Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 46


__ADS_3

Ala terkejut dengan tindakan Rafatar yang tiba-tiba. Dia merasa tidak siap untuk keintiman fisik seperti itu setelah perjalanan yang panjang. Wajahnya terlihat kaget dan sedikit bingung.


"Maafkan aku, Sayang," ucap Rafatar dengan cepat, menyadari bahwa dia telah melampaui batas.


"Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Aku hanya terbawa suasana dan terlalu bersemangat."


Ala menghela napas lega, merasa dihargai oleh respons Rafatar. "Uda baik-baik saja, kan? Aku tahu kamu menginginkanku, tapi kita perlu menghormati satu sama lain dan memberi ruang untuk kenyamanan masing-masing."


Rafatar mengangguk dengan penuh pengertian. "Baik lah, Sayang. Aku akan menghormati batasanmu dan tidak melakukan apa pun yang membuatmu tidak nyaman. Kita masih memiliki banyak waktu untuk menjalani bulan madu ini, dan aku ingin kita bisa menikmatinya dengan penuh kebahagiaan."


"Maaf ya? Aku pikir, karena kamu sudah pengalaman pada pernikahan sebelumnya, kamu akan mudah menerimaku." Ia menarik Ala duduk berdua di atas ranjang.


"Kamu tahu, dari dulu aku ingin memelukmu. Mungkin sekedar pelukan boleh ya?" wajah Rafatar mulai memelas.


Ala yang telah jelas memahami permintaan suami adalah kewajiban baginya, tentu tak bisa menolak. Tapi, rasa takut kembali terlintas dalam hatinya.


"Hmm, pe-peluk?" Ala mengangguk tapi berat. "Te-tentu." Ia membuka kedua tangannya antara jadi dan tidak jadi.


"Masih belum siap ternyata ya? Apa kamu mengingat sesuatu bila aku peluk?"


"Maaf, aku tidak bermaksud—"


Rafatar langsung mendekap sang istri kala Ala belum selesai mengucapkan apa yang ada dalam pikirannya. Awalnya Ala begitu tegang dan ingin memberontak, tangannya bersiap untuk mendorong tubuh Rafatar.


"Akhirnya ...."


Tangan yang tadinya telah bersiap mendorong, kini mematung.


"Kamu tahu, dari dulu aku ingin begini. Semenjak pertama kita bertemu kamu sebagai mahasiswi baru, aku merasakan getaran khusus dalam hatiku. Dan seiring berjalannya waktu, perasaan itu hanya semakin kuat. Aku ingin kita bisa lebih dekat, lebih dalam lagi, Ala. Aku ingin menjelajahi setiap aspek kehidupan ini bersamamu," bisik Rafatar dengan penuh kehangatan.


Tangan Ala turun menikmati kehangatan itu.


"Tapi, yang lebih penting dari itu, aku ingin menjadi pendampingmu, temanmu, dan pasangan hidupmu. Aku ingin menjadi sosok yang selalu ada untukmu, dalam suka dan duka. Aku ingin memberikanmu cinta yang tak terbatas dan kebahagiaan hingga maut lah yang nantinya bertugas memisahkan kita," lanjut Rafatar sambil mengusap kepala Ala dengan lembut.

__ADS_1


"Ah, apakah kamu tidak bosan menggunakan kerudung seperti ini?" Tangan Rafatar membentuk kode agar Ala membuka kerudungnya itu.


"Ah, ya ... Apa kamu terganggu dengan kerudung yang aku pakai?" ucap Ala mulai memperhatikan kerudungnya.


Cup


Rafatar menempelkan kecupan pada kening Ala, membuat ia terkejut. Ala mengangkat wajahnya kembali melihat pria yang hanya beberapa senti di depan wajahnya tengah tersenyum jahil.


"Uda?"


"Pahala lho buat kamu," ucap Rafatar kembali menahan senyumnya.


"Apa susah membuka kerudungmu itu? Kamu membutuhkan bantuanku?"


Ala terkekeh menggeleng tipis. "Ah, ternyata rasa penasaranmu sangat tinggi ya?" Ala beranjak hendak turun dari ranjang.


Akan tetapi, Rafatar menahan dan menyuruh Ala untuk duduk kembali. "Mau ke mana?"


"Kenapa harus ke kamar mandi segala? Kayak dengan orang lain aja? Apa kamu lupa, aku ini suami? Jadi, sudah halal bagimu melepas hijabmu dan aku juga tidak ada dos4 saat melihat semua yang ada padamu."


Ala menangkupkan kedua tangan di wajahnya. "Uda? Aku malu," hembusnya setengah berbisik.


"Maaf, sepertinya hanya aku yang paling penasaran untuk mengenalmu lebih dalam lagi." Rafatar memilih dirinya untuk turun dari ranjang dan segera masuk ke kamar mandi.


