
Pengacara David, dengan tekad yang kuat, mulai mengerahkan segala upaya untuk menemukan Galih, biang kerok masalah yang kabur dengan membawa dana milik peserta umrah. Setelah melakukan penyelidikan yang intensif, David akhirnya menemukan jejak Galih yang mengarah ke Swedia.
Dengan berbekal informasi tersebut, David segera menghubungi pihak berwenang dan kerja sama dengan pengacara lokal di Swedia. Mereka bekerja sama untuk melacak keberadaan Galih dan memastikan bahwa dia tidak akan luput dari hukum.
Dengan bantuan pengacara David, ia berhasil melobi pihak kejaksaan atas permintaan Rafatar. Ala telah mendapatkan izin untuk menemui Rafatar di ruang tahanan, di mana sebelumnya ia tidak diizinkan bertemu siapapun. Saat mereka bertemu, perasaan rindu yang mendalam tak bisa lagi ditahan.
Ala dengan cepat berlari ke dalam pelukan Rafatar, sementara tangisnya pecah dalam kesedihan yang terpendam selama ini. Rafatar, dengan penuh kelembutan, mengelus lembut punggung Ala sambil membiarkan air mata mereka mengalir.
"Uda, akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu, Uda," ucap Ala tersedu-sedu dalam pelukan suaminya.
Rafatar membalas pelukan Ala dengan erat, membiarkan tangisnya ikut mengalir. Dalam suasana yang penuh dengan emosi, ia dengan lembut mengusap rambut Ala dan mencium keningnya.
"Sayangku, aku juga sangat merindukanmu. Rasanya tak terperi bahwa kita bisa bertemu di sini." Mata Rafatar berkaca, dan meneteskan butiran bening satu per satu yang jatuh ke pipi Ala yang juga menangis dalam pelukannya.
Ala mendongakan kepala melihat wajah suaminya. "Uda menangis?" Ala mengusap air mata pria yang mengenakan rompi 'tahanan kejaksaan' itu.
Rafatar tersenyum, mengusap air matanya merasa sedikit malu. "Aku menangis, bukan karena kesedihan, tapi aku sungguh bahagia melihatmu di sini akhirnya hadir bersamaku," ucap Rafatar dengan suara yang penuh kasih.
Ala mencoba mengontrol tangisnya, tetapi kelegaan dan kebahagiaannya meluap tak terbendung. Dia memandang wajah Rafatar dengan mata penuh cinta dan penuh rasa syukur.
__ADS_1
"Uda, tak cukup sejuta rasa syukur kulantunkan karena pertemuan ini. Kita akan melewati semua ini bersama-sama. Aku takkan pernah meninggalkanmu," jawab Ala sambil mencoba menahan isak tangisnya.
Rafatar mengecup pipi yang telah basah oleh air mata yang tiada berhenti mengalir. Dan, saat itu pula ia menyadari bahwa istrinya ini jauh begitu tirus dibanding sebelumnya. Ia pun menarik tangan Ala, dan sungguh begitu kecil.
"Sayang, apa perasaanku saja kalau kamu hamil malah terlihat semakin kurus, bukan semakin berisi?" Rafatar meletakan tangannya pada perut Ala.
"Ah, ini hanya karena kepikiran Uda terus. Aku cukup sedih karena saat aku hamil, ayah dari anakku tak bersamaku. Rasanya sungguh berat, apalagi menahan rindu yang tidak waktu bisa melepaskannya," Ala membulatkan bibirnya.
Rafatar mengusap pipi Ala, yang terasa sangat tipis. "Sayang, kamu jangan terlalu stress mikirin aku. Aku di sini akan baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan diriku terpuruk karena aku tidak bersalah. Sebentar lagi kebenaran akan terungkap. Aku mohon agar kamu bersabar sedikit lagi ya?" bujuk Rafatar.
Seminggu kemudian, upaya gigih pengacara David membuahkan hasil. Galih, sang biang kerok masalah yang kabur dengan dana peserta umrah, berhasil ditemukan di sebuah kota di Swedia. Informasi ini segera disampaikan kepada Rafatar, yang merasa lega dan berharap keadilan akan segera terwujud.
Pengacara David bekerja sama dengan pihak berwenang setempat untuk menangkap Galih dan memastikan bahwa dia akan dihadapkan pada proses hukum. Dengan koordinasi yang baik, Galih akhirnya ditangkap dan ditahan untuk menjalani persidangan.
Setelah penangkapan Galih, proses persidangan pun dimulai. Pengacara David bersama tim pengacara lainnya mempersiapkan strategi yang kuat untuk memastikan bahwa Galih mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya.
Rafatar pun duduk sebagai tersangka sekaligus saksi. Sedangkan Ala dan keluarga hadir di persidangan untuk menyaksikan peristiwa pernyataan bahwa Rafatar dibebaskan dari segala tuntutan.
Beberapa saksi kunci untuk mengungkap kebenaran dan memperkuat kasus terhadap Galih pun telah hadir. Mereka bersiap memberikan kesaksian yang jujur dan berani, dengan harapan bahwa keadilan akan segera terwujud.
__ADS_1
Dalam persidangan, bukti-bukti yang kuat disajikan, termasuk rekaman dan dokumentasi yang menunjukkan keterlibatan Galih dalam penyelewengan dana peserta umrah. Pengacara Galih mencoba melakukan pembelaan, tetapi bukti yang terang-terangan tidak bisa disangkal.
Setelah melalui proses persidangan yang berlangsung intens, akhirnya hakim memutuskan bahwa Galih bersalah atas tindakannya dan dijatuhi hukuman yang sesuai.
"Berdasarkan hasil penyelidikan, informasi dari saksi, dan data dari berbagai sumber bukti, maka saudara Galih Aditama kami nyatakan bersalah, dan akan melaksanakan masa percobaan."
"Kepada Saudara Rafatar Adi Putra, kami nyatakan bebas dan bersih dari segala tuduhan." Hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali. Ruangan itu disambut oleh ucapan syukur oleh semua yang hadir.
"Alhamdulillah."
Rafatar dan Ala merasa lega dan bersyukur bahwa keadilan telah terwujud. Mereka merasa bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia dan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh Galih telah mendapatkan balasan yang setimpal.
Ala pun yang sudah tak kuasa mendekati sang suami yang masih duduk di kursi pesakitan. Ia memeluk Rafatar, kali ini mengabaikan rasa malunya.
"Alhamdulillah, Uda, akhirnya kita bisa berkumpul kembali."
Rafatar mengusap kepala sang istri. Di belakang istrinya telah berdiri sang ibu dengan muka masam mengarah pada Ala.
"Giliran bebas begini kamu baru nangis-nangis bahagia? Selama suamimu dikurung kamu ngapain?"
__ADS_1