1
Tanpa ia sadari, ada wajah dingin berdiri di pintu pengendara melipat kedua tangannya. Ia tampak jengah tak menentu melihat satu wanita yang merupakan anak paling tua di antara mereka.
Ala menarik kopernya yang berat. Dalam hati, ia berharap laki-laki yang menjadi suaminya ini membantunya mengangkat benda tersebut ke bagasi belakang. Namun, kenyataan masih menampar Ala. Pria itu masuk begitu saja ke dalam mobilnya.
Wanita yang berada di sisi Ala tampak kikuk melihat tingkah putranya. Sejenak ia menggelengkan kepala dan menarik keper yang ada dalam genggaman Ala. "Sini, biar Ibu bantu masuk."
Ala mengerutkan keningnya. "Jangan, Bu. Ala bisa sendiri kok."
Ala menarik koper menuju belakang kendaraan. Ia membuka sendiri bagasi yang sudah tidak terkunci lagi. Ala bersusah payah mengangkat koper masuk ke atas mobil dan memasang wajah cemberut ke arah pria yang terlihat duduk tanpa menengok ke arahnya.
'Ya Allah ... Aku menikahi manusia apa kulkas?'
...****************...
Yuhuu kakak readers semua ... Perkenalkan karya temen Author lagi yaaah ...
Judul: Cinta Bertanda Merah
Author: Jenang Gula
__ADS_1
Jangan lupa diramaikan juga yaaah ...