Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 31


__ADS_3

Salma terkejut mendengar nama Humaira disebut oleh Syauqi dalam keadaan setengah sadar. Dia merasa bingung dengan situasi tersebut, tetapi rasa bahagia karena Syauqi sudah bangun membuatnya tidak terlalu memikirkan hal lain.


Salma segera menghampiri Syauqi dan memegang tangannya dengan penuh kasih sayang. Dia mencoba menenangkan Syauqi, "Bang, aku di sini. Jangan khawatir, aku tidak akan pergi."


Meskipun Syauqi masih dalam keadaan bingung dan tidak sepenuhnya sadar, tetapi genggaman tangan Salma membuatnya ia sedikit lebih tenang.


Ala, yang telah berada di luar rumah sakit, merasakan kebingungan dan campur aduk dalam hatinya. Dia tidak dapat melupakan Syauqi, tetapi juga sadar bahwa dirinya telah memutuskan untuk bercerai. Konflik dalam batinnya semakin bertambah saat mendengar panggilan nama Humaira dari bibir Syauqi.


Dalam kebimbangan, Ala memutuskan untuk melanjutkan langkahnya dan meninggalkan lokasi. Meski merasa kehilangan, tetapi dia tidak bisa mundur lagi.


Sementara itu, Salma tetap berada di sisi Syauqi, menggenggam tangannya. Dia tidak tahu persis alasan ia memanggil nama Humaira.


"Bang ... Bang ... Ini Salma, bukan Humaira," ucapnya.


Kisah ini terus berkembang dengan banyak emosi dan konflik yang harus dihadapi oleh Ala, Salma, dan Syauqi. Mereka dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit dan harus menemukan jalan mereka masing-masing untuk mengatasi situasi yang rumit ini.


"Humaira ... Humaira ... Maafkan aku." Tangan Syauqi menggenggam Salma, tetapi mulutnya tak berhenti membisikkan nama wanita


"Bang, apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan? Aku ini Salma!" suara Salma yang tadi masih terdengar lembut, perlahan mulai menggunakan nada tinggi.


"Humaira ... Humaira ...."


Pria yang ia genggam ini, seakan tak mendengar apa yang dikatakan oleh Salma. Senyum bahagia yang tadi menghiasi wajah Salma, kini perlahan memudar berganti dengan wajah kesal.


"Aku Salma, Bang! Kamu tak dengar? Aku ini Salma, bukan Humaira!" Emosi Salma semakin naik karenanya.


"Humaira ... Hum—"


Mulut Syauqi ditutup oleh Salma. "Apa kamu tidak bisa melihatku? Aku ini Salma! Berhenti lah memanggilku dengan Humaira." Salma mundur beberapa langkah merasakan ada yang aneh pada laki-laki ini.


"Gelap. Hidupkan lampu! Gelap sekali, aku tidak bisa melihat apa pun."


Salma tertegun mendengar racauan dari mulut Syauqi. Kenapa tidak? Lampu menyala cukup terang dalam ruangan ini. Namun, Syauqi mengatakan tak bisa melihat apa pun. Padahal, matanya terbuka dengan sangat lebar.


Salma menggelengkan kepalanya. Ia keluar dan kembali mencari dokter mengabarkan bahwa suaminya baru saja bangun.


Selagi dokter memeriksa Syauqi, Salma membuka map yang tadi ia temukan tergeletak di atas tubuh suaminya. Setelah ia membaca isinya, wajah Salma berubah datar.

__ADS_1


"Jadi ternyata benar? Kehadirannya lah yang membuat Bang Syauqi bangun dari tidur panjangnya?" Salma meremuk surat permohonan perceraian terhadap suaminya.


*


*


*


Enam tahun kemudian, seorang gadis berhijab, menggunakan rok dasar bewarna putih, memadupadankan atasan dengan jas bewarna baby blue. Senyumannya sungguh sangat percaya diri menyapa orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.


Ia baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai pengurus Pondok Pesantren yang ditinggalkan Abi dulu. Meskipun jurusannya tidak nyambung sama sekali dengan lokasi kerjanya ini, tetapi, begitu banyak perubahan yang dibawanya sebagai Sarjana Teknik Sipil dalam memoleh bentuk gedung sekolah dan asramanya, sehingga, selain kualitas mutu yang mumpuni, gaya arsitek bangunan antik tetapi indah, membuat banyak sekali orang-orang berpengaruh dari kota ini dan daerah lain yang ingin memasukan anaknya sebagai santri di Pondok Pesantren ini.


"Dah," ucapnya percaya diri melambaikan tangan memasuki kendaraan roda empat bewarna putih, terparkir di parkiran depan kantornya.


Drrrtt...


Drrrtt...


Ia memandangi ponsel tersebut sembari menyalakan mesin mobil yang mengeluarkan deru halus yang tidak berisik. Bibirnya tersenyum melihat nama pada layar tersebut yang tertulis 'Wawa.' Tanpa pikir panjang, ia langsung menarik tombol bewarna hijau.


"Assalamualaikum, Wawa."


"Makasi yah. Iya, nggak apa kok. Lagian aku bukan anak kecil yang mesti diucapkan selamat ulang tahun segala? Ah, usiaku sudah seperempat abad. Hmmmff ... Tak ku sangka ... Waktu sungguh cepat berlalu." gumamnya.


📲 "Nah, udah merasa tua ya? Makanya buruan lepas status jandamu itu! Apa kamu tidak bosan hidup sendiri seperti ini?"


Ala menggeleng dan bibirnya tersenyum meskipun orang yang di seberang tidak bisa melihat bagaimana eskpresi yang diberikannya. "Aku lebih senang seperti ini. Aku bisa fokus dengan pekerjaan dan merawat Ummi yang semakin tua. Tidak hanya itu, aku juga bisa fokus menyekolahkan adik-adikku hingga S-2."


