
Pada malam itu, setelah pulih dari kejadian sebelumnya, Rafatar mencoba untuk terus menghubungi Ala. Namun, sayang. Panggilannya tak kunjung masuk. Ia menduka Ala sengaja memblokir kontaknya agar tidak bisa dihubungi lagi olehnya.
Sepanjang malam Rafatar menunggu di beranda rumah itu, tetapi karena sudah terlalu malam, ia memutuskan tidak bersuara agar tidak mengganggu istirahat orang yang tidur di rumah ini. Malam larut pun berpindah pada suhu dingin malam itu. Rafatar ketiduran hingga gema azan subuh pun tak bisa ia dengar dikalahkan rasa lelah.
Keesokan pagi, di saat Ala usai salat subuh, ia ingin melemaskan tubuh sejenak menghirup aroma embun yang mampu menyejukan hati. Namun, ia dikejutkan oleh sebuah tubuh terbujur di lantai teras tertutup dari ujung ke ujung.
"Kyaaaaakh ...." pekik Ala membuat tubuh itu bergerak dan tangan menarik penutup wajah menggukana jaket turun. Ia langsung terduduk.
"Astaghfirullah, ada apa?" tanya Ummi tergopoh menuju keluar kamarnya.
"U-Uda? Astaghfirullah, Uda? Apa yang Uda lakukan di sini sepagi ini?" cetus Ala panik.
Rafatar mengucek matanya beberapa kali. Ia menatap Ala dan Ummi baru saja sampai. Tidak hanya itu, sepasang pengantin baru juga ikut keluar dari kamar mereka penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
"Bang Fatar?" tanya Rizky sangat terkejut melihat saudara sepupunya itu.
"Kenapa tidur di teras?" Ala mengulangi pertanyaannya.
Ryzki membantu saudara sepupunya itu bangun dengan menarik tangan Rafatar. "Bang? Kenapa ke sini? Apa Makwo tau Abang ke sini?" tanya Ryzki menarik bangku teras untuk menyilakan Rafatar tidur. (Makwo/Mak Uwo sama seperti Bude di Jawa. Atau Wawak/Tante/Bibi)
"Ah, aku belum solat Subuh," gumamnya.
"Kalau gitu, solat di dalam dulu," tawar Ryzki.
"Tidak usah, aku ke mushola yang ada di deket sini aja." Rafatar menatap Ala yang menatapnya diam seribu bahasa.
"Ala, aku ingin bicara denganmu. Tapi nanti! Aku mau subuhan dulu." Dengan langkah cepat, ia keluar dari halaman menuju mushola yang tidak terlalu jauh dari rumah ini.
Alya dan Ryzki kembali masuk ke dalam kamarnya. Kini Ummi tinggal berdua dengan Ala.
"Apa terjadi sesuatu dengan kalian? Bukan kah siang kemarin kalian masih baik-baik saja?" tanya Ummi.
"Hmmmff ...." Ala menghela napas berat.
"Jika ditanya antara kami berdua, tentu saja semua baik-baik saja," tambah Ala.
"Lalu, kenapa kalian terlihat ada masalah? Sampai dia tidur di teras?"
"Ala bingung, Mi. Sepertinya rencana hubungan kami harus dibatalkan." ucap Ala.
"Kenapa? Sepertinya, dia sangat mencintaimu lho? Kenapa malah mencoba untuk membatalkan hubungan dengannya?" Ummi terlihat heran oleh pernyataan putri sulungnya ini.
"Ternyata itu tidak cukup, Ummi," ucap Ala memijit jemarinya.
"Kenapa? Ceritakan lah! Kamu selalu saja begini bila ada masalah. Jika bahagia selalu kamu bagi, kenapa saat masalah kamu tak mengatakan satu apa pun kepada Ummi?"
__ADS_1
"Maaf, Mi. Ala hanya tidak ingin membebani pikiran Ummi. Yang jelas, hubungan kami berdua tidak bisa dilanjut—"
"Aku tidak mau!" ucap Rafatar baru kembali.
Ala dan Ummi terkejut oleh kehadiran Rafatar yang tiba-tiba muncul di dalam kamar. Wajahnya terlihat penuh semangat dan tekad.
"Aku tidak mau bila hubungan kita harus diakhiri, Ala. Aku mencintaimu dengan segenap hatiku, dan aku siap menghadapi segala rintangan untuk bersamamu," ucap Rafatar dengan penuh keyakinan.
Ala terdiam sejenak, terkejut oleh pernyataan Rafatar. Dia melihat ketulusan dan ketekunan dalam mata pria itu, dan hatinya mulai tergerak.