Ala memegang dadanya menahan diri dari debaran hebat yang telah dibuat oleh Rafatar. Beberapa kali ia menghela napas panjang. Ia benar-benar gugup karena antara suami yang dulu dengan yang sekarang sungguh jauh berbeda.


"Namun, sepertinya suami normal itu kayak Uda Rafatar. Apakah ini artinya benar-benar aku yang dia inginkan?"


Ala memutar kepalanya memperhatikan setiap sudut ruang kamar yang mereka tempati ini. Kamarnya cukup luas dan sangat nyaman. Sejenak, Ala merasa sedikit kedinginan, entah karena memang suhu pendingin yang terlalu rendah, atau memang karena suhu kota ini yang begitu sejuk.


"Hmmm, kalau lepas kerudung takut malah semakin dingin." Ala mengeluarkan isi tas yang berisi pakaian miliknya. Ia mencari kerudung instan untuk mengganti kerudung yang saat ini melekat menutupi kepala. Ala mulai membuka jarum yang menjadi pengikat kerudungnya satu per satu dan mulai menarik kerudung tersebut.


Ala merapikan rambutnya yang tadinya sedikit berantakan, lalu ia ingin mengikatnya kembali. Namun, ketika rambut itu akan diikat, sebuah tangan merebut pengikat rambut milik Ala dari belakang.

__ADS_1


Ala kaget dan memutar tubuh bergerak menarik kerudung yang tadi baru saja ia lepaskan. Kali ini, kerudung itu ditarik paksa oleh tangan yang merebut ikat rambut Ala tadi.


"Coba geraikan saja?" ucap orang itu yang tak lain suaminya.


Ala gugup menundukan kepalanya.


Rafatar berjongkok tepat pada arah Ala tertunduk. Di sana ia bisa melihat wajah mungil milik istrinya. Mata Ala liar melirik ke kiri dan ke kanan dengan rasa tak menentu.


"Cantik," puji Rafatar.


Dengan seketika Ala merasa panas dingin karena pujian itu, sehingga dengan refleks kedua tangannya menutup wajah. Rafatar bangkit dan kali ini duduk di sampig Ala. Ia memeluk Ala dan membelai rambut yang tidak terlalu lanjang itu.


"Kenapa masih malu? Ini suami kamu, Sayang," ucapnya lembut.


"I-iya, hanya saja aku tidak terbiasa. Bahkan, di rumah pun aku memaki kerudung kecuali dalam kamarku sendiri."


Rafatar menari tangan Ala, dan terlihat lah rona kemerahan pada pipi Ala. "Wah, aku merasa mendapat istri layaknya seorang perawan. Masih malu-malu gini? Harusnya janda itu serba tahu dan tidak canggung seperti ini."


Ala kembali menyembunyikan wajahnya. Jantungnya berdebar dengan sangat cepat.


"Duh, aku iri sama tanganmu, kenapa kamu selalu bersembunyi di sana? Padahal, aku punya ini, tempatmu bersandar dan bersembunyi." Rafatar memamerkan dada bidangnya.


"Ayo, sini! Malah aku kayak yang lebih berpengalaman dibanding kamu tau?" Rafatar menarik tangan Ala dan menariknya ke dalam pelukan.


"Bersandar lah di sana, kamu bisa menajadikan ini sebagai pelepas dari segala lelah yang kamu rasa." Rafatar mengusap pucuk ubun-ubun Ala.


"Allahumma baarikli fi ahli wa baarik li-ahli fiyya warzuqhum minni warzuqniy minhum.” (Ya Allah ya Tuhan, berkahilah aku dalam permasalahan keluargaku berilah keluargaku (istri dan keturunan) rezeki dariku, dan berilah aku rezeki dari mereka.)


Ia masih mengusap kepala Ala menambahkan dengan satu doa lagi. “Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira maa jabaltaha alaihi, wa a'udzubika min syarriha wa syarri maa jabaltaha alaihi.” (Ya Allah, aku memohon darimu kebaikan istriku dan kebaikan dari tabiat yang kau simpankan pada dirinya. Dan aku berlindung kepadamu dari keburukan istriku, dan keburukan dari tabiat yang Kau simpankan pada dirinya.)


Setelah itu pucuk kepala Ala ia tiup dan ia kecup dengan penuh cinta. Ala yang berada di dalam pelukan Rafatar, merasa begitu disayangi. Perlahan, tangan Ala melingkari tubuh Rafatar, membalas pelukan sang suami.


"Terima kasih, Uda. Terima kasih sudah memilihku menjadi istrimu. Mulai hari ini, aku akan menghilangkan keraguanku pada dirimu," rintihnya dalam haru.

__ADS_1


__ADS_2