Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 17


__ADS_3

"Bu, Ala pulang dulu yah?" Gadis itu merasa terlalu nyaman berada di rumah tempat sang suami tumbuh dan dewasa. Hingga tanpa ia sadari waktu sudah terlalu malam jika ia pulang sendirian.


"Ibu telepon suamimu ya? Biar dia yang menjemputmu pulang," ucap mertuanya.


Ala menggeleng cepat. "Tidak usah, Bu. Ala bisa naik taksi online aja. Ibu jangan khawatir."


"Duh, malah naik taksi online? Itu malah bikin Ibu makin kawatir." Ibu mertuanya bangkit masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian keluar dengan senyum ramah.


"Ayah yang mengantar pulang."


Ala menggeleng cepat. "Jangan, Bu. Ala tidak mau merepotkan Ayah juga."


"Tidak ada yang direpotkan. Kamu itu istri Uqi, ini berarti kamu juga anak kami. Apalagi kamu adalah anak almarhum Faisal, sahabat Ayah. Tidak mungkin ayah lepaskan begitu saja." Ayah memasang jaket dan menarik kunci mobil.


Ibu mertuanya pun mengantarkan mereka menuju mobil yang sudah ketinggalan masanya. Karena, kendaraan yang cukup baru, sudah diserahkan kepada anak mereka satu-satunya, sebagai alat transportasi bagi mereka berdua.


"Kendaraan ini memang sudah tua, tetapi kamu jangan khawatir. Dia masih sanggup untuk membawa kita ke rumah kalian berdua," ucap sang ayah mertua.


Ala mengangguk cepat tersenyum manis pada pria paruh baya itu. Ia menuju pintu di sampir pengemudi masuk tanpa menunggu aba-aba lagi.


"Ayah hati-hati ya bawa mobilnya." Ibu mertua melambaikan tangan kepada dua orang yang berada di mobil.


"Ibu jangan khawatir. Bismillahirrahmannirrahim." Ayah memutar kunci, terdengar deru berat mesin mobil tua itu.

__ADS_1


Kendaraan roda empat itu mulai bergerak meninggalkan rumah yang cukup besar keluarga Jaya ini. Kendaraan tua ini masih cukup tangguh menelusuri jalanan Kota Padang yang sudah mulai sepi.


"Humaira, kamu yang sabar ya? Walau dia terkesan cuek, sebenarnya dia itu orang yang lembut."


Ala hanya tersenyum kecut. Karena belum pernah satu kali pun ia merasakan kelembutan dari suaminya. Berbeda memang, dengan yang ia lihat saat bersama gadis di kafe dalam mall tersebut.


Di malam ini, kota Padang terhampar dalam kegelapan, hanya terang sorotan lampu jalan yang menyoroti kehidupan di sepanjang jalanan. Suasana jalanan kota Padang di malam hari memiliki aura yang unik dan memikat. Meskipun bukan kota metropolis yang penuh gemerlap, Padang memiliki pesonanya sendiri. Udara yang sejuk dan lembut menyelimuti jalanan, memberikan suasana yang nyaman dan tenang.


Di beberapa titik strategis, terdapat warung makan atau gerai makanan jalanan yang masih buka, menawarkan beragam hidangan lokal khas Padang. Bau harum rempah-rempah bercampur dengan aromanya yang menggugah selera, menggoda para penikmat kuliner untuk merasakan kelezatan kota ini. Meja-meja di luar tempat-tempat makan itu dihiasi oleh lampu sederhana, menciptakan suasana yang mengundang dan hangat.


Jalanan kota Padang di malam hari menampilkan keindahan yang berbeda. Suara langkah kaki di trotoar, suara bisik-bisik percakapan, dan riuh rendah dari tempat-tempat hiburan menambahkan kehidupan ke dalam keheningan malam. Meskipun terlihat lebih sepi daripada siang hari, tetapi jalanan ini tetap hidup dan penuh warna dengan kehadiran penduduk setia dan pengunjung yang


Ala merasa beruntung memiliki mertua yang baik hati. Seiring perjalanan pulang, ia mengobrol riang dengan ayah mertuanya, yang selalu memberikan dukungan dan kasih sayang kepadanya sejak hari pertama mereka bertemu. Ayah dengan sukarela mengantarkan Ala pulang setelah menyampaikan keluh kesahnya dari segala hal yang telah ia alami.


