
Rafatar menatap karyawannya itu dengan mata yang memancarkan kepanikan dan kebingungan. "Pihak kejaksaan?" ulangnya dengan suara bergetar.
Karyawan itu mengangguk cepat. "Ya, benar Boss. Mereka sudah mendapatkan laporan dari peserta umrah yang merasa dirugikan. Mereka mengklaim bahwa perusahaan kita telah melakukan pen!puan dan pengg3lapan dana. Kejaksaan mengirim tim untuk menyelidiki kasus ini."
Rafatar merasakan tubuhnya melemah. Dia mencoba mengumpulkan pikirannya yang kacau dan berusaha menemukan cara untuk menghadapi situasi yang semakin rumit ini.
"Karyawan-karyawan yang lain, apa mereka sudah tahu tentang situasi ini?" tanya Rafatar dengan suara gemetar.
"Beberapa orang sudah mendengar kabar tentang kekacauan perusahaan kita. Mereka cemas dan khawatir, Boss. Beberapa dari mereka bahkan mulai mencari pekerjaan baru."
Rafatar merasa dunianya akan runtuh. Dia merenung sejenak, mencoba mencari jalan keluar dari keadaan ini. Ala yang berada di luar ruangan merasakan gelisahnya suaminya. Dia ingin menghampiri dan memberikan dukungan, tetapi merasa tidak berdaya.
"Katakan kepada tim kejaksaan bahwa saya siap untuk berkooperasi sepenuhnya," kata Rafatar dengan suara rendah. "Beritahu mereka bahwa saya akan segera keluar."
Karyawan itu mengangguk dan segera pergi untuk melaporkan kabar tersebut kepada tim kejaksaan.
Rafatar menghela napas dalam-dalam. Dia merasakan tekanan yang begitu berat di pundaknya. Dia tahu bahwa tantangan yang dihadapinya begitu besar, dan jalan yang harus ditempuh akan sulit dan panjang.
Ala, yang masih menunggu di luar ruangan, mencoba untuk mengontrol kecemasannya. Dia menggenggam tangannya erat dan berdoa dalam hati, memohon agar suaminya kuat menghadapi semua ini.
Ketika suaminya keluar dari ruangan, Ala langsung memeluknya. "Uda, kamu pasti bisa melewati ini semua. Aku akan selalu ada untuk Uda." Ala mendekap hangat memberikan dorongan pada pria yang ia cintai ini.
Namun, Rafatar yang tengah dilanda panik, hanya mengangguk dan melepas pelukan istri tanpa berkata apa-apa. Ia segera menuju keluar gedung, di mana tim kejaksaan tengah menunggunya, sebagai orang yang paling bertanggung jawab di atas semua masalah ini.
Rafatar berjalan dengan langkah berat menuju tim kejaksaan yang menunggunya di luar gedung perusahaan. Dia merasa detak jantungnya semakin cepat, dan pikirannya dipenuhi oleh kecemasan dan ketidakpastian.
Tim kejaksaan yang sudah berkumpul menatap Rafatar dengan serius. Mereka membawa berkas-berkas dan bukti yang menjadi dasar penyelidikan mereka.
"Selamat siang, Bapak Rafatar," sapa seorang anggota tim kejaksaan dengan suara tenang. "Kami dari Kejaksaan Negeri telah menerima laporan dari beberapa peserta umrah yang merasa dirugikan oleh perusahaan Anda. Kami akan melakukan penyelidikan untuk mengungkap kebenaran dalam kasus ini."
__ADS_1
Rafatar menelan ludah. Dia mencoba mengendalikan diri dan tetap tenang di hadapan tim kejaksaan. "Saya siap untuk berkooperasi penuh dalam penyelidikan ini. Saya berharap dapat membantu mengklarifikasi segala ketidaksesuaian yang mungkin ada."
Tim kejaksaan mengangguk mengapresiasi sikap kerjasama Rafatar. Mereka mulai mengajukan pertanyaan dan menggali informasi terkait kegiatan perusahaan serta pengelolaan dana peserta umrah.
Sementara itu, Ala yang masih berada di dalam gedung perusahaan, duduk di depan televisi. Ia memperhatikan dengan penuh kekhawatiran berita yang sedang disiarkan tentang kekacauan yang melanda perusahaan suaminya. Wajahnya penuh dengan ekspresi campuran antara kekhawatiran, kesedihan, dan kekuatan untuk tetap mendukung Rafatar.
Ia menggenggam erat telepon genggamnya, siap untuk memberikan dukungan sebanyak yang dia bisa kepada suaminya.
[ Uda, semangat ya. Kamu pasti bisa menghadapinya. ]
[ Aku akan tetap berada di sisimu, Sayang. Kita akan melalui tantangan ini bersama. ]
Sementara Rafatar menjalani penyelidikan di kejaksaan, ia berusaha memberikan jawaban yang jujur dan transparan. Meskipun ada ketidakpastian dan tekanan yang melingkupinya, dia berharap bahwa kebenaran akan terungkap dan masalah ini bisa diselesaikan dengan adil.
