Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 45


__ADS_3

"Humaira, segampang itu kamu melupakanku? Lalu, bagaimana dengan aku?" gumam Syauqi dingin.


"Sudah lah, Qi. Seharusnya, kita tak perlu datang ke tempat ini. Semua ini hanya akan melukaimu saja," ucap Ayah.


Di sampingnya, tampak seorang anak laki-laki menatap Syauqi dengan wajah sedihnya. "Abi sedih Tante itu tidak mau nikah sama Abi, ya?"


Syauqi menatap anak laki-laki itu dengan penuh kepedihan. Dia merasakan kekecewaan yang mendalam namun mencoba mengendalikannya.


"Ya, Nak. Kadang-kadang dalam hidup ini, ada orang-orang yang tidak bisa menjadi bagian dari kehidupan kita meskipun kita sangat menginginkannya. Tapi jangan khawatir, Allah SWT selalu memiliki rencana yang lebih baik untuk kita. Kita harus menerima dan bersabar," ucap Syauqi dengan suara lembut.


Anak laki-laki itu mengangguk, meski wajahnya masih terlihat sedih. Syauqi mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang.


"Jangan sedih, Nak. Kita akan tetap bahagia dengan apa yang kita miliki. Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita," kata Ayah mendorong kursi roda tersebut.


Mereka bertiga balik badan pulang dengan hati yang berat, tetapi tetap berusaha untuk menjaga kebahagiaan dan kekuatan keluarga mereka.


Sementara itu, dua insan baru resmi menjadi pasangan halal, sedang melakukan serah terima mahar yang telah diberikan oleh imamnya. Wajah Rafatar terlihat sangat cerah.


"Akhirnya, setelah sekian lama, aku bisa bebas untuk memelukmu." Rafatar merangkul pinggang bagian belakang Ala yang masih memegang mahar dalam sesi foto.


"Tangannya, Da? Malu ...."


"Biarin, udah halal kan?" Rafatar cuek sembari tersenyum bahagia menghadap kamera.


"Ala, engkau adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Aku berjanji akan selalu menjagamu, mencintaimu, dan menghormatimu sepanjang hidupku. Kita akan menjalani kehidupan ini bersama-sama, saling mendukung dan menciptakan kebahagiaan keluarga yang indah," bisik Rafatar mengecup pipi Ala.


Walau merasa sedikit malu atas tingkah Rafatar, Ala berusaha menenangkan dirinya. "Uda, aku menerima janjimu dengan senang hati. Semoga ini adalah pencarian terakhir di antara kita."


Rafatar membelai pipi Ala. Semenjak dulu, ia ingin sekali menjadi orang yang membuatnya tersenyum, memeluknya dan menjadi orang yang menghapus air mata Ala kala dia bersedih. Rafatar kembali mendekap Ala dan memeringkan kepalanya bersandar pada wanita yang telah halal untuk diapakan saja.


Acara pernikahan mereka dilanjutkan dengan pesta resepsi yang sederhana. Para tamu menikmati hidangan lezat dan hiburan yang disiapkan dengan penuh cinta. Rafatar dan Ala mendapat selamat dari kalangan undangan yang tidak terlalu banyak, karena konsep yang mereka gunakan adalah kesederhanaan.


Venna sempat menentang keinginan mereka melaksanakan resepsi sederhana, karena baginya melaksanakan pesta sangat meriah pun ia sangat bersemangat. Namun, apa daya. Lagi-lagi ia kalah oleh permintaan sang anak, hingga hanya bisa menerima permintaan sederhana mereka yang terkesan tergesa-gesa.


Di tengah keramaian, Ummi, ibu Rafatar, mendekati pasangan pengantin baru dengan senyuman di wajahnya. Dia merangkul mereka berdua dengan penuh kasih sayang.


"Alhamdulillah, akhirnya kalian resmi menjadi suami istri. Semoga Allah memberkahi pernikahan kalian dan saling mencintai, menghormati, dan saling mendukung dalam kebaikan," ucap Ummi dengan suara lembut.


Rafatar dan Ala mengucapkan terima kasih kepada Ummi atas doa dan dukungannya. Mereka berjanji untuk menjaga nilai-nilai keluarga, menghormati orang tua, dan membangun kehidupan yang penuh berkah.


Rafatar dan Ala melihat sekeliling tamu yang datang dengan ceria, memandang wajah-wajah bahagia dan doa yang dipanjatkan untuk mereka. Mereka merasa sangat bersyukur dan bahagia atas cinta dan dukungan yang diterima dari keluarga dan teman-teman terdekat.


