Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 64


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan Venna yang keras, Ala merasa hatinya hancur.


"Baiklah, Ma. Aku akan pergi dari rumah ini."


Ala berjalan menuju kamar mereka dengan langkah gugup. Dia membuka lemari dan mengambil pakaian-pakaian yang ia butuhkan. Setiap gerakan kecilnya penuh dengan kesedihan dan keputusasaan.


"Bu Venna, kenapa Anda begitu kepada anak saya?" tanya Ummi mengerutkan keningnya.


Venna hanya membuang muka tak bergeming menanggapi pertanyaan besannya itu.


"Baik lah Ala, sepertinya kamu tidak dihargai di tempat ini. Adikmu juga ada di sini. Jika kamu butuh bantuan, Ummi akan memanggilnya."


"Tidak usah Ummi. Aku akan menyelesaikan semuanya sendiri," ucap Ala tersenyum getir.


Dalam beberapa menit, Ala mengumpulkan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Hatinya penuh dengan campuran perasaan sedih, marah, dan kekecewaan. Dia keluar dari kamar dengan langkah lemah.


Venna masih duduk di sofa dengan wajah yang penuh dengan keangkuhan. Dia menatap Ala yang membawa tasnya dengan sinis.


"Akhirnya kamu mengerti. Segera pergi dan jangan pernah kembali," ucapnya dengan dingin.


"Baik lah, aku akan pergi, Ma. Tetapi ingatlah, aku tetap mencintai anak ini dan Uda Rafatar. Dan Ama juga harus tahu, aku akan melindungi bayi yang ada di dalam rahimku ini dengan sebaik mungkin."

__ADS_1


Ala melangkah menuju pintu dengan hati yang berat. Dia menatap Ummi yang berdiri di sampingnya dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Ummi, aku akan baik-baik saja. Terima kasih atas segalanya," ucap Ala dengan senyum getir.


Ummi menganggukan kepala. Tangannya mengambil alih tas yang berada dalam genggaman Ala. "Bagaimana pun, kamu adalah anak Ummi. Anak Ummi yang kuat dan kamu adalah orang yang terpilih untuk menerima ujian ini."


Ala mengangguk dengan lesu dan membuka pintu. Dengan perasaan campur aduk, dia melangkah keluar dari rumah yang pernah dianggapnya sebagai tempat yang aman. Dalam hatinya, dia memendam harapan bahwa Rafatar ada di sana dan menghalangi langkahnya untuk meninggalkan tempat ini. Namun, batang hidung suaminya tak terlihat. Kendaraannya tak lagi terparkir di tempat biasa kala ia pulang dari kantor.


'Baik lah, Uda. Keputusan ini akan kita lanjutkan saat anak ini telah lahir. Apakah akan berakhir, atau akan terus berlanjut,' batinnya dalam resah.


*


*


*


"Assalamualaikum." Rafatar mengetuk pintu rumah itu. Akan tetapi tak ada jawaban sama sekali.


'Apa yang terjadi?' batinnya.


Tiba-tiba, ia teringat sesuatu yang buruk. Dengan tergesa ia mencoba mencari kunci yang ada di tangannya. Dengan gugup ia membayangkan istrinya terjatuh dalam keadaan tak sadar.

__ADS_1


"Sayang? Sayang?" Rafatar berhasil membuka pintu rumah buru-buru masuk dan menyalakan lampu satu per satu. Ia masuk ke dalam kamar, ke kamar mandi, dapur, seluruh bagian rumah. Namun, tak satu pun bayangan Ala ia temukan dalam kesunyian malam ini.


Lalu, ia merenung kembali mencoba mengingat apa yang tadi terjadi. Kepalanya yang penuh oleh segala kekhawatiran akan nasib anaknya yang menunjukan perkembangan yang tak baik berdasarkan diagnosa.


Tiba-tiba saja, Rafatar menganga, ia baru menyadari akan sikapnya akhir-akhir ini dan cecaran sang ibu yang membuatnya muak. "Astaghfirullah, apa yang aku lakukan pada istriku?"


Rafatar hampa melihat keheningan yang menyelimuti ruangan. Suasana sepi itu mengingatkannya pada kehangatan dan kegembiraan yang baru saja hilang.


"Sayang, kamu ke mana? Apa yang dikatakan Ama padamu hingga kamu memutuskan untuk pergi dari rumah ini tanpa memberitahu aku?Rumah yang dulu penuh dengan tawa dan canda, sekarang terasa sepi dan kosong tanpa hadirmu di sini," gumamnya tertegun.


Rafatar segera melangkah menuju luar rumahnya. Hatinya memburu mengendalikan mobil menuju rumah kedua orang tuanya. Hatinya dipenuhi dengan kecemasan dan pertanyaan yang belum terjawab.


Dengan mudah Rafatar yang memiliki kunci rumah orang tuanya menerobos masuk pada rumah yang masih benderang. Dari arah ruang tengah, terdengar suara televisi yang masih menyala menandakan orang yang ada di rumah ini masih terbangun meski malam sudah begitu larut.


Dia melanjutkan langkahnya ke ruang tengah, dan melihat Venna menyambutnya dengan tatapan tajam yang menggambarkan kekecewaan dan kemarahan.


"Ma... Apa yang Ama lakukan pada istriku? Mengapa dia meninggalkan rumah kami?"


Venna menatap Rafatar dengan dingin, memancarkan sikap yang tidak peduli.


"Ama sudah mengambil keputusan. Ama tidak mau jika kenyataan bahwa anak kita akan terlahir cacat. Jika dia masih ingin lanjut melahirkan anak itu, lebih baik kalian berpisah saja dari pada harus membuat keluarga ini malu!"

__ADS_1


__ADS_2