
"Pak Bima, saya mengerti kekhawatiran Anda terhadap keuangan perusahaan, tetapi kita tidak bisa mengorbankan upaya pemasaran yang agresif. Kita perlu menarik lebih banyak pelanggan agar perusahaan ini tetap bertahan!" ucap Rafatar.
"Anda tidak memahami kondisi keuangan perusahaan! Semakin besar pengeluaran promosi, semakin dekat dengan kebangkrutan kita. Apa gunanya mendapatkan banyak jemaah jika akhirnya kita tidak bisa membayar gaji karyawan?" ucap Bima dengan penekanan yang membuat suasana cukup tegang.
"Pak Bima, saya sepakat dengan Anda bahwa keuangan perusahaan harus dijaga. Tetapi, tanpa upaya pemasaran yang kuat, bagaimana kita bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat? Kita harus berinvestasi untuk mendapatkan hasil yang lebih besar di masa depan," ucap Soni percaya diri.
"Anda berdua harus melihat gambaran yang lebih besar! Jika kita tidak mengambil risiko dan tetap berada di zona aman, perusahaan ini akan semakin terpuruk. Kita butuh promosi yang mencolok, agar masyarakat kembali melirik kita," ucap Rafatar optimis.
"Risiko? Apa yang Anda bicarakan? Ini bukan soal mengambil risiko, tapi soal keberlanjutan perusahaan ini! Saya tidak akan setuju dengan pengeluaran promosi yang berlebihan!" Bima masih kokoh dengan apa yang ia yakini.
"Jangan terlalu kaku, Pak Bima! Bisnis ini butuh inovasi dan keberanian untuk maju. Jika kita terus membatasi anggaran promosi, perusahaan ini akan tenggelam di antara kompetitor yang lebih agresif!" ucap Soni masih percaya diri.
Perdebatan semakin memanas, dengan Rafatar berusaha meyakinkan Bima dan Soni untuk mencari keseimbangan antara keuangan dan pemasaran.
"Baiklah, saya mengerti kekhawatiran Anda berdua. Kita perlu mencari solusi kompromi yang dapat menjaga keseimbangan antara keuangan dan pemasaran," ucap Rafatar, mencoba memberi masukan sebagai pimpinan perusahaan.
"Bagaimana caranya, Pak? Saya tidak ingin melihat perusahaan ini semakin terjerumus ke dalam kerugian yang lebih besar," ucap Bima sanksi.
"Saya setuju dengan Pak Bima. Kita perlu merencanakan strategi promosi yang efektif namun tetap hemat biaya," ucap Soni, kali ini menyetujui pendapat Bima.
"Baik lah, sejenak saya sempat memikirkannya. Jadi, saya butuh masukan dan pendapat dari kalian berdua. Pertama, kita harus melakukan evaluasi terhadap strategi pemasaran yang sedang berjalan. Kita perlu mengidentifikasi bagian mana yang memerlukan penghematan, misalnya dalam iklan cetak atau promosi online yang lebih terukur," ucap Rafatar.
"Menurut saya, ide Anda itu cukup bagus, Pak. Kita bisa fokus pada platform online yang lebih efisien dan bisa memantau hasilnya secara lebih baik," ucap Soni.
"Tapi kita juga tidak bisa sepenuhnya mengabaikan iklan cetak atau promosi offline. Kita bisa mengurangi alokasi anggaran untuk itu, tetapi tetap memanfaatkan kesempatan promosi yang strategis," tambah Soni sang ketua tim marketing.
__ADS_1
"Benar sekali Pak Soni, kita perlu mengoptimalkan penggunaan anggaran promosi dengan memilih saluran yang paling efektif dan menguntungkan. Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan kemitraan atau kerja sama dengan pihak lain untuk saling mempromosikan," ucap Rafatar dengan wajah sumringahnya.
Bima terlihat mencoba menelaah apa yang diobrolkan oleh Soni dan Rafatar. "Jadi, dengan pendekatan yang lebih terarah dan efisien, kita bisa mengurangi pengeluaran promosi tanpa mengorbankan efektivitasnya," simpul Bima.
"Dan hal ini juga akan membantu kita mendapatkan pelanggan yang lebih berkualitas, karena promosi yang lebih cermat dan terukur akan menarik orang yang lebih tertarik pada layanan kita," ucap Soni dengan percaya diri.
"Tepat sekali. Jadi, mari kita mulai merencanakan strategi promosi yang lebih terfokus dan efisien, dengan tetap mempertimbangkan keuangan perusahaan. Dengan kerja sama kita, saya yakin kita bisa mengatasi tantangan ini dan memastikan keberlanjutan perusahaan," ucap Rafatar menutup pertemuannya dengan dua orang penting dalam perusahaannya.
Setelah semua usai, Rafatar memeriksa ponselnya. Setelah melihat pesan dari sang peneduh hati, bibir Rafatar menguraikan sebuah senyuman dan menekan tanda panggilan pada sebuah nama "Bidadari Surgaku."
Selang beberapa waktu nada sambung berbunyi, dari balik panggilan terdengar suara lembut menyapanya.
"Assalamualaikum, Papa Akram?"
"Walaikumsalam Uma-nya Akram. Bagaimana pekerjaan hari ini di pondok, Sayang?"