"Tapi, Uda, kamu tahu apa yang telah terjadi. Seperti apa yang dikatakan ibumu, diriku ini tidak pantas dan tidak bisa berdampingan denganmu," ujar Ala dengan suara gemetar.
Rafatar mendekati Ala. Wajahnya sendu melihat kesedihan wanita yang telah disakiti oleh ibunya. "Ala, aku tidak peduli dengan masa lalumu atau statusmu. Aku mencintaimu apa adanya, dengan segala kebaikan dan kelemahanmu. Aku siap untuk memperjuangkan cinta ini, untuk bersama-sama melalui setiap rintangan yang datang. Aku ingin kita saling mendukung, saling menguatkan, dan tumbuh bersama."
Ala tersenyum getir mendengar kata-kata Rafatar. Namun, kenyataannya memang tidak sesuai dengan apa yang telah diharapkan.
"Tapi, Uda, bagaimana pun akan sulit bila kita memaksa melangkah bersama. Batu sandungan di antara kita itu sangat besar. Jika ibumu tidak bersedia menerimaku, apalah dayaku. Aku tidak ingin memaksa untuk menikah tanpa restu, baik denganmu atau siapa pun itu," ucap Ala dengan sedih.
Ummi yang menyaksikan momen ini merasa haru. Dia menatap Ala dan Rafatar secara bergantian.
"Mungkin Ummi tidak sepenuhnya mengerti apa yang kalian alami, tapi Ummi tentu mengharapkan hal yang terbaik untuk kalian berdua. Lanjutkan dulu pembicaraan ini, sepertinya kalian butuh waktu sejenak untuk berdua agar bisa menemukan titik terang," ucap Ummi dan beranjak.
"Ala, aku berjanji, akan berusaha untuk meluluhkan hati Ama, asalkan kamu juga bersedia untuk menungguku, Ala." Rafatar menatap wanita mislimah yang dibalut kerudung itu, wajahnya terus tertunduk.
"Maaf, Uda, aku tidak bisa. Maaf jika membuatmu tidak nyaman. Lebih baik kamu kembali ke rumah, minta maaf kepada ibumu. Bagaimana, pernikahan tidak akan pernah jika perjalanan itu tidak dibarengi oleh restu orang tua, apalagi ibumu."
"Jika status janda ini membuat ibumu menentang rencana dan harapan kita, maka kita tidak bisa menentang. Sampai kapan pun aku tidak bisa menghapus statusku yang seorang janda. Dan, aku tidak pernah melihat siapa pun berdasarkan hartanya. Karena, aku sendiri bisa menghidupi seluruh anggota keluargaku tanpa mesti mencari pria kaya untuk menikah denganku."
Ala menghela napasnya dalam-dalam. "Maaf, Uda ... Aku masuk dulu. Aku harus siap-siap untuk bekerja. Assalamualaikum." Ala beranjak masuk dan menutup pintu rumahnya.
Raut kecewa pada wajah Rafatar pun tak terelakan. "Ala, apa kamu membenciku?"
*
*
*
Waktu pun terus bergerak, di mana Ala dan Ummi mulai memasuki prosedur persiapan untuk Umrah. Menyiapkan beberapa dokumen penting selama perjalanan, seperti: paspor, tiket pesawat, visa jika diperlukan, dan identitas pribadi untuknya dan juga Ummi.
Mereka berdua diantarkan oleh pasutri yang semakin mesra setelah dua bulan pernikahan mereka. Ditambah lagi, kabar kehamilan sang adik membuat keluarga ini turut berduka cita.
Sempat ada rasa iri di hati Ala, melihat sang adik bahagia dengan sang suami, meskipun mereka belum terlalu mapan. Alya melihat dan menyaksikan sendiri suasana romantis di antara mereka, yang dulu hanya dia yang berusaha untuk romantis kepada Syauqi.
Ala menggelengkan kepala. 'Aku harus fokus dengan ibadah Umrah ini,' batinnya.
__ADS_1
"Uni dan Ummi hati-hati di jalan ya?" Alya melambaikan tangan kepadanya.
"Iya, kamu juga hati-hati. Jaga Aulia juga ya? Harus akur saat kami jauh," ucap Ala.
"Bener kata Uni-mu, jangan berantem saat kami tinggal. Nanti Ummi doakan agar tesismu lancar, dan kehamilanmu sehat," tambah Ummi.
"Aaamiin ..." Alya melambaikan tangan. Aulia tidak ikut mengantarkan karena ia masih sibuk dengan jadwal kuliah yang masih padat.
Hingga cukup lah Alya dan Ryzki yang mengantarkan mereka. Namun, mata Ryzki menangkap satu sosok yang begitu ia kenal. Tak lain adalah saudara sepupunya.
