
"Tetapi aku masih sangat mencintaimu, dan tentu saja aku berharap ada jalan keluar bagi ini semua."
Rafatar merasakan lega dan haru dalam hatinya mendengar kata-kata itu. Dia memeluk Ala dengan rasa haru yang tak terbendung. "Terima kasih, Sayang. Maafkan kekhilafanku yang seakan tidak bersyukur memilikimu atas kehadiran anak kita. Aku tahu semua ini tidak lah mudah, tetapi kita akan melaluinya bersama-sama."
Mereka saling berpandangan dalam pelukan hangat dengan perasaan yang bercampur aduk. Akan tetapi, Ala masih menanggapi sang suami dengan sikap dinginnya meskipun berada dalam pelukan sang suami. Hatinya masih terluka, tidak mudah baginya dengan begitu saja menerima sikap Rafatar yang tiba-tiba kembali seperti dulu lagi.
*
*
*
Rafatar berhasil membawa Ala pulang ke rumah mereka. Kali ini, mereka telah berdiri di ruang tengah rumah yang terasa sunyi karena mereka berdua sama-sama membisu dalam suasana canggung. Rafatar menatap istrinya dengan penuh cinta. Ia mencoba menyentuh dan menggenggam tangan istrinya yang masih bersikap dingin padanya.
"Sayang, aku mengerti betapa marahnya kamu kepadaku dan betapa sulit menerimaku kembali dengan begitu saja. Tapi aku ingin mendengarmu berbicara, mengungkapkan apa yang mengganjal di dalam hatimu," ucap Rafatar dengan suara yang penuh kelembutan.
Ala masih tetap diam, rasa kesalnya tadi masih belum hilang hanya karena rayuan suaminya.
Rafatar melanjutkan, "Aku tahu aku membuat kesalahan besar karena seakan tidak bersyukur dan menerima takdir yang ada pada bayi kita. Tapi percayalah, sekarang aku sudah ikhlas dan menerima semuanya. Aku sangat mencintaimu, Sayang, dan aku tentu aku harus mencintai bayi kita juga."
Ala masih tak bergeming, tetapi rona pada matanya terlihat mulai lembut. Perlahan, air mata mulai mengalir di pipi Ala. Dia mencoba menahan emosinya yang masih meluap, tetapi akhirnya ia menghela nafas panjang dan menyampaikannya dengan lirih, "Baik lah. Demi bayi kita, demi perjuangan selama ini setelah menjadi istrimu, aku akan memaafkanmu meski kamu telah membuatku merasa sendirian dan takut menjalani ini semua."
Rafatar menggenggam tangan Ala dengan erat dan menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Sayang, aku memahami perasaanmu. Maafkan aku. Hanya itu yang bisa aku katakan."
Ala menggenggam kembali tangan Rafatar dan mengangguk perlahan. Meskipun hatinya masih khawatir dan takut ini akan kembali terulang, ia bisa merasakan kejujuran dan ketulusan dalam setiap ucapan suaminya.
Dengan komitmen yang baru dan keinginan yang kuat untuk memperbaiki hubungan, Rafatar dan Ala memulai pembicaraan yang jujur dari hati ke hati. Mereka berbagi perasaan, kekhawatiran, dan harapan mereka, saling mendengarkan dengan penuh perhatian.
__ADS_1
Dalam pembicaraan mereka, Rafatar dengan tak henti meminta maaf atas ketidaksabarannya sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa dia telah merenungkan segalanya dan memahami pentingnya dukungan dan cinta pasangan dalam menghadapi situasi yang sulit.
Rafatar mengambil tangan Ala dengan lembut dan menatap matanya dengan penuh kasih sayang. "Sayang, aku ingin kau tahu bahwa kamu tidak sendirian dalam menghadapi ini. Aku ada di sampingmu dan kita akan berjuang bersama. Kita adalah tim, dan bersama-sama kita bisa mengatasi segala hal."
Mereka melepas rindu sepanjang malam, saling berbagi dan saling memberi. Peleburan syahdu usai permasalahan ini, terasa semakin bermakna dan penuh arti dalam cahaya remang. Tatapan penuh cinta, di antara dua insan yang saling merindu, akhirnya menyatu dalam cinta yang sebenarnya.
