
Syauqi mendekati Ala yang sedang menangis di atas ranjang, merasa bersalah atas perkataannya yang ternyata menyakiti perasaan istrinya. Dia duduk di sampingnya dan membelai lembut punggung Ala.
"Maafkan aku, Humaira. Aku tidak bermaksud membuatmu terluka. Aku tahu betapa kerasnya kamu berusaha untuk menjaga hubungan kita tetap harmonis. Aku sangat menghargai itu. Tapi terkadang, emosi dan kata-kata dapat terlepas begitu saja, tanpa aku sadari dampaknya."
Ala mengangkat kepalanya dari bantal dan melihat wajah Syauqi yang penuh penyesalan. "Uda, kadang-kadang aku merasa terbebani dengan perasaanmu yang selalu mencurigai. Aku mencoba menjadi istri yang baik, setia, dan setiap hari berusaha memperbaiki diri. Namun, entah kenapa, Uda tak pernah menghargai itu?"
Syauqi menyesal dan menggenggam tangan Ala dengan penuh kelembutan. "Humaira, aku sangat menghargai usahamu. Kamu adalah istri yang luar biasa dan aku tidak bisa meminta lebih dari itu. Aku tahu bahwa aku harus bekerja lebih keras untuk memahami dan mempercayaimu sepenuhnya. Aku berjanji untuk belajar menjadi suami yang lebih baik dan tidak lagi menimbulkan keraguan atau membuatmu terluka."
Ala merasa sentuhan dan kata-kata Syauqi tulus. Perlahan, rasa sedih dan kekecewaan mulai mereda. Dia memeluk Syauqi dengan erat dan berkata, "Uda, maafkan Ala. Mungkin bagi Uda, Ala ini kekanakan dan sangat labil. Namun, Ala akan terus berusaha menjadi istri yang baik buat Uda."
"Uda juga harus berusaha untuk Ala. Jangan hanya Ala sendirian yang berusaha dalam mempererat hubungan dalam pernikahan kita ini. Ala lelah, Uda."
Syauqi memasang wajah datarnya di balik pelukan Ala. "Baik lah."
🎵na na na🎵
Nada dering dari ponsel Syauqi bergema dengan volume yang sangat tinggi. Hal ini membuat pasangan ini tersentak. Syauqi buru-buru bangkit hendak keluar dari kamar ini.
Ala menahan tangan suaminya. "Mau ke mana? Bukan kah ini kamar Uda juga?"
"Oh ya, aku harus menjawab panggilan ini dulu," ucap Syauqi menatap nama yang tertera di layar ponselnya.
"Kenapa harus keluar. Jawab aja. Ala tidak akan mengganggu. Ala akan mandi dulu sejenak." Ia melepaskan genggamannya tadi bangkit masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah memastikan istrinya sudah di dalam kamar mandi, Syauqi menjawab panggilan yang bertuliskan nama Salma.
"Assalamualaikum Bang. Malam ini pulang ke rumahku ya Bang?" ucap Salma terdengar manja.
"Walaikumsalam. Salma, maafkan aku. Malam ini aku tidak bisa pulang ke sana," ucap Syauqi dengan suara lembut. "Ada urusan yang mendesak yang harus aku selesaikan sekarang. Besok aku akan ke sana dan bicara lebih lanjut. Aku harap pengertianmu, di sini aku juga memiliki kehidupan sendiri juga."
Salma terdiam sejenak di ujung telepon. Suara kecewa terdengar dari sisi lain. "Uda, tapi tolong jangan lagi mengabaikan janji dan membuatku menunggu. Aku merindukanmu. Tadi malam kamu sudah bersamanya. Harusnya malam ini kamu bersamaku."
Syauqi membisu dan sedikit merasa bersalah. "Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi padamu, Salma. Kamu sudah tahu aku telah menikah. Kamu sendiri memaksaku untuk menikah dan berkata telah ikhlas menjadi yang kedua. Bukan kah itu artinya kamu tahu sendiri bagaimana konsekuensinya."
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Uda. Aku melakukan ini karena aku tidak rela kamu menikahi dia! Harusnya kamu adalah milikku, hanya milikku. Namun, dari pada sama sekali tidak mendapatkanmu, aku rela menjadi yang kedua. Walau sebenarnya aku tidak ingin menjadi orang ketiga yang merusak rumah tangga kalian," ucap Salma dengan nada sedih.
"Salma, jangan khawatir. Aku dan istriku akan menyelesaikan masalah kami. Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua. Terima kasih atas pengertian dan kesabaranmu," kata Syauqi dengan tulus.
Ia tidak tahu bahwa obrolannya itu tengah membuat seseorang di dalam kamar mandi menangis. Ternyata, Ala mendengar jelas apa yang dikatakan suaminya kepada lawan bicara yang tak lain adalah Salma.
"Apa maksudnya? Ada apa dengan dia wanita bernama Salma? Bukan kah dia mengatakan telah mengakhiri hubungan dengan Salma?" Ala terduduk di lantai bersandar pada pintu menangis sendu.
Ala merasa terpukul dan kecewa mendengar obrolan antara Syauqi dan Salma. Keraguan dan rasa sakit kembali melanda hatinya. Segala upayanya untuk membangun kepercayaan kembali tampaknya belum cukup.
"Dia masih berhubungan dengan Salma. Apakah aku tidak cukup baginya? Apakah ada yang salah dengan aku?" pikir Ala dalam keputusasaan.