📲 "Sudah lah, La. Kamu jangan begini! Ini udah enam tahun lho? Masa trauma-mu terhadap laki-laki belum hilang juga? Kini giliranmu untuk memikirkan dirimu sendiri, La. Kenapa kamu tidak mencari kebahagiaanmu sendiri? Bukan berarti hidup sendiri itu buruk, tapi kamu juga berhak mendapatkan cinta dan kebahagiaan dalam hidupmu."


La menghela napas. "Wawa, kamu tahu kan, masa lalu itu tidak bisa diubah. Aku sudah melewati banyak hal dan belajar untuk menjadi lebih kuat. Tapi, saat ini, aku memilih fokus pada hal-hal yang lebih penting bagiku. Cinta dan kebahagiaan bukanlah segalanya bagiku."


📲 "Tapi, La, kamu juga perlu merawat hatimu. Kamu pantas mendapatkan cinta dan kebahagiaan. Jangan biarkan luka masa lalu menghalangimu untuk membuka pintu baru."


Ala tersenyum. "Terima kasih, Wawa. Aku menghargai kepedulianmu. Tapi, saat ini aku bahagia dengan apa yang aku lakukan. Menjalani hidup dengan penuh arti dan memberikan yang terbaik untuk orang-orang terdekatku. Itu sudah cukup bagiku."


📲 "Baiklah, La. Aku menghormati pilihanmu. Tapi ingatlah, jika suatu hari kamu ingin membuka hatimu lagi, aku akan selalu ada untukmu. Semoga kamu tetap bahagia dan diberkahi dalam setiap langkah hidupmu. Selamat ulang tahun, La. Aku bangga padamu."

__ADS_1


Ala tersenyum dan terharu mendengar kata-kata Wawa. "Terima kasih, Wawa. Aku juga bangga memiliki sahabat sepertimu. Semoga kita selalu bisa saling mendukung dan bahagia dalam hidup ini. Terima kasih sudah mengingat hari ulang tahunku. Aku akan menghubungimu lagi nanti."


Dengan senyuman yang masih melekat di wajahnya, Ala memulai perjalanan menuju Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang direkomendasikan salah satu salah satu anggota Dewan Pembina Yayasan Pondok Pesantren. Ala telah mengetahui gambaran lokasinya dan memutar setir meninggalkan parkiran Pondok Pesantren ini.


Setelah melalui perjalanan sekitar lima belas menit, Ala membelokan mobilnya pada Biro Perjalanan tersebut. Ternyata, gedungnya terlihat sangat besar dan jajaran mobil mewah berjejer di halaman parkirnya.


"Masya Allah, tabarakallah ... Begitu hebatnya pemilik biro perjalanan ini, hingga sangat dipercayai oleh masyarakat untuk menggunakan jasa mereka," gumam Ala, tersenyum manis.


Ala melanjutkan langkah memasuki bangunan tersebut. Ketika masuk, ia langsung disambut dan dilayani oleh karyawan yang bekerja di sini. Pelayanan yang ramah, membuat Ala merasa sangat nyaman.


"Kakak ingin mendaftar Haji Plus berdua dengan ibunya?" tanya karyawan yang melayani Ala.


"Benar sekali, Mas. Sembari menunggunya, saya ingin mendaftar Umrah terlebih dahulu."


Sang karyawan menginput data yang diberikan oleh Ala. "Kakak mau mendaftar Umrah untuk bulan apa? Serta paket untuk berapa hari?"


"Perjalanan paling cepat kapan ya, Mas?"


"Waahh, Kakak sudah tidak sabar ya menginjakan kakinya di tanah suci?" goda sang agen.


Ala hanya tersenyum karena ia merasa itu adalah pertanyaan yang tak memerlukan jawaban. Umat muslim mana yang tidak ingin menginjakan kaki di tanah suci bukan? Semua umat, pasti memiliki kerinduan untuk mengunjungi baitullah, begitu juga dengan Ala.


"Karena kita memiliki peraturan ya Kak, jadi, maksimal Kakak bisa berangkat Umrah setelah pendaftaran, ialah tiga bulan lagi. Kebetulan sekali, CEO perusahaan kita akan menjadi Tour Leader-nya jika Kakak mengambil paket Umrah yang ini. Bagaimana, Kak? Apa Kakak tertarik?"


Sebenarnya Ala tidak tertarik sama sekali dengan penjelasan bahwa sang CEO perusahaan ini yang akan menjadk Tour Leader-nya. Hanya saja, ia sudah tidak sabar untuk menatap langsung Baitullah, bersama Ummi.


"Baik lah, saya akan ikut pada waktu yang tiga bulan lagi itu."


Beberapa waktu kemudian, Ala telah menyelesaikan pendaftarannya sebagai calon peserta Umrah. Agen yang melayaninya menyerahkan dua file surat-surat penting untuk persiapan Umrah nanti.


"Terima kasih, Mas." Ala mengangguk lalu berjalan mundur.


Ia tidak melihat ke arah belakang seseorang tengah lewat, membuat ia hampir tumbang. Tangan kekar pria yang menabraknya itu, langsung menarik pergelangan tangan Ala, membuat tubuh yang hampir terjatuh, tetap berdiri dengan stabil.


Ala menghela napas lega, tidak jadi sakit, tidak jadi malu. Lalu, ia melihat ke arah pergelangan tangnnya, masih tergenggam tangan pria yang menahan tubuhnya tadi.


"Selamat sore, Pak Boss," ucap Agen yang melayani Ala tadi.

__ADS_1


"A-Ala? Kamu Ala kan?" ucap pria itu dengan penuh kejutan.


__ADS_2