
*Maaf Readers Semua, baru bisa update setelah beberapa waktu terakhir. Insya Allah setelah ini kita akan update rutin seperti biasa.*
...****************...
"Bu Venna, saya harap Ibu pulang saja. Jangan bebani putri saya dengan hal-hal aneh yang Ibu berikan."
"Kenapa kamu yang sewot? Ala saja bersedia melakukannya."
Ummi menatap Venna dengan tegas. "Ini adalah masalah keluarga Anda, Jangan lah membawa Ala dengan masalah yang ada antara Anda dengan suami Anda. Kenapa Anda tidak menyelesaikannya sendiri?"
Ala memegang tangan sang ibu menggelengkan kepala. Ala tidak ingin, wanita yang melahirkannya ini ikut terbawa suasana yang memanas karena perselisihan dengan mertuanya yang memang tidak akan pernah ada habisnya.
Venna mengangkat alisnya dengan sombong. "Baiklah, kalau begitu. Tapi jangan salahkan saya jika ada konsekuensi buruk dari perlakuan keluarga kalian ini!"
__ADS_1
Ala mencoba menenangkan suasana. "Ama, Ummi, jangan lah berselisih di kala suasana bahagia seperti ini. Bagaimana kalau kita fokus pada kebahagiaan kelahiran putra sulung kami ini. Kita semua patut bersyukur karena ia telah lahir dengan sehat tanpa kurang satu apa pun. Harusnya, dengan begini, kita semua menjadi semakin bersatu dan harmonis," ucap Ala mencegah perseteruan yang mungkin akan terjadi kembali.
Ummi menghela napas panjang membenarkan apa yang baru saja disampaikan oleh Ala.
Setelah beberapa beberapa waktu, di mana Ala telah diberi izin untuk kembali ke rumah membawa manusia mungil yang selama ini di dalam rahimnya, Ala dab Rafatar mengadakan Aqiqah bersama anak-anak panti asuhan tempat ia selalu berbagi. Sebagai bentuk rasa syukur atas kebesaran Allah, karena telah membuktikan tak ada satu manusia pun yang mampu menentukan kehendak-Nya meskipun teknologi yang tercipta semakin maju.
Saat itu pula, Apa datang ke panti asuhan karena diundang oleh Rafatar. Ama segera mendekati Apa memasang wajah memohon.
"Pa, tolong cabut lagi, Pa. Ama tidak mau pisah dari Apa. Kenapa Apa tega menalak Ama di saat kita telah berusia lanjut?" Venna memberi kode kepada Ala untuk segera menolong perdramaan ini.
"Fatar, kenapa kamu tidak mengatakan bahwa Ama-mu juga akan datang ke sini?" gumam Apa dingin.
"Maaf, Pa. Mungkin dengan begini antara Apa dan Ama bisa saling bicara. Aku dan istriku mau ke sana." Rafatar merangkul Ala yang sedang memeluk Akram, buah hati mereka.
__ADS_1
Rafatar menarik mereka menuju anak-anak panti yang tampak gembira karena acara yang mereka adakan ini. Tak sedikit yang memeluk Ala dengan rasa sayang dan hormat karena bagi mereka Ala adalah dermawan terbaik yang sering mengunjungi mereka.
Rafatar mengambil alih menggendong bayi mereka. Ala duduk di pojok taman panti memandangi anak-anak malang, tetapi tak terlihat sedih sama sekali.
"ALA?"
Kepala Ala refleks menoleh pada sebuah suara yang baru saja meneriakinya. Di sana tanpak wajah ibu mertuanya yang merah padam dengan linangan air mata yang membanjiri pipinya.
"Kamu jangan menyalahkan dia lagi! Cukup! Bagiku Ala adalah wanita terbaik untuk Fatar. Beruntung ia mau menerima Fatar, meskipun ia tahu Fatar memiliki ibu yang jahat sepertimu!" Apa menarik tangan Ama yang telah merah hendak memberikan cecaran yang baru kepada Ala.
"Pa, kenapa malah membela dia terus? Aku lah yang harusnya kamu utamakan, Pa. Aku lah orang selalu ada di sisimu selama ini! Kenapa kamu malah membela dia terus? Ayah dan anak sama saja!" cecar Ama menatap Ala, nanar.
Ala yang terlihat kebingungan, hanya bisa menundukan kepalanya. Ia tidak tahu hal besar apa yang baru saja terjadi pada dua orang paruh baya ini.
__ADS_1
"Ala! Kenapa kau hanya diam saja? Dasar wanita b*doh!!!"