*
*
*
Waktu terus berlalu, mereka tak hentinya bermunajad meminta kepada-Nya yang Sang Penguasa alam semesta. Kali ini Rafatar mencoba membuktikan atas apa yang telah ia janjikan kepada istrinya. Ia memberikan cinta dan perhatian kepada Ala, mengusap perut Ala yang semakin hari ternyata telah mulai turun masuk ke pinggul.
"Ahg, untuk berjalan saja, rasanya susah dan sesak," ringis Ala jalan dengan sedikit ngengkang.
Ala hanya bisa mengulas senyuman. "Papa jangan lama-lama ninggalin Umma ya?"
"Jangan khawatir, Sayang. Nanti siang aku akan pulang membawa makan siang dan kita makan bersama."
Ala mengangguk setuju mencium tangan suaminya dan mengantarkan Rafatar menuju kendaraan karena akan pergi bekerja.
"Aku pergi dulu, Sayang. Kamu jangan capek-capek ya?" Rafatar melambaikan tangan memutar setir dan pergi.
Tak lama kemudian, seorang wanita muncul dengan wajah penuh kesedihan. "Ala ... Ala ... Tolong Ama!" ucap mertuanya itu.
Masih jelas dalam ingatannya ketika ia diusir oleh sang mertua untuk meninggalkan rumah yang mereka tempati ini. Kali ini, rasa empati Ala terhadap sang mertua seakan meluap tak bersisa.
__ADS_1
"Ala, Ama tahu kamu pasti sangat marah dan membenci Ama. Tapi Ama mohon agar kamu memaafkan Ama. Ama sungguh sangat menyesal."
Ala menatap mertuanya dalam keheningan panjang. Ia mencoba membaca sesuatu. Akan tetapi, kali ini ia merasakan ketakutan ibu mertuanya ini.
"Ala, maafkan lah Ama." Venna memohon dengan sangat sedih.
"Baik lah, aku sudah memaafkan Ama," ucap Ala dengan dingin.
Wajah Ama terlihat semakin memohon mendekati Ala menggenggam tangan menantunya. "Ala, apa benar kamu sudah memaafkan Ama?"
"Ya," ucap Ala dengan singkat.
"Kalau begitu, Ama ingin minta tolong padamu."
Ala menatap mertuanya dengan datar. "Jadi ternyata begini? Ama itu tidak dengan sungguh-sungguh datang menemuiku? Ama hanya menginginkan hal lain di balik ini semua?"
"Maafkan Ama, Ala. Ama tidak tahu harus bagaimana lagi. Ama tidak tahu harus minta bantuan kepada siapa lagi. Ama sudah meminta Fatar untuk membantu, tetapi dia tidak menanggapi Ama."
Ala memutar badannya. "Maaf, Ma. Uda Rafatar saja tidak mau membantu Ama, apalagi aku." Ala beranjak masuk ke dalam rumah meninggalkan Venna dalam tangisannya.
Ala merasa ada yang keluar dari bagian bawah tubuhnya dengan deras. "Agh ...." Ia melihat ke arah bawah. Di kakinya mengalir cairan kental bewarna merah, rahimnya terasa sungguh sangat kesakitan.
"Agh ..." ringisnya. Detak jantungnya berpacu dengan sangat cepat, dan pandangannya memburam. Dengan gemetar, tangannya meraih perutnya. Suara terengah-engah keluar dari bibirnya saat dia mencoba menahan kecemasan yang melanda dengan tiba-tiba.
Dari luar rumah, Venna yang masih menangis mendengar suara ringisan menantunya. Ia mencoba untuk mengintip dan ikut terkejut melihat apa yang terjadi dengan Ala.
Wajah Ala terlihat pucat, dan matanya memancarkan ketakutan yang tidak dapat disembunyikan. Pernapasan terengah-engah dan tercekat, dengan setiap helaan napas yang terdengar seperti desakan. Dalam keadaan yang semakin panik, dia berusaha mengumpulkan kekuatannya dan mencoba untuk tenang.
__ADS_1
"Ala? Kamu mau melahirkan," ucap Venna menyambut tubuh Ala yang mulai oleng.