
"Sial! Wanita kurang ajar!" geramnya berjalan menatap amplop yang baru saja diberikan oleh Ala.
"Huhuhu ...."
Suara tangisan bayi perempuan yang berada dalam gendongannya pun mulai terdengar. Semakin lama, suara anaknya terdengar semakin keras.
"Diam!" bentaknya.
Namun, suara tangisan itu bukan menjadi reda, tetapi terdengar semakin kencang hingga terdengar serak dan oktaf tertinggi.
"Diaaam! Aku bilang diaaam!"
Suara tangisan bayi yang ada dalam gendongan Salma, membuat warga yang ada di sekitarnya terus memperhatikan mereka. Tak sedikit warga merasa kasihan pada bocah malang yang dilanda rasa lapar.
"Diam!" Salma yang merasa kesal, hanya bisa menyuruh putrinya itu diam.
"Bu, kayaknya dia lapar. Kenapa tidak diberi ASI? Anak sekecil itu jangan dibentak, kasihan dia belum mengerti apa-apa." Seorang wanita yang menperhatikan gerak geriknya pun akhirnya tak tahan untuk mendekat.
Salma menatap wanita itu dengan wajah kesalnya. "Urus aja urusanmu!" bentaknya.
"Kasihan, Bu. Sepertinya dia udah tidak kuat lagi menahan rasa lapar." Wanita tersebut menatap Salma dari atas hingga ke bawah.
__ADS_1
"Kalian mau ke mana?" tanyanya lagi.
Salma menggelengkan kepalanya bingung. "Aku sendiri tak tahu harus ke mana. Bukan dia saja yang lapar, aku sendiri juga kelaparan," sungutnya.
Wanita itu akhirnya memasang wajah kasihan dan tersenyum dengan tulus. "Kalau begitu, mari singgah sejenak ke rumah saya. Kalau Ibu mau, Ibu bisa makan di rumah saya, meski tidak memiliki menu yang mewah," tawarnya.
Salma mengangkat wajahnya. Perasaan lelah dan kesalnya meluap begitu saja ketika ada yang bersedia menawarkan makanan tersebut kepadanya. "Beneran, Bu? Tidak apa saya makan di tempatnya Ibu?" tanya Salma memastikan.
"Ya, tentu. Jika Ibu tidak keberatan dengan menu yang ada di rumah saya yang sederhana," ucapnya.
Salma mengangguk cepat dan mereka pun segera menuju sebuah rumah yang berada tidak terlalu jauh dari sana. Tanpa basa basi, Salma menikmati makanan yang disuguhkan oleh si pemilik rumah.
Sementara itu, tuan rumah membuatkan susuformula yang memang sudah dibawa oleh Salma, sisa sussu yang diberikan oleh Ala.
"Aku tidak tahu, Bu. Aku baru saja diusir suami, dan orang yang katanya mau menolong malah menelantarkan kami berdua. Ternyata, tak ada orang yang benar-benar baik di dunia ini." Salma melanjutkan suapannya kembali.
"Waah, kasihan sekali kalian berdua," ucapnya mengusap pipi bayi yang menghisap dot dengan begitu kuat.
Setelah Salma menyelesaikan proses mengisi perutnya, ia pamit kepada pemilik rumah.
"Kalian mau ke mana? Masa tidak memiliki tujuan yang jelas? Kalau boleh tahu, kampung halamanmu di mana?"
__ADS_1
"Aku asli dari Solok, Bu. Ke kota ini karena ikut suami. Namun, pernikahan ini sungguh sangat menyiksaku. Setelah berusaha dengan cukup keras, suamiku malah mengucapkan talak dan mengusir kami. Bahkan dia tidak memedulikan anaknya yang masih bayi ini," ucap Salma memasang wajah sedih.
"Hmm, bagaimana kalau kamu kembali saja ke kampung halamanmu?"
Salma teringat kembali di saat ia dih1n4 oleh warga di kampung halamannya. "Dasar pelakor!"
"Udah rebut suami orang, malah dibuang!"
"Emangnya enak dapat karma karena merusak kebahagiaan orang lain?"
Ejekan itu kembali terngiang di telinganya. Hal itu lah yang menjadi alasan hingga membuat Salma tak mau kembali ke kampung halamannya.
"Saya merasa nyaman tinggal di kota ini, Bu. Saya akan mencoba mencari kerja demi memenuhi kebutuhan Syifa," ucapnya.
Sang tuan rumah menyelipkan amplop berisi sejumlah uang kepadanya. "Ini mungkin tidak lah banyak. Namun, semoga bermanfaat buat kalian," ucapnya.
"Jangan, Bu. Nggak usah," ucap Salma menolak pemberian wanita baik itu.
"Tidak apa. Ambil lah! Saya ikhlas," ucapnya.
"Terima kasih banyak, Bu. Semoga Allah melimpahkan rezeki bagi Ibu dan keluarga ya?" ucap Salma mulai beranjak.
__ADS_1
Salma menatap amplop yang ada di tangannya. Bibirnya terulas senyum penuh makna. "Sepertinya, tidak sulit mencari uang di kota ini," ucapnya menatap putrinya yang telah tenang dan nyaman karena perutnya telah kenyang.
"Hmmm, untuk sementara aku harus seperti ini menjelang mendapat suami yang baru. Ah, gagal dapat suami kaya dan tampan seperti orang tadi. Sepertinya memang Bang Syauqi lah jodoh yang diberi Tuhan kepadaku."