
"Daaah Baim, Ama dan Syifa pulang dulu ..."
Beberapa hari kemudian, Salma melambaikan tangannya kepada Baim. Namun, Baim hanya menundukan kepala memasang wajah murungnya.
Semenjak pertemuan itu, Syauqi menyewakan sebuah rumah kontrak yang tak jauh berada dari rumah keluarga Syauqi. Ini diharapkan, agar Salma bisa lebih dekat lagi dengan Baim. Namun, bocah itu ternyata menolak kehadiran Salma, tetapi mau bermain sengan Syifa, putri kecil Salma yang selalu kena bentakannya.
Salma merasa sedih melihat reaksi Baim yang masih enggan menerima kehadirannya. Meskipun dia berusaha keras untuk berubah dan memperbaiki hubungan dengan Baim, tampaknya masih ada luka yang dalam di hati anak itu.
Syauqi, yang juga menyadari perasaan Baim, mencoba mengatasi situasi ini dengan bijaksana. Dia mengajak Baim untuk berbicara dengan lembut dan memahami perasaannya.
"Baim, Ama dan Syifa adalah keluargamu, mulai sekarang. Kita harus saling menghormati dan menciptakan hubungan yang baik antara kita," kata Syauqi dengan lembut.
Baim menatap Ayahnya dengan wajah polosnya. "Tapi Bi, Baim masih sedih ingat sikap Ama waktu itu. Baim takut Ama akan mengulangi perlakuan buruknya lagi."
Syauqi memahami ketakutan dan kekhawatiran Baim. Dia ingin memastikan bahwa kehadiran Salma tidak akan menyakiti Baim lagi. "Baim, Ama sedang bekerja keras untuk memastikan bahwa Salma benar-benar berubah dan tidak akan mengulang kesalahan di masa lalu. Mari kita beri Ama kesempatan kedua dan lihat bagaimana hubungan kita berkembang."
__ADS_1
Baim mengangguk ragu-ragu, tetapi dia juga melihat keinginan tulus Ayahnya untuk mencoba memperbaiki situasi ini. Dia merasa ada harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Keesokan hari, Syauqi membawa Baim pada sebuah panti asuhan, yang menjadi tempat ia akhir-akhir ini untuk berbagi. Seperti biass, Syauqi bekerja sebagai pendakwah keagamaan.
Di sana, begitu ramai dan semangatnya anak-anak panti menyabut akan datangnya bulan suci ramadhan. Lalu, tiba-tiba ia melihat Humaira, yang terlihat sangat muda.
"Tidak, dia bukan Humaira," gumamnya. "Tapi, itu adalah Aulia, adik Humaira."
Aulia terlihat tersenyum tipis padanya dan menganggukan kepala mohon izinu untuk lewat. Syauqi tidak memutuskan tatapannya kepada gadis yang baru saja mendapat gelar sarjana itu.
Aulia terdengar panggilan namanya dan berbalik. Dia terkejut melihat Syauqi di sana. Setelah beberapa tahun tidak bertemu, mereka saling menghampiri dengan senyuman.
"Da Uqi ternyata, bagaimana kabar Uda?" tanya Aulia dengan hangat.
"Baik, Alhamdulillah. Bagaimana kabarmu, Aulia?" jawab Syauqi sambil tersenyum. Ia merasakan aura yang persis sama dengan Humaira, di saat berbicara dengan Aulia ini.
__ADS_1
Aulia menjelaskan bahwa setelah lulus kuliah, dia mulai bekerja sebagai relawan di panti asuhan ini. Dia merasa senang dapat memberikan bantuan dan dukungan kepada anak-anak yang membutuhkan.
Syauqi tertarik dengan dedikasi Aulia dan bertanya lebih banyak tentang pekerjaannya. Mereka berdua terlibat dalam percakapan yang hangat, mengingat kenangan lama dan berbagi cerita tentang perjalanan hidup masing-masing.
Sementara itu, Baim juga melihat Aulia dan merasa penasaran. Dia mendekat dan bergabung dalam obrolan mereka. Aulia menyapanya dengan senyuman hangat dan Baim merasa nyaman di dekatnya.
Pada saat yang sama, Salma yang melihat pertemuan itu dari kejauhan, merasa gelisah. Dia memutuskan untuk mendekati mereka dengan hati yang terbuka dan penuh harapan.
"Dek Aulia ya? Assalamualaikum," sapa Salma sok akrab, mengambil posisi di samping Syauqi.
Aulia tersenyum dan menyambut salam Salma. "Iya, Uni? Maaf ya? Mungkin sedikit lupa. Uni siapa kah?"
Syauqi melihat percakapan mereka dengan harapan di matanya. Dia berharap bahwa pertemuan ini bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki hubungan di antara mereka.
Waktu berlalu dan Baim, Syauqi, dan Aulia semakin sering bertemu dan berinteraksi. Baim akhirnya merasa nyaman dengan kehadiran Aulia karena Aulia benar-benar memperlakukannya dengan lembut.
__ADS_1
"Abi, nanti Abi nikahnya sama tante Aulia ya? Baim pengen punya Ummi seperti dia."