Sebenarnya, masalah keuangan perusahaan masih berkecamuk dalam pikiran Rafatar. Namun, melihat keberhasilan pengawasan di pondok pesantren yang dikawal oleh istrinya, memberikan sedikit ketenangan bagi hatinya.
"Aku sebenarnya juga lagi kangen padamu, Sayang. Sepertinya keberhasilan supervisi di pondok memberikan semangat baru bagi kamu dan tentu saja bagiku," ucap Rafatar tak ingin membagi keresahannya mengenai masalah yang ia alami dalam perusahaannya.
"Semoga, apa pun masalah dan rintangan yang kita alami ke depannya, bisa kita hadapi dan Allah membantu kita dalam setiap langkah kebaikan yang kita jalani. Uda adalah suami terbaik yang selalu aku haturkan dalan setiap doaku. Semoga apa pun yang terjadi, baik itu sebuah kebahagiaan, maupun sebuah masalah, kita bisa melewatinya ya Uda. Jika Uda memiliki masalah, jangan lupa ceritakan padaku. Mari kita pecahkan masalah itu bersama. Karena berdua lebih baik dibanding sendiri kan?" ucap Ala, membuat perasaan Rafatar bahagia.
Meskipun hatinya sebenarnya gundah, kali ini ia berhasil melupakannya sejenak. "Sayang, tunggu aku di rumah ya? Rasanya aku tak sabar lagi untuk memelukmu. Aku mencintaimu."
"Aku juga cinta pada Uda, semangat ya suamiku sayang. Aku harus buru-buru pulang, kasihan Apa yang mengurus Ama, dan Akram pasti udah nyari-nyari aku kalau udah jam segini," ucap Ala.
__ADS_1
"Baik lah, Sayang. Kamu hati-hati berkendara ya? Nggak usah pikirin aku selama di perjalanan! Cukup fokus aja berkendara, oke?" canda Rafatar.
"Iiihh, GR? Aku mah kangennya sama Akram yaa, papanya enggak," canda Ala lagi.
Usai ngobrol dengan Ala, perasaan Rafatar jauh lebih optimis lagi. "Ya, kita pasti bisa melewati ini semua. Aku harus yakin, jemaah akan banyak yang mendaftarkan haji dan umrahnya dengan biro perjalanan ini." Tangan Rafatar tergenggam penuh semangat. Ia melanjutkan pekerjaannya.
Setelah sore menjelang, Rafatar pun beranjak dari kantornya dan berencana ingin singgah sejenak membelikan makanan kesukaan istrinya. Namun, di tengah perjalanan Rafatar melihat seorang wanita yang menggendong bayi dan satu tangan lagi memegang sebuah travelbag.
Wanita itu berjalan tergesa-gesa sambil menggendong bayi memasang wajah kebingungan dan sedih. Tanpa ragu, Rafatar mendekati wanita itu.
"Maaf Uni, apa yang terjadi?" tanya Rafatar dengan lembut menyapa wanita itu.
Wanita itu tak lain adalah Salma menoleh ke arah Rafatar dan air matanya mulai berlinang. "Saya baru saja diusir oleh suami saya, Pak. Dia tiba-tiba mengucapkan talak padaku dan memintaku pergi. Saya tidak tahu harus ke mana."
Mendengar kisah wanita itu, membuat Rafatar merasa iba melihat keadaan ibu dan anaknya yang menghadapi krisis ini.
"Tenanglah, Uni. Saya ingin membantu Anda. Bisakah saya membawa Anda dan anak Anda ke tempat yang aman? Kita bisa mencari solusi bersama."
Salma menatap Rafatar dengan harapan di matanya. Ia perhatikan Rafatar dengan seksama, dan bibirnya tersenyum tipis. 'Apakah mungkin ini artinya dia menyukaiku, tetapi pura-pura menolongku? Jika Bang Syauqi tak mau lagi denganku, ada pria tampan dan terlihat kaya ini yang bisa menjadi pengganti dirinya,' batin Salma.
"Benarkah, Pak? Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya sangat terhimpit dan khawatir dengan nasib anak saya." Salma mulai memainkan perannya dengan baik.
Rafatar tersenyum hangat. "Tentu, Uni. Mari kita segera mencarikan solusi yang baik untuk Anda dan anak Anda. Tolong beri tahu saya apa yang Anda butuhkan dan ceritakan lebih banyak tentang situasinya."
Salma memperkenalkan diri dan mengungkapkan kekhawatiran dan kebutuhannya kepada Rafatar. Rafatar mendengarkannya dengan penuh perhatian dan memikirkan langkah-langkah yang dapat diambil untuk membantu Salma. Setelah mendapatkan informasi yang cukup, Rafatar menawarkan rencana yang bisa dilakukan.
__ADS_1
"Ni Salma, saya punya beberapa kontak dan sumber daya yang mungkin bisa membantumu. Pertama, mari kita cari tempat tinggal sementara untuk Uni dan anak Uni. Saya juga akan menghubungi beberapa organisasi yang bisa memberikan bantuan dan dukungan dalam situasi seperti ini. Jangan khawatir, kita akan menemukan jalan keluar yang baik."
Salma tak bergeming mendengar rencana Rafatar. "Terima kasih, Pak. Saya sungguh berterima kasih atas bantuannya. Namun, bagaimana jika saya turut pulang ke rumah Anda saja?"