
Pada waktu tengah malam, Syauqi terlihat gelisah dalam tidurnya. Ia terbangun dalam wajahnya yang pucat pasi.
"Astaghfirullah al'azim." Ia terduduk meludah alakadarnya ke arahbkiri sebanyak tiga kali.
Kedua tangannya ditengadahkan dan terdengar lantunan doa. "Allahumma inni a’udzubika min syarriha wa syarri ma fiha." (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari mimpi buruk dan apa yang buruk di dalam mimpi.)
Setelah usai berdoa, satu per satu kakinya turun dan ia menuju kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan salat malam. Usai berzikir kedua tangannya menengadah dalam wajah sendu.
Usai mengadu, Syauqi melangkahkan kakinya menuruni anak tangga satu per satu. Matanya lurus menatap sebuah pintu di mana ada gadis yang ia sebut namanya kala melafaskan ikrar suci, tetapi palsu.
Ia memutar gagang pintu kamar tersebut dan nyatanya pintu itu tidak terkunci sama sekali. "Sepertinya dia lupa bahwa aku ini adalah seorang lelaki. Atau, ia sengaja?"
Perlahan, ia masuk ke kamar itu. Dan ternyata, ia mendapati seseorang sedang menengadahkan tangan khusyuk dalam doanya duduk di atas sajadah. Syauqi mengurungkan niatnya mundur perlahan keluar dari kamar tersebut.
Beberapa saat ia merenung tak percaya ternyata wanita yang ia benci itu melaksanakan salat malam juga. Perlahan, ia memutar tubuh mengambil secarik kertas dan pulpen.
Syauqi menulis sesuatu lalu menempelkannya pada pintu kamar Ala. Setelah itu ia kembali ke kamarnya melanjutkan istirahat yang terganggu karena mimpi buruk.
*
*
*
Pada pagi hari, Ala baru saja selesai menyiapkan sarapan pagi. Ketika kembali ke kamarnya, ia mendapati sebuah catatan yang tadi malam tidak ada. Ia melirik ke lantai atas seakan tahu itu pesan dari siapa.
Assalamualaikum wr. wb ...
Humaira, maaf ...
Kamu boleh berkuliah.
Wassalam.
Pesan singkat itu membuat senyuman mengembang lepas menghiasi bibirnya. "Alhamdulillah ... Uda sudah merubah keputusannya." Ala segera menuju kamar mandi membersihkan diri dan bersiap.
__ADS_1
Saat ia keluar kamar, sang suami tampak duduk di meja makan tengah menyeka mulutnya. Pria itu tampak baru menghabiskan sarapan yang dibuatkan oleh Ala.
"Alhamdulillah ..." Ia pun segera mendekat duduk berseberangan dengan suaminya yang refleks bangkit mengambil tas kerja.
Ala turut bangkit mendekat pada suaminya mengulurkan tangan. Namun, pria itu malah beranjak membuat tangan Ala mengambang tanpa sambutan.
Ala menghela napasnya. "Terima kasih, Uda sudah mengizinkanku untuk berkuliah."
"Hmmm ... Aku berangkat. Assalamualaikum." Syauqi keluar memasang wajah datarnya.
"Alhamdulillah, ya Allah. Apakah ini jawaban atas doa yang aku panjatkan untuk melembutkan hati suamiku? Meskipun ia masih kaku begitu, setidaknya dia tidak galak lagi." Ala segera menghabiskan sarapan, dan menyempatkan diri membersihkan peralatan sebelum berangkat.
*
*
*
Ala baru saja turun dari ojek online yang ia pesan, tepat di depan fakultas teknik. Ia melanjutkan perjalanannya menuju ruang kuliah.
Ala memutar kepala menengok orang yang memanggilnya di belakang. "Wa?" Sambutnya dengan wajah ceria.
"Tuh kan? Apa kubilang? Berkat baju dinas kemarin kamu berhasil membuat suamimu tunduk." Wawa merasa bangga pada dirinya, mengira apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi.
"Husssh, apaan sih? Bukan!"
"Jangan malu-malu! Aku paham kok bagaimana hubungan suami istri itu ..." Wawa terus menggoda Ala.
Walaupun Ala mengelak, tetapi Wawa tidak percaya. Menjelang perpisahan menuju ruang kuliah masing-masing, Wawa menahan Ala sejenak.
"La, nanti temenin aku nyari buku ya?"
"Ah, tapi aku harus minta izin dulu."
"Nggak usah, sebentar aja. Nanti aku anterin kamu pulang kok," cegat Wawa.
__ADS_1
"Tapi—"
"Bye ...." Ala belum sempat mengutarakan keberatannya, tetapi tidak dipedulikan oleh Wawa.
*
*
*
Ala dan Wawa sudah berada di pusat perbelanjaan menuju toko buku langganan yang ada di sana.
"Aku mau memberi kabar Uda dulu." Ala mengotak-atik ponselnya.
Namun, Wawa mencegah. "Nggak usah, sebentar kok. Kalau Buku Anggaran Biaya Proyek udah ketemu, kita langsung kembali." Wawa menarik tangan Ala yang terlihat sedikit keberatan.
Ketika Wawa tengah sibuk mencari-cari buku di dalam toko buku, Ala memilih menunggu di bagian luar toko melihat suasana ramai pusat perbelanjaan yang ia pijak saat ini.
"Nanti enaknya masak apa ya? Hmm, aku belum tahu makanan kesukaan Uda Uqi ..." Tiba-tiba, raut wajah Ala mengerut mendapati wajah tampan yang ada di dalam bayangannya berjalan di antara keramaian pengunjung mall ini.
"Uda? Uda juga ke sini? Aduh, gawat ... Aku kan belum memberitahu dia." Ala memutar badan takut ketahuan oleh suaminya yang berjalan semakin mendekat.
"Ah, dia ke sini dengan siapa?" Ala kembali melirik suaminya yang tidak sendiri. Di sampingnya ada sosok gadis menggunakan gamis, tampak kemayu berjalan dengan wajah sendu.
Tanpa ia sadari, Ala telah memperlihatkan wajahnya dengan utuh ke hadapan suami. Syauqi menatapnya ketika tepat berjalan di hadapannya ...
...****************...
Halooo, kali ini Author bawa cerita lain dari sobat yang lain lagi yaaa ... Ceritanya seru banget niiih, yuuk diintip ...
Judul: Cinta 2 Dunia
Author: Nazwa talita
__ADS_1
Jangan lupa diramaikan yaaa ....