
Sebelum Rafatar masuk ke dalam rumah Ala, ia merasa gugup saat akan mengunjungi Ummi, ibu Ala, untuk pertama kalinya. Meskipun sudah beberapa kali berjumpa, tetapi untuk situasi resmi khusus bertemu Ummi, adalah kali pertama baginya. Ia berharap mendapatkan sambutan yang baik dan restu dari Ummi. Setelah mengetuk pintu rumah Ala, pintu terbuka dan Ummi muncul dengan senyum ramah di wajahnya.
"Assalamualaikum, Ummi. Perkenalkan, saya Fatar," sapa Rafatar dengan sopan.
"Waalaikumsalam, Fatar. Silakan masuk," jawab Ummi sambil mengundang menyilakan pria itu masuk ke dalam rumah.
Mereka duduk di ruang tamu yang nyaman. Rafatar mencoba mengobrol dengan Ummi, berusaha menciptakan suasana yang santai.
"Bagaimana kabar Ummi? Saya berharap semuanya baik-baik saja," ucap Rafatar sambil tersenyum.
Ummi menjawab dengan ramah, "Alhamdulillah, semuanya baik. Terima kasih sudah datang mengunjungi kami, Rafatar. Ala sudah bercerita banyak tentangmu. Kamu jangan canggung begitu. Kayak baru pertama kali bertemu aja," ucap Ummi sembari bercanda.
Rafatar merasa lega mendengar sambutan Ummi tersebut. Sehingga ada keinginan untuk mempererat keakraban dengan Ummi agar bisa memberikan kesan yang baik. Sehingga Ummi tentu bisa menyukainya dan merelakan sang putri untuk lebih dekat lagi dengannya.
"Saya senang mendengarnya, Ummi. Saya datang dengan maksud hati ingin meminta izin kepada Ummi mengenai niat saya untuk ta'aruf dengan Ala. Supaya, kita bisa saling mengenal dan memahami. Bila kita saling cocok memiliki jalan yang diridhoi Allah, mungkin dalam waktu dekat kami bisa mengikuti Alya dan Rizky kemarin," ujar Rafatar dengan tulus.
Ummi mendengarkan dengan perhatian dan menatap Rafatar dengan penuh pengertian. "Rafatar, sebagai ibu Ala, tentu Ummi ingin yang terbaik untuk Ala. Apa yang ingin kamu sampaikan?"
Rafatar mengambil nafas dalam-dalam sebelum menjawab dengan tegas, "Ummi, saya mencintai Ala dengan sepenuh hati. Saya berkomitmen untuk memberikan kebahagiaan dan melindunginya sepanjang hidup."
Ummi mengamati Rafatar dengan seksama, kemudian ia tersenyum. "Rafatar, saya melihat kebaikan dalam dirimu dan apa yang kamu tunjukkan. Saya percaya bahwa kamu bisa menjaga Ala dengan baik. Namun, perlu diketahui bahwa keputusan ini bukan hanya milik saya, tapi juga pada Ala sendiri. Kamu tahu kan? Dia pernah gagal dalam pernikahan yang sebelumnya. Kira-kira, apakah Ala bersedia untuk mencoba lebih dekat denganmu?"
Rafatar mengangguk mengerti. "Saya mengerti, Ummi. Bagi wanita yang pernah gagal dalam rumah tangganya, ini sungguh tidak lah mudah untuk mencoba membuka lembaran baru. Namun, saya sudah ada hati semenjak kami masih duduk di bangku perkuliahan. Dan saya rasa, ini adalah kesempatan oleh Allah, agar bisa bersama Ala."
Ummi tersenyum lagi, kali ini dengan penuh kehangatan. "Baiklah, Rafatar. Jika kamu sudah mengetahui bagaimana keadaan anak Ummi, dan kamu masih kukuh untuk mencoba memulai hubungan halal dengannya, maka Ummi mengizinkan niat baikmu untuk lebih mengenal Humaira."
"Alhamdulillah, terima kasih, Ummi." Rafatar menangkupkan kedua tangannya dengan penuh rasa syukur.
"Namun, Humaira sedang tidak di rumah. Dia masih di Pondok Pesantren, mengurus segala hal yang ada di sana." terang Ummi.
