
Rafatar melihat ekspresi wajah Ala yang penuh kebahagiaan, namun ia tidak mampu menyamakan perasaannya. Dia merasa bingung dan terombang-ambing antara kegembiraan akan kabar kehamilan Ala dan kecemasan serta beban yang baru saja melanda perusahaannya.
"Sungguh, Sayang, aku senang mendengarnya," ucap Rafatar mencoba untuk tersenyum. Namun, raut wajahnya masih terlihat terbebani.
Ala merasakan ada ketegangan dalam sikap suaminya. "Kalau begitu, apa yang terjadi? Aku berharap kita bisa berbagi kebahagiaan bersama-sama, tentu juga harus bisa berbagi duka bersama juga," kata Ala dengan kekhawatiran.
Rafatar terlihat sedikit kikuk. "Tidak apa-apa, Sayang. Kamu tidak perlu memikirkannya. Semua baik-baik saja," ucap Rafatar menyembunyikan masalahnya, berusaha tersenyum. Akan tetapi, senyuman itu sungguh terlihat mengandung beban yang berat.
Ala mendengarkan dengan hati yang teriris. Dia merasa sedih karena Rafatar tidak bisa sepenuhnya bersukacita atas berita kehamilannya. Padahal, semua baik-baik saja.
"Baik lah," ucap Ala bernada kecewa.
Rafatar kembali memeluk Ala, tetapi kali ini tatapannya mengambang dengan pikiran yang mulai teralih pada Galih, orang yang membawa uang calon peserta umrah.
Rafatar memeluk Ala dengan hati yang berat. Meskipun mencoba menyembunyikan kecemasan dan beban yang ada, dia tidak bisa menyalahkan dirinya sendiri karena pikirannya teralih pada masalah bisnis yang sedang dihadapinya.
Sementara itu, Ala merasa ada jarak emosional di antara mereka. Ada sesuatu yang tidak dikatakannya, dan kehadiran Galih dalam pikiran Rafatar semakin membuatnya curiga.
"Uda, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ala kali ini nada suaranya sedikit lebih tinggi dibanding tadi.
Rafatar menggelengkan kepala. Ia tersenyum kecut menyimpan masalah yang kini menjadi beban hati dan pikirannya.
"Sayang, kamu sudah makan?" tanyanya mengalihkan pikiran.
"Astaghfirullah." Tiba-tiba Ala tersentak teringat belanjaannya tadi yang masih ada di dalam mobil.
"Kenapa, Sayang?"
"Ikan, ayam, dan daging sapi bisa membusuk kelamaan berada di bagasi mobil. Astaghfirullah," ucapnya mencoba bangkit.
"Astaghfirullah, aku kira apa," ucap Rafatar membantu Ala untuk duduk.
Rafatar berjongkok menyentuh perut Ala, lalu mengecupnya. "Sayang, kamu sehat-sehat ya di dalam sana. Jangan rewel ya?"
Ala menatap suaminya yang terasa tak bersemangat seperti biasanya. "Uda, ada apa?" tanya Ala kembali.
Drrrtt
Ponsel Ala yang terletak di atas nakas bergetar. Rafatar membantu mengambilkan benda itu dan membaca siapa yang tengah menghubungi istrinya.
"Ummi," ucapnya menyerahkan ponsel ke Ala.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Mi." Ala melirik suaminya dan tersenyum.
"Nggak, Ala nggak apa kok, Mi. Ini, Ala udah sama Uda sekarang kok." Ala menggenggam tangan suaminya menatap Rafatar dengan penuh cinta.
"Iya, Ummi jangan khawatir. Tadi Ala lupa naruh hape di mana aja kok."
"Walaikum salam, warrahmatullah." Telepon pun berakhir.
"Waaah, Uda pasti panik ya saat aku tidak bisa dihubungi? Jadi nanya ke Ummi tadi?" tanya Ala.
"Iya, tentu saja aku khawatir. Suami mana yang tidak akan khawatir saat istrinya tiba-tiba tidak ada kabar," ucap Rafatar kembali menarik Ala ke dalam pelukannya.
'Aku tidak tahu bagaimana setelah ini. Semoga semuanya baik-baik saja,' batin Rafatar dalam pikiran kacau.
*
*
*
Rafatar duduk di ruang kerjanya, memandangi layar komputer dengan tatapan kosong. Masalah yang melibatkan penggelapan dana oleh Galih terus menghantui pikirannya. Dana yang seharusnya digunakan untuk peserta umrah kini telah lenyap entah ke mana.
Rafatar memanggil para eksekutif kunci dan staf terpercaya ke ruang rapat. Suasana ruangan terasa tegang, dan wajah mereka mencerminkan kekhawatiran dan ketidakpastian.