"Fatar, sepulang honey moon kalian tinggal di rumah Ama saja ya? Kamu kan anak Ama satu-satunya? Ama mau memberikan ilmu bagaimana merawat anak Ama. Karena selama ini, Ama lah yang merawat kamu kan? Jadi dia harus tau bagaimana cara membahagiakan kamu," ucap Ama kepada kedua mempelai yang telah bersiap menuju Kota Bukittinggi untuk menikmati bulan madu.

__ADS_1


"Kalau begitu, Ala dan Rafatar tinggal di rumah Ummi aja ya? Kan, kita biasanya berkumpul di rumah istri tinggal kan? Karena, Ummi yang melahirkan Ala, Ummi akan memberikan rahasia-rahasia bagaimana bisa menakhlukan hati Ala dengan mudah," ucap Ummi tidak mau kalah.


"Udah, jangan berantem. Aku sudah memiliki rumah sendiri. Jadi, Ummi dan Ama tidak perlu ribut begitu. Ala akan aku bawa ke rumahku. Biar kan kami lebih mengenal dengan sendirinya. Tidak memerlukan campur tangan siapa pun. Nanti, kami akan rajin-rajin main ke tempat Ama, Apa, dan Ummi."


"Oh, ya? Nanti kalian harus kasih Ama cucu yang banyak ya? Biar satu bisa Ama ajak tinggal bersama Ama," ucap Venna.


"Ya, enggak dong. Anak kami, ya kami yang merawat dan membesarkannya. Kalau kangen cucu, nanti para nenek bisa mampir aja ke rumah. Pintu rumah kami terbuka dengan lebar untuk kalian."


Ala terlihat malu mendengar ujaran pria yang kini menjadi suaminya. Kini, tangannya tergenggam dalam kepalan besar Rafatar.


"Ayo, kita berangkat setelah itu, baru bisa beristirahat," ucap Rafatar mendekat Ala yang terlihat lelah. "Apa kamu bersedia tinggal berdua saja denganku, Sayang?"


Ala tiada henti mendapat kejutan-kejutan akan sentuhan-sentuhan tak terduga oleh Rafatar. Ala yang tak pernah mendapat panggilan indah dari suami, merasa jatuh begitu saja, saat panggilan 'sayang' itu mengetuk hatinya.


"Tentu, rumahku adalah di mana tempat suamiku berada," ucap Ala tanpa beban.


Rafatar memutuskan berbulan madu ke tempat yang tidak terlalu jauh karena urusan pekerjaan mereka masih begitu menyita pikiran. Apalagi Ala juga akan melaksanakan penerimaan santri baru membuat ia tidak bisa menikmati masa awal pecararan halal mereka ke tempat yang jauh.


Rafatar membawa sendiri kendaraannya menuju kota yang menempuh dua jam perjalanan jika tidak macet itu. Rafatar melirik sejenak wajah istrinya yang tampak tegang. Rafatar memainkan dua jari menggelitik sang istri yang sedari tadi hanya diam.


Ala terkejut refleks mendeorong jemari yang baru saja menggelitiknya. Rafatar tertawa dengan lepas, tetapi Ala memasang wajah gugup.


"Reaksimu sungguh luar biasa," ucap Rafatar kembali membelai pipi Ala.


"Kamu kenapa?" tanya Rafatar.


"Uda konsentrasi saja, nanti bisa kecelakaan," ucap Ala mengalihkan pikiran Rafatar.


Rafatar pun terdiam. Sejenak ia melihat tangannya yang tadi. Tidak ada kotoran yang menempel. Merasa sedikit aneh, ia memilih diam, berkonsentrasi pada kondisi lalu lintas perjalanan panjang.


Suasana hening di antara mereka berdua, membuat perjalanan terasa sangat panjang.


Perjalanan berlanjut dengan suasana hening di antara Rafatar dan Ala. Mereka saling memandang sejenak, namun tak banyak kata yang terucap. Perjalanan yang seharusnya menyenangkan malah terasa panjang dan canggung.


Ala menarik napas dalam-dalam, suasana tak nyaman ini terasa membuatnya sesak.


"Kenapa diam?" tanya Ala mencoba untuk memecah keheningan tersebut.


"Hmm, bukan kah tadi kamu menyuruhku untuk konsentrasi pada jalan saja?" ucap Rafatar tanpa memalingkan wajah memperhatikan jalan.


"Oh, ya ... maaf," ucapnya kembali terdiam.


"Apa kamu merasa gugup?" Rafatar kembali mencoba menebak isi hati Ala

__ADS_1


"Eh, iya ... eeeh, tidak, maksudku, aku ...."


