
*Sawer yuk kak, sawer, biar authornya semangat update*
Salma dengan tergesa-gesa berjalan terpincang-pincang, mencari seorang dokter atau perawat untuk memberitahu mereka bahwa suaminya telah terbangun.
Akhirnya, Salma menemukan seorang dokter yang sedang melintas di koridor. Dia dengan cepat mendekatinya dan berkata, "Dokter, suami saya sudah terbangun!"
Dokter itu melihat kegelisahan di wajah Salma dan mengikuti dia ke ruangan tempat suaminya dirawat. Ketika mereka masuk, Syauqi masih terbaring di tempat tidur rumah sakit, tetapi mulutnya terus mengeluarkan suara.
"Hmm, Humaira... Humaira... Maaf, Humaira...." gumamnya dengan susah payah.
Salma yang mendengar racauan Syauqi, perlahan berjalan mendekati brangkar di mana Syauqi terbaring. "Bang, aku di sini! Kenapa kamu malah memanggil nama yang tak pernah menengok keadaanmu lagi? Bang, yang ada di sisimu itu, aku, bukan dia," rintih Salma merasa sakit hati mendapati kenyataan ini.
"Siapa Humaira?" tanya dokter itu.
"Dia, hmmm dia ...." Salma diam sejenak. Lalu keningnya mengerut. "Kenapa Anda juga menanyakan dia? Di sini sudah ada saya. Jadi, saya rasa dia tak diperlukan lagi," ucap Salma.
"Bukan begitu, Bu. Suami Ibu terus memanggil nama Humaira. Jadi saat saya memeriksa suami, Ibu, tolong panggilkan orang yang bernama Humaira itu ke sini. Sepertinya, dia memiliki urusan dengan seseorang bernama Humaira itu," terang dokter. Tak lama kemudian, beberapa perawat muncul dengan membawa alat-alat medis untuk mengecek kondisi pria yang terus meracau tanpa henti.
Salma memilih diam di sudut ruangan tak mengindahkan permintaan dokter tadi, menunggu hasil pemeriksaan. Dokter terlihat menyapa dan memanggil pasiennya, tetapi mata sang pasien terlihat belum juga terbuka.
Dengan menggunakan beberapa alat, ia mencoba melakukan tes pada indera penglihatan, pendengaran sang pasien. Setelah itu ia mencoba memberi stimulasi pada alat gerak Syauqi seperti tangan dan kaki. Beberapa saat usai, kepala dokter menggeleng dengan seribu makna.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?"
Dokter masih menggelengkan kepala. "Ibu sendiri bagaimana kakinya?" tanya Dokter kembali.
"Ya, masih sakit, Dok. Tapi, setidaknya saya masih bisa berjalan walau pun harus tertatih. Suami saya bagaimana, Dok? Dia baik-baik saja kan?"
Dokter menghela napas panjang. "Hmm, kita bicara di ruang kerja saya saja." Dokter pun keluar, diikuti oleh perawat-perawat tadi.
Salma melirik Syauqi dengan wajah nanar. Hatinya terasa perih kala mendengar nama Humaira tiada henti disebut semenjak ia mulai keluar dari kondisi koma-nya.
__ADS_1
"Bang, kenapa hanya nama dia yang kamu panggil? Bukan kah aku sudah cukup bagimu? Dia sudah tidak kau butuhkan lagi, bukan?"
Salma kembali terseok, kali ini ia menuju ruang kerja sang Dokter untuk mengetahui apa yang terjadi dengan suaminya.
Salma masuk ke ruang kerja dokter dengan hati yang penuh kegelisahan. Dia duduk di depan meja dokter, menunggu dokter itu memberikan penjelasan.
Dokter mengambil kursi di seberangnya dan memandang Salma dengan penuh empati. "Bu, saya punya kabar yang harus saya sampaikan padamu," kata dokter dengan lembut.
Salma menatap dokter dengan perasaan cemas. "Apa yang terjadi dengan suamiku, Dok? Apakah dia baik-baik saja?"
Dokter menghela napas dan mulai menjelaskan, "Setelah melakukan berbagai pemeriksaan, kami menemukan bahwa kondisi fisik suamimu, Pak Syauqi, cukup buruk. Selain menunjukan tanda-tanda gangguan pada bagian kepala, sepertinya ia mengalami kebingungan yang cukup mengkhawatirkan. Dia terus memanggil nama Humaira dan terlihat tidak menyadari keberadaanmu."