"Baik, Ummi. Saya akan menjemputnya ke sana. Dan saya akan langsung membawanya ke rumah saya. Kali ini sebagai menantu, Ama dan Apa saya." Rafatar menangkupkan kedua tangannya meminta izin dan beranjak menuju pondok pesantren menemui sang pujaan hati.
__ADS_1
...****************...
Rafatar tiba di Pondok Pesantren dengan wajah penuh kebingungan. Dia merasa sedikit canggung karena belum pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya. Dia tidak yakin apakah ada orang di sana yang mengenalnya atau apakah ia akan diterima dengan baik.
Rafatar memasuki gedung pengurus Pondok Pesantren dan bertanya pada seorang pegawai tentang keberadaan Humaira. Pegawai tersebut memberikan petunjuk kepada Rafatar untuk menemui Ustadz Candra, yang merupakan orang kepercayaan Ala.
Rafatar berjalan menuju ruangan Ustadz Candra dengan hati yang penuh harap. Setelah mengetuk pintu, Rafatar diizinkan masuk.
"Assalamualaikum, Ustadz Candra. Saya datang datang ke sini untuk bertemu dengan Humaira. Saya ingin menjemputnya," ucap Rafatar dengan hormat.
Ustadz Candra menatap Rafatar dengan pandangan tajam. "Siapa Anda? Apakah Anda memiliki izin dari keluarga Humaira untuk datang ke sini?" tanya Ustadz Candra dengan serius.
Rafatar menjawab dengan jujur, "Saya adalah Rafatar, dan saya memiliki izin dari Ummi-nya Humaira untuk bertemu dengannya. Saya ingin membawa Humaira, pulang."
Ustadz Candra tetap skeptis. "Namun, Rafatar, sebagai orang yang mengenali Ustadzah Humaira, saya memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan memastikan keselamatannya. Saya perlu mengetahui lebih lanjut tentang Anda sebelum memutuskan apakah Anda boleh bertemu dengannya."
Rafatar mengerti kekhawatiran Ustadz Candra. "Tentu, Ustadz. Saya sepenuhnya mengerti. Saya siap menjawab semua pertanyaan yang Ustadz miliki dan memberikan informasi yang diperlukan untuk membangun kepercayaan dan meyakinkan bahwa niat saya baik."
Setelah mendengarkan penjelasan dari Rafatar, Ustadz Candra berpikir sejenak. "Rafatar, saya akan mempertimbangkan permohonan Anda. Namun, sebelum Anda bisa bertemu dengan Zah Humaira, saya akan berbicara dengan keluarganya dan memastikan bahwa mereka juga merasa nyaman dan setuju dengan pertemuan ini. Keselamatan dan kebahagiaan Humaira adalah prioritas utama bagi saya."
Rafatar mengangguk mengerti. "Saya menghargai keputusan Anda, Ustadz. Saya bersedia menunggu dan memahami bahwa ini adalah langkah yang penting dalam proses ta'aruf ini."
Ustadz Candra menatap Rafatar dengan serius. "Ingatlah, Rafatar, kesabaran dan ketulusan adalah kunci dalam menghadapi ujian dan proses ini. "Saya akan berbicara dengan keluarga Humaira dan memberitahukan niat baik Anda. Namun, saya perlu Anda mengerti bahwa ini bukanlah jaminan bahwa pertemuan akan terjadi atau bahwa mereka akan setuju. Keputusan akhir tetap ada pada keluarga Humaira."
Rafatar mengangguk dengan penuh pengertian. "Terima kasih, Ustadz Candra, atas kesempatan ini. Saya akan menunggu dengan sabar dan menghormati keputusan keluarga Humaira. Saya hanya berharap agar ada kesempatan untuk mengenal dan membuktikan niat baik saya."
Ustadz Candra melihat ketulusan di mata Rafatar. "Saya menghargai sikap Anda yang bijaksana, Rafatar. Saya akan segera menghubungi keluarga Humaira dan menyampaikan niat Anda. Sementara itu, teruslah memperkuat ikatan dengan Allah dan berdoa agar segala sesuatu berjalan dengan baik."
Rafatar meninggalkan ruangan Ustadz Candra dengan perasaan campuran antara harapan dan ketidakpastian. Dia menyadari bahwa proses ini akan membutuhkan waktu dan kesabaran. Namun, dia tidak akan menyerah. Dia berkomitmen untuk membuktikan niat baiknya kepada keluarga Humaira dan memperjuangkan hubungan yang halal dengan Ala.
