
*Yuhuuuw Kakak Readers Manja semuanya, jangan kaget yaaa ... Cover Humaira udah diganti sama yang punya rumah, semoga suka yaaah*
Rafatar merasa terkejut mendengar kabar tersebut. Hatinya berkecamuk antara kebahagiaan karena sang ibu akhirnya membuka diri untuk menerima Ala, tetapi langsung remuk kala kabar kedatangan mantan suami Ala yang menginginkan untuk rujuk.
Rafatar menggeleng cepat dengan raut penuh arti. Tanpa ragu, Rafatar segera berlari menuju pintu rumah dan masuk dengan cepat. Di dalam rumah itu, dia melihat suasana yang cukup tegang. Ia melihat Ala duduk termangu, mematung di antara tamu.
Tepat di hadapannya ada seorang pria dengan wajah yang tidak teridentifikasi menggunakan kursi roda yang tak lain adalah mantan suaminya. Di sofa ruangan ini juga terlihat keluarga sang mantan Ala yang duduk di seperti menunggu sesuatu.
Dalam hati, Rafatar berdoa agar Ala tetap kuat dan tegar menghadapi situasi ini. Dia mendekati Ala dengan langkah mantap dan meletakkan tangannya di atas pundak Ala sebagai tanda dukungan.
"Ala, aku datang ... Aku ada di sini untukmu. Aku akan mendukungmu dalam setiap keputusan yang kamu ambil," ucap Rafatar dengan suara lembut namun penuh keyakinan.
Ala menoleh dan melihat tangan Rafatar yang terletak di pundaknya Namun, entah kenapa kali ini ia mendapat sebuah kekuatan. Wajahnya sedikit terbuka dan terpancar kelegaan.
"Saya sudah membuat keputusan, Pak. Dan keputusan saya adalah untuk tidak bisa menerima ajakan rujuk kembali. Saya sudah memaafkan dan melupakan masa lalu dengan uda Uqi. Akan tetapi hubungan kami sudah berakhir dan tidak ada ruang bagi kami untuk kembali bersama," ujar Ala dengan tegas.
Mantan suami Ala terlihat terkejut mendengar keputusan tersebut. "Ke-kenapa?" ucap Syauqi gugup.
"Humaira, kamu mohon agar kamu memikirkannya kembali. Dulu, dia memang bersalah. Namun, dia telah menyadari dan menyesalinya setelah kamu pergi. Dia selalu merindukanmu, Humaira. Setidaknya, beri dia kesempatan bahwa ia telah berubah." Ibu Syauqi mencoba meyakinkan Ala dengan berbagai argumen.
"Maaf, aku tidak bisa, Ibu, Ayah, Uda," ucap Ala teguh dengan pendiriannya. Rafatar yang mendengar keteguhan hati Ala, tersenyum dan merasa bangga. Ada sebuah keyakinan akan doa yang ia haturkan, kali ini diijabah Allah swt.
"Setidaknya, kamu tidak dipandang sebelah mata jika kembali bersama Uqi, Ala," ucap Ibu.
"Maaf, Bu. Saya rasa status janda yang saya miliki bukan lah sebuah aib. Saya tidak berbuat z4lim, dan bercerai bukan karena perbuatan maks1at. Tak apa orang berpandangan buruk kepada saya, karena Allah Maha Mengetahui segala yang terjadi kepada kami."
__ADS_1
"Humaira, bukan kah kamu mengatakan sudah memaafkan ku? Aku sangat merindukanmu, aku mencintaimu, dan kala cintaku telah bersemi kepadamu, kamu menghilang pergi meninggalkan—"
"Uda, aku rasa aku tidak perlu mengulang lagi dongeng yang pernah kita alami sejenak. Kamu bukan lah pangeran dan aku bukan lah putri."
"Apa karena aku sudah berubah menjadi buruk rupa, buta, tuli, dan lumpuh, sehingga kamu tak mau menerimaku?" Syauqi menghiba masih mengharapkan mantan istrinya.
"Bukan! Bukan karena itu! Apa kamu belum puas menyakitiku, Uda? Cukup, Uda. Aku rasa aku tak kuat lagi. Maaf Uda, dalam islam memang dibolehkan memiliki istri lebih dari satu. Tapi itu harus dapat izin dari istri pertama. Tapi sayang, aku masih manusiawi. Masih cinta dunia. Aku bukan wanita yang siap dimadu dengan diam-diam."
Wajah Syauqi tampak semakin pucat mendengar luahan hati Ala yang baru pertama kali ia dengarkan. Ia tak menyangka, gadis patuh dan manis yang ia kenal dulu, kini dengan lantang membantah semua yang ia pinta.
"Aku rasa, kita tidak memiliki hal yang harus dibicarakan lagi. Kebetulan aku kedatangan tamu istimewa," ucap Ala dengan asal.
Rafatar yang sedari tadi diam, kini jantungnya dibuat seakan melompat keluar. Hampir saja senyum sumringah menghiasi bibirnya. Lalu, Rafatar menatap mantan suami Ala dengan tajam, memberikan sinyal karena baru memahami pernikahan Ala tidak lah bahagia seperti yang ia kira.