"Kondisinya cukup buruk, tetapi Allah ternyata memberikan dia kesempatan untuk bisa bangung kembali, rasanya itu sungguh rahmat dari Allah yang teramat besar. Tak sedikit yang meniggal dunia setelah mengalami kecelakaan dahsyat ini." Dokter mulai menjeda informasi yang akan diberikannya.
"Lalu, sampai kapan dia hanya sekedar ngelindur seperti itu, Dok? Apakah boleh saya membangunkannya?" tanya Salma.
"Ibu boleh mencoba membangunkan suami Ibu. Tapi, bisa saja orang yang bernama Humaira hadir, akan mempercepat prosesnya." Dokter kembali terdiam saat raut wajah Salma berubah kala nama Humaira disebut.
Dari sisi lain, tangan Ala telah memegang sebuah amplop yang berisi pendaftaran perceraian. Ia menyusuri lorong rumah sakit, mencari orang-orang yang mungkin menemani pria yang digugatnya untuk bercerai.
Namun, kepalanya cukup liar mencari siapa pun orang yang biasa di sisi Syauqi. Akan tetapi, tak satu pun wajah itu ia temui, baik Ayah, Ibu, maupun Salma.
"Ck!" Ia memandangi benda yang ada di tangannya. Sebuah map yang berisi surat keterangan pendaftara perceraiannya dengan Syauqi.
Sejenak ia merenung, dalam kepalanya masih dipenuhi ingatan wajah sang suami kala memberikan sentuhan dan belaian hangat. Ia menggeleng pelan. Kali ini, ia memilih untuk mencari tahu tentang kondisi pria itu, yang berada di ruang ICU.
Perlahan, Ala mengintip pada bagian kaca pintun ruangan sang suami berada. Dari luar sana, ia melihat tubuh dipenuhi perban terbujur kaku, membuat perasaan yang baru saja ditatanya, kembali menjadi kacau.
"Astaghfirullah." Ia memegang dada, dan tubuhnya bergetar hebat, matanya berkaca-kaca bersiap menumpahkannya.
Ala memutar tubuhnya kembali menenangkan jantungnya yang bergetar dengan sangat kuat. "Tidak boleh! Tidak boleh begini!" Ala berjalan hendak meninggalkan ruangan itu, tetapi tubuhnya seakan bergerak dengan sendirinya memutar kenop ruang ICU tersebut.
__ADS_1
"Humaira ... Hmmmfff ... Humaira ... Maff ... Humaira ...."
Ala tertegun mendengar suara parau yang terus memanggil-manggil namanya. Hati Ala tak terkendali dan tak mau mematuhi arahan logikanya yang terus mengatakan,
'Pergi! Pergi sekarang juga! Dia tidak pernah mencintaimu! Apa yang kamu cari saat melihat kondisinya yang seperti ini?'
Akan tetapi, tubuhnya terus bergerak melawan perintah dari otaknya. Ia memandangi laki-laki yang terus saja memanggil namanya meskipun dalam keadaan tak sadar. Ia membisu, tetapi air matanya mulai terjatuh satu per satu.
"Humaira ... Humaira ...."
Ala menutup mulutnya agar suara tangisannya tidak keluar. Map yang terjepit di ketiak, ditarik. Akan tetapi, tangannya bergetar tak kuasa menahan rasa yang kembali meletup di dalam dada.
Map yang berisi informasi pendaftaran perceraian itu, diletakkan di atas tubuh yang ringkih terbalut perban. Ia menahan getaran hebat menguatkan hati menaruh map tersebut.
Setelah itu ia segera mundur, tetapi pergelangan tangannya tertahan. Ala tersentak hebat menutup mulutnya kembali berusaha melepaskan genggaman itu.
"Hu-Humaira," bisik sang pemilik tangan.
Ala semakin masih mencoba melepaskan diri, dan berhasil. Ala segera melangkah pergi.
"Hu-Humaira ... Humaira ...." Rintihan dalam suara parau semakin menjadi memanggil nama itu.
Namun, Ala telah menutup pintu berjalan menjauh mengusap air matanya meninggalkan lokasi. "Ya Allah, apa yang terjadi pada hatiku ...."
Dari arah berlawanan, Salma datang memutar knop pintu ruang tempat Syauqi dirawat. Matanya terbelalak melihat tangan yang mengambang ke arah pintu.
"Humaira ... ja-jangan pergi ...."
"Bang? Bang? Abang sudah bangun?" Salma menyambut tangan yang terus menggapai itu. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Ia melihat sebuah map berada di atas perut Syauqi. "Siapa yang menaruhnya di sini?"
"Humaira, Humaira ...." Tangan Syauqi kembali menggapai ke arah pintu.
__ADS_1