"Dalam beberapa hari terakhir, kita semua mendapat kabar bahwa Galih, salah satu anggota tim kita, telah menggelapkan dana calon peserta umrah," ucap Rafatar dengan suara bergetar.
Reaksi yang muncul bervariasi, dari kejutan hingga kekecewaan. Semua orang berusaha memahami situasi yang sedang dihadapi perusahaan.
"Kami harus bertindak cepat dan tegas dalam menyelesaikan masalah ini. Kami akan melaporkan kasus ini kepada pihak berwenang dan bekerja sama dengan mereka dalam penyelidikan," sambung Rafatar dengan tegas.
Tim yang hadir mengangguk setuju, mereka menyadari bahwa tanggung jawab mereka sebagai anggota perusahaan adalah untuk memastikan keberlanjutan dan integritas perusahaan.
Rafatar memberikan arahan kepada masing-masing tim untuk mengumpulkan bukti dan informasi terkait kegiatan Galih. Dia juga menginstruksikan mereka untuk mengamankan aset perusahaan dan memperkuat sistem keuangan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Namun, calon Peserta Umrah yang beluk juga diberangkatkan mulai berdemo meminta ganti rugi dan mengadukan perusahaan mereka ke pihak yang terkait, kali ini ke kejaksaan, negeri. Mereka meminta agar segera diberangkatkan, jika belum diberangkatkan, maka perusahaan itu dituntut untuk mengganti rugi kepada pihak perusahaan yang dipimpin Rafatar ini.
*
*
Ala duduk di depan televisi di ruang kerjanya, mata terbelalak dan wajahnya penuh dengan kebingungan dan kekhawatiran. Berita tentang kekacauan pada perusahaan milik Rafatar tiba-tiba muncul di layar, dan dia baru saja mengetahui masalah yang sedang dialami oleh suaminya.
__ADS_1
"U-Uda? Apa yang terjadi?"
Dalam liputan berita tersebut, terlihat gambar perusahaan Rafatar yang disorot dengan latar belakang wartawan yang sedang melaporkan tentang dugaan penggelapan dana Umrah dan tuntutan ganti rugi dari peserta umrah. Berbagai pernyataan dan komentar dari pihak kejaksaan, peserta umrah, dan pengamat bisnis ikut disampaikan dalam berita tersebut.
Ala merasakan detak jantungnya semakin cepat dan dadanya terasa sesak. Dia tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat dan dengar. Perasaan campur aduk membanjiri pikirannya, antara kebingungan, kecewa, dan kekhawatiran yang mendalam.
Tangis tertahan terjebak di tenggorokannya saat dia berusaha mencerna semua informasi yang baru saja dia terima. Dalam keadaan bingung, dia mengambil telepon genggamnya dan mencoba menghubungi Rafatar. Namun, panggilan tersebut tidak diangkat.
Ala merasa seperti sedang terjatuh ke dalam jurang yang gelap dan tidak tahu harus berbuat apa. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan dan kekhawatiran tentang masa depan keluarga mereka, dan dampak yang akan ditanggung oleh suaminya.
Dalam keadaan kacau seperti ini, Ala yang tengah berbadan dua bergerak menuju kantor suaminya. Ia masuk lewat pintu belakang dan segera mencari sang suami yang sedang menangkupkan kedua tangan pada wajahnya.
"Assalamualaikum, Uda?"
Rafatar tersentak mendapati kehadiran istrinya yang tiba-tiba. "Sa-sayang? Kenapa kamu berada di sini?"
"Uda, kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa kepadaku? Apakah artiku bagimu hingga kamu tak menceritakan hal sepenting ini?"
"Aaa, maafkan aku, Sayang. Aku hanya tidak mau bila kamu turut memikirkan masalah ini. Apalagi, kamu sedang hamil muda. Aku tidak mau menambah beban pikiranmu. Aku pasti bisa menyelesaikannya."
Tok
Tok
Tok
Pintu ruang kerja Rafatar diketuk dengan ritme yang sangat cepat oleh seseorang di luar sana.
"Boss, Boss ...." Seorang karyawan tampak tergesa membuka pintu ruang kerja milik Rafatar. Saat melihat ada Nyonya Besar berada dalam ruangan tersebut, ia melirik Rafatar dengan tatapan gugup dan cemas.
"Sayang, aku ingin bicara dengannya sejenak. Apa kamu bersedia menungguku di luar, sejenak?" pinta Rafatar dengan tatapan memohon.
Ala menghela napas panjang dan menganggukan kepala. "Baik lah." Ia pun bergerak keluar, tetapi sengaja tidak menutup rapat pintu ruangan tersebut.
"Boss, gawat, Boss," ucap sang karyawan.
"Ada apa?" tanya Rafatar dengan suara datar.
"Pihak kejaksaan menuju ke sini, Boss!"
Ala ikut tersentak mendengar kabar tersebut.
__ADS_1