Bibir Rafatar kembali terulas senyuman. "Kamu merasa gugup karena hanya berdua denganku?" tebaknya lagi.


"Soalnya sekarang kita sudah menikah. Tiba-tiba, aku tidak tahu harus berkata apa," ucap Ala jujur.


Rafatar terlihat gemas. Tangannya mencubit dagu lancip milik Ala. "Masa iya kamu bisa kehabisan topik? Bagaimana dengan suamimu dulu? Sepanjang malam, pasti banyak yang kalian bicarakan. Perlakukan aku lebih baik dari dia, atau minimal sama lah, jangan lebih buruk, nanti aku sedih," candabnya mencoba menghangatkan suasana yang beku.


Ala hanya tersenyum kikuk. Tak ada kenangan istimewa dengan pernikahannya dulu. Dulu ia mengira kedekatan dengan Syauqi akan semakin intens, tetapi nyatanya itu jadi yang pertama sekaligus yang terakhir.


"Huuffftt," Ala menghela napas berat mengingat masa kelam itu.


"Apakah kamu sudah merencanakan kegiatan apa yang ingin kita lakukan di Bulan Madu kita ini?" tanya Ala dengan nada lembut.


Rafatar melihat ke arah Ala dan sedikit tersenyum. "Sebenarnya, aku ingin menjadikan Bulan Madu ini sebagai waktu untuk kita berdua saja, tanpa banyak rencana dan jadwal yang ketat. Aku ingin kita bisa menikmati kebersamaan kita tanpa terburu-buru."


Ala merasa lega mendengar jawaban Rafatar. Dia juga menginginkan momen yang santai dan romantis bersama suaminya, tanpa banyak tekanan dan keterikatan pada jadwal.


"Mungkin kita bisa menjelajahi kota Bukittinggi dengan santai, menikmati keindahan alam dan keunikan budayanya. Kita bisa mencoba makanan lokal yang terkenal di sana dan mengeksplorasi tempat-tempat menarik di sekitar Bukittinggi," saran Ala.


Rafatar mengangguk setuju. "Itu terdengar sangat menarik. Kita bisa menikmati keindahan alam, berjalan-jalan di sekitar kota, dan mencoba makanan khas Bukittinggi. Aku yakin akan banyak pengalaman memyenangkan yang bisa kita dapatkan di sana."


Perjalanan mereka berlanjut dengan suasana yang lebih ceria. Mereka saling berbincang dan tertawa menghilangkan kecanggungan sebelumnya. Kedekatan mereka semakin terjalin dan mereka berdua semakin mengantisipasi momen indah yang akan mereka lewati di Bukittinggi.


Akhirnya, setelah perjalanan yang cukup panjang, mereka tiba di Bukittinggi. Mereka memasuki hotel tempat mereka akan menginap tanpa membawa satu apa pun. Bahkan, tas berisi alat pribadinya, dibawakan oleh sang suami. Bibir Ala terulas senyuman melihat suaminya yang kelimpungan membawa semua benda itu.


"Uda, sini biar aku bawa setengahnya," tawar Ala.


"Jangan! Istriku adalah ratu. Kamu tidak boleh terbebani sedikit pun dan cukup memperhatikan aku saja."


Akhirnya, pegawai hotel membantu Rafatar membawa barang-barang miliknya. Usai check in, Rafatar mengganggam tangan Ala.


Wajah Ala terasa panas, ia malu, bergandengan berjalan menyusuri hotel menuju kamar yang telah dipesankan sang suami.


"Silakan masuk, semoga hari-hari kalian menyenangkan," ucap karyawan hotel yang mengantarkan mereka.


"Terima kasih," ucap mereka serempak.


Ala dan Rafatar masuk ke dalam kamar hotel dengan perasaan yang bahagia. Mereka merasakan kelegaan setelah perjalanan yang panjang. Kamar hotel terlihat indah dan nyaman, memberikan suasana yang romantis untuk mereka berdua.


Rafatar dengan penuh kelembutan menggandeng tangan Ala dan menghadapinya. "Ini adalah tempat kita untuk beberapa hari ke depan, Sayang. Aku harap kita bisa benar-benar menikmati waktu kita bersama di sini."


Ala mengangguk, menatap pemandangan tepat menghadap Ngarai Sianok. Rafatar melepas beberapa kancing kemeja yang ia pakai, melepas kancing pada lengan panjang dan langsung mendekap Ala.

__ADS_1


"Aaaagh ..." Ala mendorong Rafatar dengan refleks kembali.


__ADS_2