
*Ayo disawer ya Kakak (iklan, bunga, kopi, vote)... Kalau sawerannya banyak, nanti aku update lagi. Jangan lupa bantu kasih rate bintang 5 ya? kalau nggak mau bintang 5, lebih baik tidak usah kasih rate daripada menjatuhkan Authornya ππ
...****************...
"Ka-kalian menikah?" Tubuh Ala terkulai lemas bertopang pada lantai rumah sakit ini.
Perawat yang tengah memasangkan perban pada bagian memar dan luka pada Salma, telah menyelesaikan tugasnya membantu Ala untuk bangkit.
"Jangan duduk di sana, Dek. Lantai rumah sakit ini kota." Perawat menyiapkan sebuah bangku yang ada di sana.
Ala menghempaskan diri duduk tak percaya dengan apa saja yang baru ia dengar. "Katakan padaku, kapan kalian menikah?"
Salma melihat gadis yang menjadi istri pertama Syauqi itu dengan tatapan kasihan. "Maaf, kami menikah karena kami saling mencintai. Berbeda kasus denganmu yang menikah karena alasan wasiat almarhum ayahmu."
"Kenapa? Kenapa harus dia?" Suara Ala sangat kecil nyaris tak terdengar.
"Kamu masih bertanya? Harusnya kamu sadar, kamu lah yang tiba-tiba muncul di kehidupan kami berdua! Kamu lah yang merusak percintaan kami. Kamu harus sadar diri!" Suara Salma terus terdengar semakin meninggi.
Ala hanya diam, ia tidak mengerti dengan apa yang baru saja ia dengar. Baginya, suaminya lah pria istimewa yang pertama melekat di dalam hati. Karena, pelajaran yang Abi dan Umi berikan tantang nilai agama, selalu terpatri dalam kehidupannya. Ia tidak pernah pacaran, dan sibuk belajar hingga berhasil lulus menjadi mahasiswa undangan, dan mendapat beasiswa berprestasi.
Memang benar beberapa pria pernah mencoba mendekat, tetapi ia selalu berusaha membatasi diri meskipun dalam tampilan gadis yang tidak terlalu feminim.
Kenyataan ini sungguh menyakitkan, pria pertama mengisi hatinya, sama sekali tidak menganggapnya ada. Ternyata, selama ini ia telah keliru menilai kebaikan yang diberikan sang suami. Ala mengira, suaminya memang telah mencintainya. Ternyata, untuk menyembunyikan kebusukannya.
Ala duduk di bangku lorong menunggu suaminya dalam perawatan medis. Ia termangu bagai kehilangan setengah dari hidupnya.
"Ala?"
Panggilan dari suara yang ia kenal membuat kepalanya refleks berputar mencari sumber suara. "Umi?" Wanita berkerudung syar'i berjalan cepat mendekatinya.
Ala tidak bisa bangkit, tubuhnya masih gemetar menerima kenyataan yang ada.
"Di mana Uqi? Emang, dia ke mana? Kenapa bisa kecelakaan di Sitinjau sana?" Umi memberondong sang putri dengan jutaan pertanyaan.
__ADS_1
Ala membisu, tak tahu harus mulai dari mana.
"Ala?"
Lagi, terdengar suara dari seseorang yang kali ini berbeda. Kedua mertuanya baru saja sampai dengan wajahnya yang penuh kecemasan.
"Di mana suamimu? Di dari mana? Kenapa bisa kecelakaan di sana?" tanya Ibu.
Pertanyaan yang sama, muncul dari kedua ibu yang mengkhawatirkan Syauqi. Namun, Ala memilih untuk bungkam. Dia masih bingung harus bagaimana menyampaikan kepada orang tua mereka berdua.
Ibu masuk ke ruang emergency. Rasa terkejut yang tak bisa ditutupi, tergambar jelas dalam wajah Ibu Syauqi ini.
"Salma? Kamu yang kecelakaan dengan Syauqi? Jangan-jangan, dia pergi ke tempatmu?" tanya Ibu Syauqi beruntun.
"Apa yang kalian lakukan berdua?"
Salma terbungkam oleh rentetan pertanyaan yang diberikan Ibu Syauqi, yang tak lain juga mertuanya, meski ia sendiri tidak mengetahuinya.
"Ayo katakan! Apa yang kalian lakukan berdua hingga kecelakaan ini terjadi di sana?" Ibu Syauqi mendesak tetapi Salma menundukan kepalanya tak berani menjawab.
Air mata Ala jatuh dengan sendirinya. Kekuatan yang sedari tadi ia himpun untuk membendung pilu dan lara ini, akhirnya jebol tak bisa lagi ditahannya.
"Uda menginap di rumahnya, Bu."