"Maaf semuanya, saya akan membawa Ala pergi bersama saya," ucap Rafatar.
Ala bangkit. "Maaf semuanya, saya akan pergi bersamanya. Assalamualaikum," ucap Ala keluar dan diikuti oleh Rafatar dengan langkah ringan di belakangnya.
Syauqi menggenggam tangannya dan tubuh bergetar hebat. Ummi yang sedari tadi diam, tak bisa berbuat dan berkata apa-apa. Jika Ala, putri sulungnya sudah berbicara serius, maka tak akan ada siapa pun yang bisa membantah.
Sementara itu, Ala yang tadi melangkah cepat keluar dari rumahnya, semakin lama melangkah semakin berat. Tubuhnya kembali bergetar. Semua rasa sakit yang telah ia tahan kini keluar dengan mudahnya.
"Astaghfirullah al'azim .... Apa yang tadi aku katakan?" isaknya mengangkupkan kedua tangannya pada wajah.
Di belakang Ala, tangan Rafatar ingin mencoba kembali menggapai wanita muslimah itu, tetapi tangan itu mengepal dan turun. Dia sudah mengerti alasan perceraian Ala yang terkhianati oleh suaminya yang dulu, membuat Rafatar paham mengapa Ala seakan mati rasa tak menanggapi besaranya cinta yang ia punya.
__ADS_1
"Apa benar kamu ingin ikut denganku?" tanya Rafatar kembali.
Perlahan, tangan yang menutupi wajah Ala yang merah bagai tomat, turun memamerkan bekas basah jatuhnya air mata. Ala memutar tubuhnya. "Maaf, Uda. Terima kasih sudah membantuku untuk lepas dari kondisi tadi. Tapi, Uda. Sudah berapa kali aku katakan? Jika kita bukan mahrom, tak baik kita berjalan berdua."
"Jika ibuku mengizinkan, apa boleh kita langsung menikah saja? Aku rasa, aku sudah tidak sabar untuk ... hmmm ... aaah, menikah denganmu," ucap Rafatar dengan wajah cerahnya menggaruk kepala bagian belakang dengan senyum kikuk.
"Uda, kenapa harus aku? Uda itu gagah, kaya, dan tampan. Kenapa harus aku yang Uda cinta? Harusnya, Uda menuruti permintaan Ama Uda, mencari perawan yang belum pernah menikah dengan siapa pun." Ala membelakangi Rafatar yang tadinya masih memasang wajah cerah.
"Lalu, kalau janda harus dipasangkan dengan Duda? Ayo lah Ala! Walaupun kamu tak pernah memikirkan ku sama sekali, aku tetap tak akan menyerah. Karena aku akan membuatmu mencintaiku."
"Percuma, Uda! Kisah di antara kita tak akan pernah dimulai jika Ama-mu tidak memberikan kesempatan kepada kita."
"Oleh karena itu aku bertanya padamu, Ala. Jika seandainya Ama memberikan izinnya, apakah kamu mau, jika kita langsung melangkah dengan jalan yang lebih suci? Jika sudah menikah, tak ada lagi dinding penghalang di antara kita," ucap Rafatar dengan percaya diri.
Ala menatap Rafatar dengan perasaan campur aduk. Dia bisa merasakan keikhlasan dan ketulusan dalam kata-kata Rafatar, tetapi dia juga tahu bahwa keputusan ini bukanlah sesuatu yang bisa diambil dengan gegabah.
"Uda, aku menghargai perasaanmu dan keinginanmu. Namun, kita harus mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil langkah seperti ini. Menikah adalah komitmen seumur hidup, dan kita perlu memastikan bahwa kita siap secara fisik, emosional, dan finansial," ucap Ala dengan penuh pertimbangan.
Rafatar mengangguk dan menatap Ala dengan lembut. "Aku mengerti, Ala. Aku tidak ingin memaksamu atau membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku siap untuk menghadapi segala tantangan dan memberikan yang terbaik untukmu."
Ala tersenyum lembut. Dia merasa terharu, Rafatar yang begitu peduli. "Hufff, bagaimana dengan Ama Uda?"
"Ayo masuk! Ama sudah menunggu dan ingin berbicara denganmu." Rafatar membukakan pintu untuk Ala.
Ala tersenyum merasa dihargai oleh sikap Rafatar yang jauh berbeda kala bersama Syauqi dulu. Kedua insan tersebut meninggalkan pekarangan rumah Ala. Dari beranda rumah Ala, Syauqi membisu merasa hatinya begitu h4ncur.
__ADS_1
Tangan Ayah berada di pundaknya merasa kasihan kepada sang putra. "Kamu harus sabar. Ini artinya, sedari awal kalian bukan lah jodoh yang ditulis dalam takdirmu. Kamu ikhlaskan dia, dan semakin memperbaiki diri. Mungkin akan ada yang lebih dari Humaira yang akan datang untukmu."
Syauqi menundukan kepalanya sayu. Ia menggeleng pelan. "Tidak, sepertinya tak akan ada lagi yang mau menerimaku yang buruk ini."