Ala, di sisi lain, memanjatkan doa-doa dalam hatinya. Dia berharap agar kekuatan dan keberanian suaminya tidak pudar, dan bahwa mereka akan bisa melewati ujian ini bersama-sama, dengan integritas dan kekuatan cinta yang tak tergoyahkan.
Sementara itu, setelah menjalani pemeriksaan intensif oleh pihak kejaksaan, Rafatar diputuskan untuk ditahan sementara waktu untuk memastikan keberlangsungan penyelidikan yang sedang berlangsung. Ini menjadi pukulan berat bagi Rafatar.
[ Sayang, aku harus ikut mereka. Kamu pulang duluan saja ya? Kamu jangan khawatir dan jangan stress. Aku tidak bersalah, dan doakan aku agar semuanya terkuak. Kamu dan anak kita baik-baik ya. Aku mencintaimu. ]
Ala membaca pesan tersebut, air matanya mengalir begitu saja.
[ Uda, kapan pulang? Aku juga cinta pada Uda. Kami akan menunggumu di rumah. ]
Namun, kali ini pesan tersebut hanya bertanda ceklis satu bewarna abu-abu.
Tubuh Ala bergetar. Ala menangis sendirian di kantor suaminya ini. Di belakangnya para karyawan tak ada yang berani mendekat.
*
__ADS_1
*
*
Satu malam pascapenangkapan Rafatar, Ala mengusap lembut perut yang berisi janin mereka.
"Sayang, Umma sangat merindukan papamu. Bagaimana jika esok kita menengok papamu ke sana? Semoga kita bisa bertemu dan memastikan kondisi papamu dalam keadaan baik-baik saja."
Di sisi lain, Rafatar meringkuk di balik tahanan yang ada di dalam gedung kejaksaan. "Ya Allah, aku yakin, aku bisa menghadapi ini semua. Engkau telah berjanji tak akan menguji hamba-Mu melebihi kemampuannya bukan?"
"Ya Allah, jagalah istri dan bayi yang ada di dalam kandungannya. Aku sangat merindukannya." Rafatar tidak bisa lagi menghubungi siapa pun, karena ponselnya juga turut disita.
Rafatar membenamkan wajahnya pada rangkulannya sendiri.
Ala ingin sekali menghibur suaminya. Semua pesan dan panggilan kepada Rafatar, tak satu pun yang masuk. Ala memutuskan untuk mencoba menemui Rafatar yang ditahan di lembaga penyidikan. Ia merasa bahwa kehadirannya mungkin dapat memberikan dukungan emosional bagi suaminya, sekaligus memberikan kekuatan dan semangat untuk menghadapi masa-masa sulit ini.
Dengan hati yang berdebar, Ala pergi ke lembaga kejaksaan tempat Rafatar ditahan. Ia berharap bisa meyakinkan pihak berwenang untuk memperbolehkannya bertemu dengan suaminya, meskipun ia sadar bahwa aturan dan prosedur mungkin tidak memungkinkan itu terjadi.
Setelah melewati proses keamanan dan pertanyaan dari petugas di lembaga tersebut, Ala akhirnya ditempatkan di ruang tunggu. Ia merasa tegang dan cemas, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia memegang perutnya yang sedikit bergejolak, merasa ikatan keluarganya terasa semakin rapuh dalam situasi ini.
Beberapa saat kemudian, seorang petugas datang menghampiri Ala. Ia memberi tahu bahwa ia tidak diizinkan bertemu langsung dengan Rafatar.
"Kenapa tidak boleh, Pak? Saya mohon, izin kan saya menemui suami saya," ucap Ala dengan wajah memelas.
"Maaf, Bu. Ini sudah peraturan. Tidak ada yang bisa menemui tahanan pihak kejaksaan," ucap petugas tersebut dengan tegas.
Rasa sedih dan kecewa melintas di wajah Ala. Ia berusaha tegar, tetapi, tetesan air mata tak terelakkan mengalir di pipinya.
"Mohon, beri tahu suami saya bahwa istrinya ada di sini. Bisakah Bapak membantu saya untuk menyampaikan sepucuk surat ini? Tolong katakan bahwa saya akan selalu mempercayainya dan mendukungnya walaupun dunia telah berpaling padanya," pinta Ala dengan suara terguncang.
__ADS_1
Petugas itu mengangguk dengan penuh pengertian. Ia berjanji akan menyampaikan pesan Ala kepada Rafatar. Meskipun tidak bisa bertemu secara langsung, setidaknya ada cara untuk mengirimkan pesan cinta dan dukungan kepada suaminya.
Ala keluar gedung kejaksaan dengan hati yang berat. Sejenak ia menatap gedung itu dengan wajah sedihnya. Ia merasakan kekosongan yang semakin dalam.