Wajah Umi, Ayah, dan Ibu menegang menggambarkan rasa terkejut yang luar biasa. Ibu mertuanya mendekat duduk di samping Ala menarik lengan sang menantu.
"Kamu jangan bercanda! Tidak mungkin anak kami berbuat seperti itu! Kami sudah mendidik dia dengan sangat baik bahkan belajar agama sampai ke negeri Kairo. Tidak mungkin dia melakukan hal yang bertentangan dengan norma dan agama." Wajah Ibu tampak merah padam tidak menerima apa yang dikatakan oleh sang menantu.
"Diam-diam, mereka menikah, Bu. Aku juga baru tahu setelah kecelakaan ini terjadi. Jika tidak ada kecelakaan ini, mungkin rahasia yang anak Ibu sembunyikan, akan tetap tersimpan." Wajah Ala terlihat datar karena ucapan mertuanya tadi. Bagaimana pun, tentu orang tuanya tidak akan mempercayai ini.
"Humaira, kamu jangan bicara seperti itu! Dia itu adalah anak terbaik kami. Tidak mungkin dia melakukan hal yang tidak patut. Hati-hati kamu! Jangan membuat Ibu marah karena kamu sudah menf1tnah anak kami. Kurang baik apa Ibu kepadamu selama ini?" Ibu mertuanya murka. Ia tidak bisa menerima ini.
Ayah mencoleh lengan Ibu mertua. Kepala Ayah menggeleng meminta Ibu untuk tidak berbicara lagi. Dengan wajah gusar, Ibu bangkit dan pergi menjauh. Kali ini, tempat kosong tadi, diisi oleh Ayah.
__ADS_1
"Nak, Ayah memercayaimu. Maaf kan Ibu ya? Kamu jangan terlalu mengambil hati apa yang dikatakan oleh Ibu."
Ala memutar kepala melirik pada pria baik dan penyabar di sampingnya ini. Air matanya kembali terjatuh, bibirnya pun bergetar. Ia menganggukan kepala tanpa berkata-kata.
Dalam kurun waktu yang terasa sangat panjang, suasana hening di antara mereka membuat suasana semakin mencekam. Dokter muncul dan tatapannya menyiratkan sesuatu yang sungguh sangat berat, menggeleng beberapa kali terus mendekat kepada Ala.
Ala membangun kekuatannya untuk menyambut dokter, meskipun ia telah kehilangan asa. "Bagaimana keadaan suami saya, Dok?"
Dokter kembali menggelengkan kepala. "Kondisi suami Adek, sangat kritis. Kedua tangan, kaki, tubuh dan kepala dan wajah mengalami cidera yang sangat berat."
Ala kembali merasa lemas. Beruntung Umi menahan tubuh putrinya hingga Ala tidak jatuh ke lantai.
"Lalu, kami harus bagaimana, Dok?" tanya Ala bergetar.
"Banyak berdoa, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk dia."
"TIDAK! TIDAK! TIDAAAAAK!"
Terdengar teriakan dari arah ruang emergency. Salma mendengar apa yang disampaikan oleh Dokter kepada Ala.
"TIDAK! JANGAN! Bang Syauqi harus hidup! Kita harus hidup bersama dalam bahagia bersama anak-anak kita!" ratapnya.
Ala memejamkan matanya. Ia seakan telah membaca sejauh mana hubungan di antara mereka berdua. Ia teringat akan sentuhan dan belaian suaminya kala itu. Karena, suaminya telah mengenal cara membangkitkan gairah wanita.
'Mereka telah melakukannya. Uda telah melakukannya dengan wanita itu. Sedangkan aku, ia abaikan dalam kurun waktu yang lama,' batin Ala semakin sesak menahannya dalam hati.
Umi memeluk Ala. "Kamu sabar, Nak."
Ala menggelengkan kepalanya. "Umi, apa yang harus Ala lakukan saat situasi seperti ini? Ala bingung dan sedih tidak tahu harus bagaima Umi," isaknya.
"Untuk sementara ini, Saudara Syauqi dalam kondisi koma dirawat intensif di ruang ICU. Mari kita doakan segala yang terbaik untuknya!"
"JANGAN BERKATA BEGITU! SUAMIKU HARUS SEMBUH DOK! DOKTER HARUS MENYEMBUHKANNYA!" teriak Salma yang tidak bisa bergerak.
__ADS_1
"Saya permisi dulu, nanti jika ingin informasi lebih lanjut, bisa temui saya di ruang kerja."
Ala berpegangan pada Umi dengan wajah yang pucat pasi. "Sabar, Nak ... Ini lah ujianmu sebagai istri. Setiap rumah tangga memiliki ujiannya masing-masing."