Ayah dengan lembut meletakkan tangannya di pundak Ala, memberikan kekuatan dan ketenangan. "Tenang, nak," kata beliau dengan suara lembut. "Mungkin ada sesuatu yang mendesak yang membuat Uqi pergi sejenak. Jangan khawatir, kita bisa menunggunya bersama-sama."


Ala merasa lega mendengar kata-kata itu dan menghargai ketenangan yang diberikan oleh ayah mertuanya. Mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu yang nyaman. Lampu kecil memberikan pencahayaan lembut, menciptakan suasana yang tenang di dalam rumah yang sepi.


Ala menawarkan secangkir teh hangat kepada ayah. Ia pun menyeruput teh hangat memberikan ketenangan fisik dan emosional dalam situasi yang sedang ia hadapi. Mereka duduk berdampingan di sofa, sambil bercakap-cakap mengenai hal kecil, kenangan Ayah bersama Abi.


Walaupun khawatir tentang keberadaan suaminya, kehadiran Ayah memberikan rasa aman bagi Ala. Ia merasa beruntung memiliki mertua yang peduli dan perhatian terhadap dirinya.


Saat menikmati waktu bersama, waktu berjalan perlahan. Pukul dua puluh tiga, pintu rumah tiba-tiba terbuka, dan Syauqi masuk dengan wajah lelah. Dia terperenjat melihat Ala tengah menunggunya bersama ayahnya.

__ADS_1


Syauqi segera menyalim tangan sang ayah, menatap Ala dengan penuh penyesalan. Kali ini ia berpuas hati menatap gadis yang hingga tadi pagi tak mau dilirik sedikit pun. Bibirnya masih terkunci. Ia tak tahu harus berkata apa.


Syauqi melirik Ala, istrinya, dengan perasaan sendu yang terpancar di matanya. Hatinya dipenuhi rasa bersalah yang mendalam. Baru saja ia menghabiskan waktu untuk menenangkan Salma, kekasihnya yang sangat terikat emosional dengannya. Salma mengancam akan bunuh diri karena ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa hubungan mereka harus berakhir.


Namun, Syauqi telah berkomitmen pada pernikahannya dengan Humaira. Ia tahu bahwa ia telah berbuat salah dan berada di persimpangan yang sulit. Rasa gundah dan kebingungan menguasai hatinya saat ia memikirkan dua wanita yang dicintainya.


Dalam keheningan hatinya, ia berbicara dalam batinnya, "Maafkan aku, Humaira." Ia menyadari bahwa tindakannya telah melukai hati Ala dan mengkhianati janji pernikahan mereka. Rasa yang harus dibuka untuk Ala kini kembali goyah oleh keputusannya yang terpaksa mempertahankan hubungan dengan Salma.


Syauqi merasa terjebak dalam keadaan yang rumit, terbagi antara kewajiban dan cinta yang masih ada pada Salma. Ia merasakan beban berat di pundaknya, karena ia tahu bahwa keputusannya akan memiliki konsekuensi yang dalam bagi semua pihak yang terlibat.


Setelah memastikan Syauqi sampai di rumah, Ayah pamit mohon diri untuk kembali ke rumah.


"Apa aku antar saja, Yah?" tawar Syauqi.


"Tidak usah, kamu jaga istrimu. Seharian ini dia bersama kami. Kamu harus menenangkannya dan mengobati luka atas perlakuanmu kepadanya selama ini."


"Sudah berapa kali Ayah katakan? Tinggalkan Salma! Sekarang kamu memiliki wanita yang halal bagimu. Bukan seperti dia."


Syauqi membisu, meskipun ayahnya berkata benar, tetapi ia cukup terluka kala Salma direndahkan oleh ayahnya.


Dalam keheningan malam yang sunyi, Syauqi memohon petunjuk dan kekuatan untuk menemukan jalan keluar yang benar. Ia sadar bahwa harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya dan memilih jalan yang paling baik bagi semua orang yang ia cintai.


Dalam keadaan batin yang terombang-ambing, Syauqi berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mencari jalan untuk memperbaiki kesalahannya, mencoba untuk lebih dekat lagi dengan istrinya, Humaira, dan menghormati komitmen pernikahan yang mereka miliki. Ia berharap dapat menyelesaikan situasi rumit ini dengan kebijaksanaan dan keadilan, serta menjaga hati semua orang yang terlibat.

__ADS_1


__ADS_2