Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 9


__ADS_3

"Bagaimana, Nak? Capek?" Ibu mertua Ala muncul menelengkan kepala menengok keadaan menantunya itu.


"Oh, enggak Bu. Ini sudah biasa kok Ala kerjakan sendiri."


"Bagus lah!" ucap seseorang yang duduk di bangku pengemudi tetapi seolah tak tertarik dengan percakapan ibu dengan istrinya.


"Uqi? Kenapa kamu membiarkan istrimu mengangkat barang berat ini sendirian? Harusnya kamu yang bantu?" ucap sang ibu yang terlihat sedikit kesal atas tingkah laku sang putra.


"Ekhem ...." Syauqi hanya berdehem dan manyandarkan diri pada jok, kedua tangan yang telah menyilang di belakang kepala.


Ibu mertua Ala menggelengkan kepalanya kesal. Ia menoleh pada Ala yang menatap nanar lewat bagasi mobil di belakang. Wanita berhijab syar'i itu menggenggam erat lengat Ala, terlihat merasa bersalah.


"Dia memang seperti itu, Nak. Jika kamu yakin dengan pernikahan ini, kamu harus sabar ya? Batu memang lah keras. Tapi, air yang lembut, perlahan tetap bisa membuatnya berlubang."


Ala mengangguk pelan mendengar nasihat sang mertua. Lalu, mereka berdua menutup pintu bagian bagasi dan memasuki kendaraan tersebut.


Ibu mertuanya sudah menyuruh Ala untuk duduk di bangku sebelah Uqi yang menyetir. Akan tetapi, Ala menolak. Ia memilih duduk di bagian belakang, duduk bersama ibu mertua.


Ala melongok keluar jendela melambaikan tangannya kepada orang-orang terkasih. "Ala akan rajin main ke sini kok," ucapnya lagi.


Kendaraan pun bergerak meninggalkan rumah yang telah ia tempati semenjak lahir. Ada rasa sedih dan kehilangan tentu saja mendera hatinya. Ibu mertuanya menangkap hal itu meskipun Ala tak mengatakan sama sekali.


"Ala jangan sedih begitu. Ibu jadi merasa bersalah seolah memaksamu untuk ikut dengan kami." Ibu mertuanya mengusap lengan Ala, lembut.

__ADS_1


Ala masih tidak banyak berbicara. Ia tersenyum kecut menganggukan kepala. Ia sadar diri bahwa saat ini menjadi istri seorang yang sama sekali tak dikenal bagaimana wataknya.


Sepuluh menit perjalanan, mereka memasuk wilayah perumahan yang cukup bagus. Masing-masing rumah memiliki bentuk yang sama, hanya saja beberapa bagian ada yang menambah atau mengubah bentuk rumah mereka.


Uqi berbelok pada satu rumah yang mirip satu sama lainnya itu. Rumah di sana sama-sama terdiri atas dua lantai. Dan, ketika sampai, Uqi turun begitu saja tanpa mengatakan apa-apa menuju pintu.


Sementara itu, sang ibu kembali menggelengkan kepala beberapa saat. Ia kembali mengusap lengan Ala dengan lembut.


"Mulai hari ini, rumah ini adalah rumah kalian berdua."


Ala menatap ibu mertuanya dengan tanda tanya besar. "Rumah kami berdua? Ibu dan Ayah tidak tinggal di bersama kami?"


Ibu mertua tersenyum tipis menggelengkan kepala. "Ibu tinggal di rumah bersama Ayah juga. Syauqi masih memiliki adik yang sedang berkuliah. Dan, tidak mungkin kami mengganggu kehidupan pengantin baru yang indah ini."


*


*


*


Malam hari, mereka benar-benar tertinggal berdua. Ala sibuk memindahkan isi kopernya ke dalam lemari. Sementara itu sang suami sedang duduk di balkon lantai dua, terdengar tengah berbicara dengan seseorang di telepon genggamnya.


Ala telah usai memindahkan barang bawaannya. Ia tergerak dengan sendiri menuju ke arah dapur membereskan sisa makanan yang hanya dipesan lewat aplikasi online. Ala hanya makan berdua dengan mertua, suaminya makan sendirian di lantai dua.

__ADS_1


Setelah meja makan dan dapur bersih, ia ingin sekali berbicara baik-baik dengan suaminya itu. Ala melangkahkan kaki menaiki anak tangga satu per satu. Semakin lama, terdengar suara hangat seorang pria berbicara dengan lawan bicara yang ada di dalam ponselnya.


"Nanti kamu ikut pindah ngajar ya? Aku sudah rekomendasikan namamu sebagai tenaga pengajar pondok khusus putri. Walaupun dibatasi, setidaknya kita masih satu lokasi. Kita masih bisa sering bertemu bila ada rapat antara pengajar pondok tersebut."


"...."


Ala tidak dapat mendengar suara suaminya lagi. Ia memilih untuk menunggu obrolan suami dan orang di dalam ponselnya usai.


"Kamu jangan khawatir. Setelah kita dekat nanti, aku akan melamarmu. Kamu tidak keberatan menjadi istri keduaku kan?"


Ala tertegun, kali ini ia memegangi dada menyandarkan tubuh pada dinding. Semua pertanyaan akan sikap dingin terhadapnya selama ini sudah terjawab.


"....."


"Meskipun nanti kamu adalah istri kedua, aku pastikan hanya kamu yang ada di dalam hatiku. Tiap malam aku selalu solawatkan namamu di dalam doaku. Semoga Allah bisa menyatukan cinta kita dalam ikatan resmi menunu jannah."


Tanpa sadar, butiran bening itu, jatuh satu per satu menuruni pipi putih kemerahan milik gadis muslimah cantik itu.


"Dia? Tidak mungkin! Aku tidak akan mencintainya. Dia hanyalah pengacau yang datang di antara kita. Dan, jika dia keberatan akan pernikahan kita, dia pasti akan memintaku untuk menceraikannya. Setelah itu, yang ada hanya kita berdua."


Ala terduduk sesegukan mendengar ucapan suaminya. Tubuhnya kaku, dia seakan lupa rencana yang akan dilakukan, menutup wajahnya dalam kedua telapak tangan.


"Kamu jangan merasa bersalah ya eazizaa (sayangku dalam bahasa Arab). Hatiku telah mengunci namamu, tak ada celah lagi bagi nama yang baru. Semoga, Allah meridhoi kita untuk bersama nanti."

__ADS_1


Ala tak kuat lagi mendengar isi obrolan lembut sang suami terhadap wanita lain yang tidak ia kenal. Ala memutuskan turun dan masuk ke dalam kamar mengunci dirinya.


__ADS_2