Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
83. S2-6


__ADS_3

Syauqi tertegun mendengar pertanyaan putranya itu, perlahan menghentikan laju kendaraannya kembali. Ia menatap Baim dengan seksama.


"Muhammad Ibrahim, kenapa kamu bisa berbicara seperti itu? Jika seandainya dari dalam rahim dia lah kamu pernah bersemayam selama sembilan bulan, lalu kamu mau apa?" tanya Syauqi sedikit tegas.


Baim memainkan telunjuknya di rahang kecilnya. "Hmmm, Baim mau batal minta dilahirkan ke dunia ini, Bi. Pokoknya gak mau punya Ummi seperti orang itu. Tadi, adik bayi itu aja dibiarin nangis sama dia. Sedih banget Baim lihatnya," ucap pria kecil itu.


"Dedeknya sampai ngejar-ngejar dia, tapi orang tadi malah nggak langsung gendong. Ih, jahat kali dia, Bi. Allah kan gak suka sama orang jahat. Pasti dia calon penghuni neraka," ucap Baim dengan polosnya.


"Astaghfirullah, kamu tidak boleh seperti itu!" ucap Syauqi menasehati putranya itu.


Dia mulai merasa bingung dengan yang terjadi. Bagaimana pun juga, Baim memang lahir dari rahim Salma. Namun, putranya ini benar-benar tak menerima kehadiran Salma. Dia tak ingin Baim terluka, jika ia mengetahui kenyataannya bahwa Salma memang wanita yang melahirkannya.


"Baim kangen tante Ala, Bi. Baim ingin lihat Dek Akram, boleh nggak ya?"


Mendengar permintaan sang putra, Syauqi langsung tersenyum. "Hmmm, kangen Tante Ala, ya?" Syauqi mengusap dagunya.

__ADS_1


"Hmmm, mungkin lain kali jika ada pertemuan tak terduga, kita bisa berjumpa dengannya," tambah Syauqi.


"Waah, Baim kan mau nya ketemu sekarang. Bukan nanti-nanti, Bi," rengek putranya.


"Jangan, Abi tak bisa menemuinya dengan leluasa. Dia itu memiliki keluarga, Abi tak mau dia mendapat masalah dalam keluarganya karena kita."


'Meski sebenarnya dalam hati Abi, masih ingin berjumpa dengannya juga, tetapi bagaimana lagi. Kebodohan Abi sungguh tak bisa dimaafkan. Dan, semua sudah terlambat. Dia memiliki orang yang benar-benar tulus mencintainya,' sambung Syauqi di dalam hatinya.


Baim menatap sang ayah yang tiba-tiba terlihat sedih setiap menyebut nama Ala. Ia masih mengingat di saat sang ayah menangis tersedu di pojok rumah setelah Ala menolak lamaran yang ia saksikan sendiri di depan matanya.


"Huufft, dulu Abi memang jelek siih, udah gitu gak bisa lihat lagi, makanya Abi ditolak Tante Ala. Tapi, kalau sekarang, Abi sudah tampan sekali. Tante Ala pasti akan terima Abi," ucap Baim penuh harap.


Jelas sekali ia melihat kejadian di mana Rafatar diam-diam mengikuti Ala, yang kala itu masih menjadi istrinya. Dengan sigap, ia menolong Ala yang hampir terjatuh, tepat di depan matanya sendiri. Dari tatapan Rafatar itu lah, ia tahu, laki-laki yang lebih muda darinya itu, memang menaruh hati kepada Ala, meskipun ia tahu, Ala sudah menikah dengan pria lain.


"Seandainya Abi diberi kesempatan menjadi pria itu, Abi mungkin tak akan pernah melepaskan Tante Humaira itu. Karena, dia pantas sekali disebut dengan bidadari surga yang tersesat di bumi ini," racaunya tanpa sadar, di saat asik dalam lamunannya.

__ADS_1


Mulut Baim membulat, tidak mengerti akan hal yang dibicarakan oleh sang ayah. "Bi, jika benar Tante Ala bidadari surga, biar Baim aja yang jadi malaikat pelindungnya. Abi silakan mencari yang lain aja!" celetuknya dengan semangat.


"Husss! Kamu bicara apa sih? Bocah delapan tahun tahu apa sih masalah kehidupan dewasa?" ucap Syauqi kembali menggelengkan kepala, kembali melajukan kendaraannya.


*


*


*


Di sisi lain, pada sebuah perusahaan biro perjalanan haji dan umrah yang dipimpin oleh Rafatar, sedang terjadi perdebatan sengit antara Divisi Keuangan dengan bagian Marketing.


"Marketing terlalu menguras biaya promosi! Kita tahu semenjak masalah di perusahaan kita karena ulah Pak Galih, kita ini masih berjuang dengan dana yang seadanya! Jadi, Pak Soni harus membuat promosi yang hemat, tepat guna! Jangan mubazir kayak gini!" ucap Kepala Divisi Keuangan, Bima.


"Maaf, Pak Bima. Tim marketing sedang berusaha untuk menarik jemaah agar mereka tertarik menggunakan jasa tour and travel kita ini. Jika jemaah banyak yang mendaftar ke perusahaan kita, maka pundi-pundi keuangan perusahaan yang terkuras bisa dikembalikan dengan nominal hingga berkali lipat! Jika kita mengerjakan proyek, ya harus maksimal sekalian! Jangan tanggung-tanggung seperti ini!" ucap Soni membela dirinya.

__ADS_1


Rafatar yang sedari tadi serius mendengar rapat, akhirnya turun bicara. "Pak Bima, bagaimana keadaan keuangan perusahaan saat ini? Karena jujur, saya sangat setuju dengan apa yang diutarakan oleh Pak Soni."


"Bagini Pak Rafatar, sebagai Kepala Divisi Keuangan, saya merasa cukup khawatir dengan dana kita yang semakin minim karena terkuras oleh biaya promosi. Memang benar adanya jika promosi kita berhasil, akan mendatangkan pundi-pundi yang sangat menggiurkan. Namun, jika promo kita hanya mampu menarik sedikit masyarakat yang terlanjur buruk menatap perusahaan kita, maka ... dipastikan perusahaan ini akan bangkrut!"


__ADS_2