"Jadi, Uni Ala mendaftar di biro perjalanan milik Bang Fatar?" ucap Ryzki terkekeh.
"Hah? Masa sih? Jadi, sepupumu itu punya biro perjalanan?" tanya Alya takjub.
"Begitu lah, usaha rintisan ayahnya juga sih. Tapi saat berada di tangannya jadi semakin berkembang gitu. Sepertinya Bang Fatar udah cinta mati dengan Uni Ala," ucap Ryzki menangkap tatapan mata Rafatar kepada Ala.
"Aku rasa juga begitu, tapi kenapa mereka tidak jadi melaju ke hubungan lebih serius? Aku sudah kasihan banget sama Uni, tapi bagaimana lagi. Takdir untuk dirinya lebih rumit," ucap Alya merangkul lengan suaminya dengan manja.
Setelah melakukan check in, Ala menengadahkan kedua tangannya. "Ya Allah, aku berniat menjalankan umrah dengan ikhlas dan sepenuh hati. Berikan lah petunjuk, keberkahan, dan keberhasilan dalam menjalankan ibadah umrah ke tanah suci, amin."
*
*
*
Saat dalam pesawat, Rafatar sebagai ketua tim menjelaskan dengan detail langkah-langkah dan rancangan selama perjalanan selama di tanah suci kepada semua anggota tim, termasuk Ala. Ia menjelaskan tentang jadwal keberangkatan dan kedatangan, tempat-tempat yang akan dikunjungi, serta tata cara pelaksanaan ibadah umrah.
Ala memilih untuk mendengarkan dengan diam, memberikan perhatian penuh pada penjelasan Rafatar. Ia menyadari pentingnya memahami setiap langkah dan aturan yang akan diikuti selama perjalanan umrah. Dengan teliti, Ala mencatat informasi penting dan menjadikannya sebagai panduan pribadi selama di tanah suci.
Di Masjidil Haram, mereka berkeliling Ka'bah dengan hati yang penuh kerinduan dan harap. Saat mereka mengelilingi Ka'bah dalam Tawaf, mereka saling berpegangan tangan, merasakan kehadiran suci dan mengalami momen-momen kebersamaan yang menguatkan.
Mereka juga melaksanakan Sai, yaitu berlari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah. Saat mereka melintasi tujuh kali perjalanan ini, mereka saling memberi semangat dan berbagi momen kebersamaan yang mengharukan.
Ketika tiba di Mina, mereka berada di tempat berkemah bersama ribuan jamaah lainnya. Di sana, mereka merasakan kebersamaan dan persatuan dalam ibadah yang sama. Mereka berdoa bersama, membaca Al-Qur'an, dan saling menguatkan dalam perjalanan spiritual mereka.
Saat tiba di Arafah, tempat puncak saat ibadah haji, mereka berdiri di Padang Arafah dengan hati yang penuh pengharapan dan penyesalan. Mereka berdoa dengan penuh tulus, memohon ampunan dan berbagi keinginan untuk kehidupan yang lebih baik.
Setelah menunaikan semua ibadah umrah, mereka kembali ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tahap terakhir, yaitu Tawaf Wada. Saat melingkari Ka'bah untuk terakhir kalinya sebelum pulang, mereka memancarkan rasa syukur dan kebahagiaan yang tak terhingga atas kesempatan untuk menjalankan ibadah ini bersama.
Ala pun mengajak Ummi mencari tempat yang nyaman dan tenang di sekitar Masjidil Haram, menghadap Kabah ia menengadahkan kedua tangan dengan penuh khidmat.
Di sisi lain, Rafatar juga menggunakan kesempatan ini untuk berdoa. Rafatar dalam doanya: "Ya Allah, Engkau adalah Pemberi jodoh dan Pemilik segala rezeki. Aku berlutut di hadapan-Mu dengan harapan dan keyakinan. Aku memohon kepada-Mu, Ya Allah, bukalah pintu hati Ama terhadap Ala. Limpahkanlah rahmat-Mu untuk memperlembut hati Ama, sehingga dia dapat melihat kebaikan dan kesungguhan Ala."
"Satukanlah hati kami berdua dalam ikatan yang halal dan berkah. Jadikanlah Ala sebagai satu-satunya pasangan hidup dunia dan akhirat bagiku. Berikanlah kami rezeki yang melimpah, agar kami dapat membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Lindungilah kesehatan kami, agar kami dapat menjadi hamba-Mu yang kuat dan beribadah dengan tulus. Terimalah doaku, Ya Allah, sesuai dengan kehendak-Mu yang Maha Baik."
__ADS_1