Dengan langkah ringan, Rafatar melanjutkan perjalanannya menuju ruang Ala. Rafatar mengetuk pintu ruang kerja Ala dengan hati-hati. Ia menyadari bahwa kedatangannya mungkin menjadi perhatian bagi civitas akademika di pondok pesantren. Ia telah memikirkan berbagai tanggapan yang mungkin terjadi karena kedatangannya.
__ADS_1
"Masuk," ucap Ala di dalam.
Rafatar tersenyum lalu membuka pintu dengan perlahan. "Assalamualaikum," ucapnya.
Ala terkejut melihat Rafatar berdiri di depannya. "Wa-alaikum salam," ucapnya gugup.
Matanya melihat sekeliling ruangan, memastikan bahwa tidak ada orang lain yang menyaksikan pertemuan ini. Ala dengan jelas memperlihatkan kegugupan dan kekhawatirannya kepada Rafatar. Ala merasa khawatir dengan reaksi dari civitas akademika jika mereka mengetahui bahwa seorang pria datang menjemputnya.
"U-uda, apa yang Uda lakukan di sini?" tanya Ala dengan suara yang bergetar.
Rafatar mencoba menenangkan Ala dengan senyumannya yang hangat. "Maafkan aku, Ala, jika kedatanganku di sini membuatmu khawatir. Aku datang dengan niat baik dan sudah mendapat izin dari Ummi. Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu."
Ala menatap Rafatar dengan perasaan campuran antara kekhawatiran dan keingintahuan. Dia tidak ingin menolak Rafatar dengan kasar, tetapi juga takut akan konsekuensi dari pertemuan ini.
"Tapi, Uda, ini bukan tempat yang tepat untuk kita berbicara," kata Ala dengan hati-hati.
Rafatar mengangguk memahami kekhawatiran Ala. "Aku mengerti, Ala. Kita bisa pergi ke tempat lain yang lebih tenang dan pribadi. Aku hanya ingin memberimu kesempatan untuk mendengarkan niat baikku dan menjelaskan perasaanku padamu. Aku tidak ingin mengganggumu atau menimbulkan masalah di sini."
Ala ragu sejenak, tetapi melihat ketulusan dan kehati-hatian yang ada dalam sikap Rafatar, dia mulai merasa sedikit lebih tenang. Dia tahu bahwa dia harus memberikan kesempatan pada Rafatar untuk menjelaskan niat baiknya.
"Ayo, kita pergi ke tempat yang lebih tenang," ucap Ala akhirnya.
Rafatar tersenyum lega. Mereka meninggalkan ruang kerja Ala dengan hati-hati, berusaha menghindari pandangan orang-orang di sekitar. Mereka mencari tempat yang tenang di lingkungan pondok pesantren untuk berbicara dengan lebih leluasa.
Kedatangan Rafatar di pondok pesantren memang menimbulkan perhatian dan kekhawatiran, tetapi dalam hatinya, Rafatar bertekad untuk membuktikan niat baiknya dan menghormati keadaan dan norma yang ada. Dia berharap bahwa pertemuan ini akan membuka jalan bagi mereka untuk memperjuangkan hubungan yang halal dan bahagia.
Ketika Ala dan Rafatar meninggalkan ruang kerja dan melangkah keluar pondok pesantren, suasana di sekitar mulai memanas. Kabar tentang kepergian Ala dengan seorang pria yang bukan muhrimnya menyebar dengan cepat di antara civitas akademika pondok pesantren. Orang-orang mulai bertanya-tanya dan berbisik-bisik satu sama lain, menciptakan suasana heboh dan riuh di sekitar mereka.
Sebagian orang terkejut dan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Beberapa murid pesantren yang sedang beraktivitas di halaman, kantin, atau area belajar terhenti sejenak dan melirik ke arah Ala dan Rafatar yang pergi bersama. Mata-mata mereka penuh dengan keheranan dan pertanyaan.
Beberapa guru dan staf pondok pesantren, yang sebelumnya tidak menyadari kedatangan Rafatar, juga tercengang melihat mereka berdua pergi bersama. Mereka mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi dan mengumpulkan informasi dari orang-orang di sekitar mereka.
__ADS_1