
Semua kembali terlihat berputar. "Ya, Allah ... Pusing sekali," ringisnya.
"Assalamualaikum." Terdengar suara dari luar rumah.
Namun, Ala sedang tidak berdaya untuk bangkit. Perutnya menjadi terasa sangat mual. Ia mencoba merangkak menuju kamar mandi, tetapi ...
"Huweek, huweek, huweeekk ...." Semua keluar tanpa sempat sampai ke kamar mandi berceceran di lantai.
Di luar terlihat Ummi dan adik-adiknya mondar mandir karena tidak mendengar jawaban.
"Apa Uni kalian sedang tidak ada di rumah?" tanya Ummi.
"Tadi, Apak bilang Uni sudah beberapa hari ini tidak ke Pondok. Aku khawatirnya Uni sedang sakit sendirian di sini," ucap Aulia si bungsu.
"Ummi juga khawatir dengan Uni kalian itu. Katanya dari kemarin tidak apa-apa. Tapi, Ummi tau bagaimana perasaan istri jika suami tersandung masalah. Apalagi, dia terlihat lelah akhir-akhir ini."
Ryzki, suami Alya mencoba menarik handle pintu rumah tersebut. "Ummi, nggak kunci," soraknya sedikit terkejut.
Lalu mereka semua berbondong masuk ke dalam rumah.
"Allahuakbar," pekik Ummi melihat putrinya terkulai bersandar pada dinding, wajah memutih pucat pasi, dan banyak sekali cairan yang membuat Alya yang tengah hamil tua turut merasa mual.
Ala merasa sangat lemah dan tidak berdaya saat adik-adiknya dan Ummi mendekatinya dengan kekhawatiran yang jelas terpancar di wajah mereka.
"Ya Allah, Ala. Apa yang terjadi padamu?" Ummi bertanya dengan suara gemetar, mencoba menenangkan Ala.
Ala hanya mampu menggelengkan kepala dengan lesu. "Aku merasa sangat buruk, Ummi. Kepalaku pusing sekali, tubuhku terasa lemas dan aku sangat mual. Aku tidak tahu apa yang terjadi."
Ryzki, suami Alya, segera mengambil tindakan. "Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang juga. Kondisinya mungkin membutuhkan perawatan medis dengan segera." Ryzki mencoba mengangkat tubuh kurus sang kakak ipar.
Dalam keadaan terburu-buru, mereka membantu Ala naik ke mobil dan segera menuju rumah sakit terdekat. Rasa cemas dan kekhawatiran memenuhi hati mereka sepanjang perjalanan.
__ADS_1
Setibanya di rumah sakit, Ala segera diperiksa oleh tim medis yang siap sedia menangani kondisinya. Ummi, Ryzki, dan kedua adik Ala menunggu dengan gelisah di ruang tunggu.
Waktu terasa berjalan sangat lambat, dan setiap detik terasa seperti berjam-jam bagi mereka yang menanti kabar tentang keadaan Ala. Mereka berdoa dalam hati, memohon agar Ala segera mendapatkan bantuan yang dibutuhkannya.
Akhirnya, dokter keluar dari ruangan pemeriksaan dan menghampiri keluarga Ala yang khawatir.
"Dokter, bagaimana keadaan anakku?" tanya Ummi dengan nada yang penuh kekhawatiran.
"Dia sedang menjalani pemeriksaan lebih lanjut, tapi sepertinya dia mengalami dehidrasi yang cukup parah. Kami akan memberikan terapi cairan intravena untuk membantu menghidrasi tubuhnya. Selain itu, kami juga akan melakukan beberapa tes untuk mencari tahu penyebab mualnya yang hebat," jelas dokter dengan penuh perhatian.
Ummi menarik nafas lega mendengar kabar tersebut, namun kekhawatiran tetap ada di dalam hatinya. Dia memandang menantu dan anak-anaknya dengan penuh harap.
"Kita harus tetap kuat, bersabar, dan mendukung Ala dalam masa sulit ini. Dia pasti stress atas kasus yang menimpa suaminya," ucap Ummi dengan suara tegas. "Kita harus saling menopang dan berdoa agar semuanya berjalan baik."
Seluruh orang yang berada di sana mengangguk, menunjukkan kesiagaan mereka terhadap keluarga Ala yang dirundung masalah yang cukup berat.
Rafatar duduk di dalam sel penahanan dengan yang tak henti-hentinya ingatan tentang istrinya terus melayang padanya. Hatinya penuh kekhawatiran dan rasa bersalah karena tidak bisa melindungi dan menemani Ala di saat-saat sulit seperti ini.