Namun, seiring dengan tangisan yang memenuhi ruangan, tekad dalam diri Ala juga muncul. Dia tidak ingin terus hidup dalam keraguan dan kesedihan. Ia ingin menyelesaikan masalah ini dan mencari kejelasan.
Setelah mengusap air matanya, Ala bangkit dari lantai kamar mandi membersihkan dirinya. Dalam dada, ingin segera berbicara dengan Syauqi ingin mengetahui kepastian tentang apa yang dia dengar.
Dia berjalan keluar dari kamar mandi dan menuju ke ruang tempat Syauqi berada. Dalam hatinya, ia bertekad untuk menyelesaikan masalah ini dan mencari kebenaran yang sebenarnya.
Ala mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri sejenak sebelum akhirnya berbicara dengan tegas. "Uda, aku mendengar obrolanmu dengan Salma. Aku ingin mendengar kebenaran dari mulutmu sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi antara kalian berdua?"
"Maafkan aku, Humaira. Aku telah menyembunyikan sesuatu darimu. Sebenarnya, aku masih menjalin hubungan persahabatan dengan Salma setelah kita menikah. Namun, ini tidak pernah melampaui batas dan aku tidak pernah berselingkuh darimu. Aku mengerti bahwa ini merupakan pelanggaran terhadap kepercayaanmu, dan aku sangat menyesal."
Ala merasa campur aduk antara kelegaan karena Syauqi tidak berselingkuh, namun juga kecewa karena Syauqi telah menyembunyikan hubungan persahabatan dengan Salma. Dia merasa perlu untuk menegaskan batas yang jelas dalam hubungan mereka.
"Uda, aku menghargai kejujuranmu. Namun, Uda perlu menetapkan batas yang jelas dalam hubungan kalian. Ala tidak nyaman jika Uda masih ada hubungan dekat dengan orang lain di luar pernikahan kita. Ala ingin membangun kepercayaan yang lebih kuat di antara kita dan saling berkomitmen untuk menjadi pasangan yang setia dan mendukung satu sama lain sepenuhnya."
Syauqi mengangguk dengan penuh penyesalan. "Aku benar-benar menyesal telah membuatmu merasa seperti ini. Aku siap akan mengubah perilaku dan fokus sepenuhnya pada hubungan kita. Aku berjanji akan menjadi suami yang setia dan membangun kembali kepercayaan yang hilang."
Ala melihat rasa penyesalan yang tulus dalam mata Syauqi dan merasa ada harapan untuk memperbaiki hubungan mereka. Meskipun terluka, dia memilih untuk memberikan kesempatan kedua dan memulai proses penyembuhan bersama.
"Dalam usaha membangun kembali hubungan kita, kita perlu berkomunikasi terbuka dan jujur. Mari kita bersama-sama mengatasi kesalahan dan tantangan yang ada. Ala cinta sama Uda, dan berharap kita bisa melewati ini bersama."
Syauqi menggenggam tangan Ala dengan lembut dan tersenyum. "Terima kasih, Humaira. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik untuk membuatmu bahagia dan memperbaiki apa yang rusak di antara kita. Kita akan menghadapi ini bersama-sama."
__ADS_1
*
*
*
Pada malam hari, Syauqi dan Ala baru saja kembali dari makan malam berdua di luar. Tangan mereka tengah tergenggam menjadi satu melangkah menuju pintu rumah mereka.
Syauqi tersenyum penuh arti membuka pintu rumah mereka. Setelah ia membuka pintu tersebut, ia mengangkat tubuh itu. Tubuh yang belum pernah ia sentuh. Entah mengapa ia merasa hasratnya begitu besar ingin menakhlukan wanita yang menjadi istri pertamanya ini.
"Humaira, Sayangku ... Apa malam ini bisa menjadi milik kita berdua?" bisiknya pada wanita itu sembari mengunci pintu.
Wajah Ala merona, membara akan rayuan yang dilakukan oleh suaminya. Namun, dalam kepalanya tampak berperang dalam satu pikiran.
"Tapi, Uda ...."
"Tapi kenapa? Apa kamu menolak suamimu yang tengah dahaga ini?"
"Ala baru datang bulan hari ini."
Syauqi terkejut mendengar pengakuan Ala. Wajahnya berubah menjadi serius saat dia menyadari situasi tersebut.
"Duh, maafkan aku, Humaira. Aku lupa menanyakan siklus bulananmu. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa tidak nyaman," ucap Syauqi dengan suara penuh penyesalan.
Ala tersenyum lembut, "Tidak apa-apa, Uda. Aku mengerti bahwa itu adalah kesalahan yang tidak disengaja. Kita harus selalu berkomunikasi dan memahami satu sama lain."
Mereka berpelukan dalam kehangatan dan saling memberikan dukungan. Ini adalah malam pertama bagi mereka di atas satu ranjang. Syauqi menegaskan bahwa mereka akan selalu menghormati dan menjaga kebutuhan dan batasan satu sama lain.
"Malam ini, mari kita fokus pada keintiman emosional kita, Sayang. Ada banyak cara untuk memperkuat hubungan kita tanpa harus melibatkan hubungan fisik," ucap Syauqi dengan penuh kasih sayang.
Ala tersenyum dan mengangguk setuju. Mereka melanjutkan malam mereka dengan berbicara, berbagi perasaan, dan membangun ikatan yang lebih dalam di antara mereka.
Setelah Ala terlelap, ia bangkit perlahan menyalakan ponselnya. Ia mencari kontak Salma dan menarik kunci mobil.
__ADS_1
"Sayang, aku akan ke sana saat ini juga. Aku membutuhkanmu."