Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 62


__ADS_3

Ala telah memasuki tahap kehamilan tua, perutnya semakin membesar dengan bulatan yang menonjol. Setiap gerakan dan tendangan bayi di dalam kandungannya menjadi momen yang penuh keajaiban baginya sebagai orang tua.


"Aggh, tendangannya membuatku selalu teringat kamar mandi," ringis Ala yang duduk di teras rumah bersama suaminya.


Rafatar dengan penuh kelembutan mengelus perut Ala. "Waah, anak Papa ternyata sangat kuat, bisa membuat Umma terkaget seperti ini," kekehnya.


"Aah, Uda ... Malah tertawa. Tapi, aku sungguh bersyukur gerakan bayi kita sangat kuat. Aku hampir berpikir aneh-aneh, mengira semua akan tenang saja."


Rafatar mengecup pipi istrinya. "Sayang, aku tak tahu apakah harus bersyukur atau bagaimana karena akan memilikinya. Karena sudah dipastikan akan ada rintangan lain yang hadir saat dia muncul di dunia ini."


Ala terlihat sedih menatap suaminya. "Setidaknya Allah telah memercayai kita memberi kesempatan menjadi orang tua, Uda. Karena masih banyak yang belum beruntung meski perjalanan ini tidak lah mudah."


Rafatar kembali memasang wajah datarnya saat pamit meninggalkan Ala yang memilih mengambil cuti dalam penantian hari kelahiran yang semakin dekat. Suasana sepi di rumah sendirian, membuat pikirannya kembali melayang pada masa di mana ia mendapat kabar yang kurang menyenangkan dari dokter dulu.


Ternyata, Ummi datang berkunjung tanpa memberi kabar. Dari jauh, ia melihat Ala tampak lesu membelai perut tak menyadari kehadirannya. "Ala, apa yang terjadi? Kenapa kamu terlihat sedih? Apa Ummi boleh mengetahui alasannya?" ucap Ummi.


Ala tertatih bangkit menyambut sang ibu. "Assalamualaikum Ummi, bagaimana keadaan Alya? Ummi pasti sangat sibuk membantu Alya mengurus bayinya." Ala mencium tangan sang ibu.

__ADS_1


"Walaikumsalam, ya tidak juga. Alhamdulillah anak Alya tidak terlalu rewel, jadi Ummi tidak terlalu pusing mengurusnya. Lagian, ia memutuskan untuk menggunakan jasa baby sitter juga. Ummi benar-benar tidak sibuk kok."


Ala menganggukan kepala. "Sepertinya aku juga harus begitu. Aku rasa aku tak cukup kuat nanti mengurus semuanya sendiri." Mata Ala berkaca-kaca membayangkan masa depannya.


"Ada apa?" Ummi menaruh tangan pada pundak sang putri.


Ala mengusap air mata yang hampir jatuh. "Ummi mau minum apa? Biar Ala buatkan."


"Tidak usah. Nanti Ummi bisa mengambilnya sendiri." Ummi mengajak Ala duduk pada kursi rotan yang ada di teras ini. "Nah, sekarang jangan mengalihkan pembicaraan lagi. Katakan kepada Ummi, sebenarnya apa yang membuatmu terlihat sedih seperti ini?"


Ala menghela napas panjang. "Ummi, ada sesuatu yang ingin aku ceritakan kepada Ummi. Sepertinya, bayi dalam kandunganku ini tidak baik-baik saja."


"Dokter mengatakan bahwa bayi kami nantinya menghadapi masalah kesehatan serius. Ada kelainan pada organ-organ tubuhnya dan pertumbuhannya terhambat dan kemungkinan ia akan terlahir c4c4t," ucap Ala dengan suara bergetar.


Ummi dengan jelas memperlihatkan raut keterkejutannya. "Astaghfirullah, ini benar-benar tak terduga. Kita harus mencari bantuan dan saran medis yang lebih lanjut. Tetapi, mengapa Rafatar tidak mengatakan apa-apa?"


Ala tanpa sadar menangis mendengar pertanyaan sang ibu. Ia pun merasa ada perubahan yang cukup signifikan dari suaminya semenjak beberapa waktu terakhir. "Sepertinya, Uda sedang berusaha menjaga hatinya agar tetap kuat menerima keadaan ini, Ummi. Tapi, jelas sekali aku melihat dia begitu terpukul karena doganosis dokter ini."

__ADS_1


Tanpa ia sadari Ama, mertuanya, sedang berjalan mendekati mereka. Tanpa sengaja, ia mendengar percakapan menantu dan besannya itu. Dia merasa terkejut dan marah karena baru mengetahui berita besar yang terus ditutupi anak dan menantunya..


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Mengapa tidak mengatakan apa-apa kepadaku?" teriaknya membuat Ala dan Ummi terperenjat tak menyangka akan kehadiran tersebut.


"Bu Venna, mari kita duduk dan bicarakan secara tenang. Ada masalah serius dengan cucu kita, dan saya rasa ada baiknya bersama-sama mencari solusi terbaik."


"Tapi ini adalah masalah keluarga kami juga! Tentu saja saya harus dilibatkan dalam setiap hal menyangkut berita atau keputusan apa pun. Ini sungguh keterlaluan! Kenapa kalian malah menyembunyikan ini dariku?"


"Maaf, Ma." ucap Ala gemetar.


Ummi mengusap pundak besannya itu. "Bu Venna, ini sungguh berita mengejutkan bagi siapa pun, apalagi bagi kedua anak kita. Mereka masih mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Jadi, kita cukup meluangkan waktu yang tepat saja bagi mereka."


Venna terlihat sangat marah."Ini adalah keputusan kalian berdua! Kalian sengaja menyembunyikan fakta ini dariku, membuatku merasa diabaikan sebagai seorang ibu. Kalian sudah menyembunyikan fakta bahwa anak yang akan lahir ini memiliki risiko terlahir c4cat!"


Ala terisak merasakan h4ntaman luar biasa pada jantungnya. "Ama, itu hanya lah sekedar diagnosa. Kami masih berharap itu meleset dan salah."


Venna terlihat semakin naik pitam. "Kalian pikir bisa menipu saya? Mana ada diagnosa dokter itu meleset." Venna merogoh tas yang tergantunh di lengannya. Setelah menemukan benda yang ia cari, dengan muka masam ia berbicara dengan orang yang ada di seberang panggilan.

__ADS_1


"Rafatar, sekarang kamu harus memutuskan untuk membatalkan kelahiran anakmu itu! Ama tidak mau memiliki cucu c4cat!"


__ADS_2