"Dalam sel ini, aku merasa terkurung dan tak berdaya," bisik Rafatar sambil menggenggam kenangan bersama Ala. "Sayang, kamu baik-baik saja, kan? Apakah kau tahu betapa aku merindukanmu dan kehadiranmu di sini? Aku terus memikirkanmu dan tak henti-hentinya berdoa agar kau dan bayi kita tetap kuat."
"Dalam kegelapan ini, aku berharap cahayamu tetap bersinar," lanjut Rafatar dengan suara lembut. "Aku berjanji akan berjuang untuk kebenaran, untuk keluarga kita. Biarlah kesetiaan dan cinta kita menjadi kekuatan yang menuntunku melalui masa sulit ini."
Setelah diperiksa oleh tim medis dan mendapatkan perawatan yang dibutuhkan, Ala ditemani oleh Ummi dan adik-adiknya duduk di ruang keluarga. Wajahnya masih pucat dan lemah, namun ada kekuatan dalam matanya yang memancarkan tekad untuk tetap kuat.
Ummi duduk di samping Ala, mengusap lembut punggungnya. "Ala, bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Ummi dengan penuh kekhawatiran.
Ala menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatannya. "Ummi, aku baik-baik aja. Tadi hanya sedikit kaget dengan apa yang terjadi tadi. Ummi jangan terlalu khawatir," ujarnya dengan suara lembut.
"Ternyata kamu lagi hamil, kenapa tidak mengabarkan kepada kami?" ucap Ummi.
Ala tersenyum tipis mendengar ucapan Ummi. "Aku hanya belum sempat menyampaikannya, Ummi. Tiba-tiba, rentetan masalah lain melanda kami, membuatku tak sempat menceritakan semuanya. Dan, begini lah. Semua terjadi begitu saja."
__ADS_1
"Kamu sabar, ya? Di balik semua ini, pasti akan ada hikmahnya." Ummu mengusap tangan Ala yang terlihat hanya sebatas tulang terbungkus kulit.
"Ala, untuk sementara, kamu tinggal bersama kami saja, ya? Agar kamu tidak sendirian. Ummi takut, hal yang sama terjadi kembali, dan jika tidak ada yang melihatmu, bagaimana? Jadi, hingga suamimu bebas, lebih baik kamu tinggal bersama kami," ucap Ummi.
"Tapi, Ummi?"
"Tak ada tapi-tapian! Pokoknya kamu harus tinggal bersama kami menjelang suamimu bebas. Lalu, untuk sementara waktu, Pondok Pesantrennya diurus Apak dulu. Nanti Aulia akan Ummi utus untuk mengecek Pondok kalau dia pulang dari kampusnya cepat.
"Tapi, apa Aulia bisa, Mi?" tanya Ala ragu.
"Ya, jika terpaksa dan terdesak, pasti bisa. Nanti tugas ringan-ringan aja dulu. Kalau berat dan dia tidak sanggup mengatasinya, Apak juga sibuk, dia bisa melapor padamu. Di sana juga ada Ustadz Candra kan? Dia pasti ringan tangan untuk membantu Aulia," terang Ummi.
Namun, raut wajah Ala masih terlihat ragu. Ia menatap adik bungsu yang masih tingkat ketiga di kampusnya, yang memang sengaja mengambil jurusan Psikologi Islam, di sebuah kampus Universitas Islam Negeri. Karna Ilmu psikologinya itu juga Aulia mengerti sang kakak sulung, terlihat meragukannya.
"Uni jangan khawatir, aku tidak akan menghancurkan Pondok kok. Insya Allah ... Uni bisa memercayai aku," ucap Aulia percaya diri.
Mendengar sang adik cukup confindence dengan apa yang akan dilakukannya, membuat Ala bisa sedikit percaya diri. "Baik lah. Nanti, jika kamu ada kendala, kamu bisa menyampaikannya kepada Uni. Uni akan segera pulih."
"Uni jangan khawatir. Benar kata Ummi. Kalau semua sudah dalam keadaan terjepit seperti ini, semuanya akan dituntut untuk bisa dan mampu. Tapi kalau aku bener-bener bingung, nanti aku tanya deh sama Uni," ucap Aulia lagi.
Ala tersenyum lega. "Terima kasih ya. Uni akan segera memulihkan kondisi, Uni," ucapnya.
*
*
*
Keesokan hari, Ala sudah diizinkan untuk pulang ke rumah. Ala yang masih cukup lemah, kini menggunakan kursi roda, menunggu pembayaran administrasi yang dilakukan oleh Ummi dan adiknya.
"Abiii! Lihat, di sana ada Tante yang waktu itu bikin Abi nangis ..."
__ADS_1
Terdengar suara anak kecil yang cukup kencang menarik tangan seorang pria yang wajahnya tertutup secara menyeluruh oleh perban.
"Humaira?"